<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agama Islam</title>
	<atom:link href="http://amnan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://amnan.wordpress.com</link>
	<description>Belajar Agama Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 May 2008 06:14:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='amnan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d42f40c43b4944b642f20f466c4bdcc9?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agama Islam</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kitab Thaharah</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-thaharah/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-thaharah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 06:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-thaharah/</guid>
		<description><![CDATA[-1
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. &#8220;Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi&#8217;i dan Ahmad juga meriwayatkannya.
-2
Dari Abu Said Al-Khudry [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=42&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>-1<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. &#8220;Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi&#8217;i dan Ahmad juga meriwayatkannya.</p>
<p>-2<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya (hakekat) air adalah suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Tiga dan dinilai shahih oleh Ahmad.</p>
<p>-3<br />
Dari Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya kecuali oleh sesuatu yang dapat merubah bau, rasa atau warnanya.&#8221; Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dianggap lemah oleh Ibnu Hatim.</p>
<p>-4<br />
Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi: &#8220;Air itu suci dan mensucikan kecuali jika ia berubah baunya, rasanya atau warnanya dengan suatu najis yang masuk di dalamnya.&#8221;</p>
<p>-5<br />
Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jika banyaknya air telah mencapai dua kullah maka ia tidak mengandung kotoran.&#8221; Dalam suatu lafadz hadits: &#8220;Tidak najis&#8221;. Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Ibnu Hibban.</p>
<p>-6<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Janganlah seseorang di antara kamu mandi dalam air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub.&#8221; Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-7<br />
Menurut Riwayat Imam Bukhari: &#8220;Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu kencing dalam air tergenang yang tidak mengalir kemudian dia mandi di dalamnya.&#8221;</p>
<p>-8<br />
Menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud: &#8220;Dan janganlah seseorang mandi junub di dalamnya.&#8221;</p>
<p>-9<br />
Seorang laki-laki yang bersahabat dengan Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang perempuan mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki dari sisa air perempuan, namun hendaklah keduanya menyiduk (mengambil) air bersama-sama. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa&#8217;i, dan sanadnya benar.</p>
<p>-10<br />
Dari Ibnu Abbas r.a: Bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah r.a. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.</p>
<p>-11<br />
Menurut para pengarang kitab Sunan: Sebagian istri Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mandi dalam satu tempat air, lalu Nabi datang hendak mandi dengan air itu, maka berkatalah istrinya: Sesungguhnya aku sedang junub. Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya air itu tidak menjadi junub.&#8221; Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-12<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah.&#8221; Dikeluarkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: &#8220;Hendaklah ia membuang air itu.&#8221; Menurut riwayat Tirmidzi: &#8220;Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah).</p>
<p>-13<br />
Dari Abu Qotadah Radliyallaahu &#8216;anhu Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-14<br />
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: &#8220;Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-15<br />
Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan.</p>
<p>-16<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila ada lalat jatuh ke dalam minuman seseorang di antara kamu maka benamkanlah lalat itu kemudian keluarkanlah, sebab ada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawar.&#8221; Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud dengan tambahan: &#8220;Dan hendaknya ia waspada dengan sayap yang ada penyakitnya.&#8221;</p>
<p>-17<br />
Dari Abu Waqid Al-Laitsi Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Anggota yang terputus dari binatang yang masih hidup adalah termasuk bangkai.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan beliau menyatakannya shahih. Lafadz hadits ini menurut Tirmidzi.</p>
<p>-18<br />
Dari Hudzaifah Ibnu Al-Yamani Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Janganlah kamu minum dengan bejana yang terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat dari keduanya, karena barang-barang itu untuk mereka di dunia sedang untukmu di akhirat.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-19<br />
Dari Ummu Salamah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Orang yang minum dengan bejana dari perak sungguh ia hanyalah memasukkan api jahannam ke dalam perutnya.&#8221; Muttafaq Alaih.</p>
<p>-20<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jika kulit binatang telah disamak maka ia menjadi suci.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim</p>
<p>-21<br />
Menurut riwayat Imam Empat: &#8220;Kulit binatang apapun yang telah disamak (ia menjadi suci).&#8221;</p>
<p>-22<br />
Dari Salamah Ibnu al-Muhabbiq Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Menyamak kulit bangkai adalah mensucikannya.&#8221; Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-23<br />
Maimunah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melewati seekor kambing yang sedang diseret orang-orang. Beliau bersabda: &#8220;Alangkah baiknya jika engkau mengambil kulitnya.&#8221; Mereka berkata: &#8220;Ia benar-benar telah mati.&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Ia dapat disucikan dengan air dan daun salam.&#8221; Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa&#8217;i.</p>
<p>-24<br />
Abu Tsa&#8217;labah al-Khusny berkata: &#8220;Saya bertanya, wahai Rasulullah, kami tinggal di daerah Ahlul Kitab, bolehkah kami makan dengan bejana mereka?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Janganlah engkau makan dengan bejana mereka kecuali jika engkau tidak mendapatkan yang lain. Oleh karena itu bersihkanlah dahulu dan makanlah dengan bejana tersebut.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-25<br />
Dari Imran Ibnu Hushoin Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan para sahabatnya berwudlu di mazadah (tempat air yang terbuat dari kulit binatang) milik seorang perempuan musyrik. Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.</p>
<p>-26<br />
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa bejana Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam retak, lalu beliau menambal tempat yang retak itu dengan pengikat dari perak. Diriwayatkan oleh Bukhari.</p>
<p>-27<br />
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang khamar (minuman memabukkan) yang dijadikan cuka. Beliau bersabda: &#8220;Tidak boleh.&#8221; Riwayat Muslim dan Tirmidzi. Menurut Tirmidzi hadits ini hasan dan shahih.</p>
<p>-28<br />
Darinya (Anas Ibnu Malik r.a), dia berkata: &#8220;Ketika hari perang Khaibar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memerintahkan Abu Thalhah, kemudian beliau berseru: &#8220;Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang engkau sekalian memakan daging keledai negeri (bukan yang liar) karena ia kotor.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-29<br />
Amru Ibnu Kharijah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi saw berkhotbah pada waktu kami di Mina sedang beliau di atas binatang kendaraannya, dan air liur binatang tersebut mengalir di atas pundakku. Dikeluarkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, dan dinilainya hadits shahih.</p>
<p>-30<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah mencuci pakaian bekas kami, lalu keluar untuk menunaikan shalat dengan pakaian tersebut, dan saya masih melihat bekas cucian itu. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-31<br />
Dalam Hadits riwayat Muslim: Aku benar-benar pernah menggosoknya (bekas mani) dari pakaian Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, kemudian beliau sholat dengan pakaian tersebut.</p>
<p>-32<br />
Dalam Lafadz lain hadits riwayat Muslim: Aku benar-benar pernah mengerik mani kering dengan kukuku dari pakaian beliau.</p>
<p>-33<br />
Dari Abu Samah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Bekas air kencing bayi perempuan harus dicuci dan bekas air kencing bayi laki-laki cukup diperciki dengan air.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa&#8217;i. Oleh Hakim hadits ini dinilai shahih.</p>
<p>-34<br />
Dari Asma binti Abu Bakar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda tentang darah haid yang mengenai pakaian: &#8220;Engkau kikis, engkau gosok dengan air lalu siramlah, baru kemudian engkau boleh sholat dengan pakaian itu.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-35<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Khaulah bertanya, wahai Rasulullah, meskipun darah itu tidak hilang? Beliau menjawab: &#8220;Engkau cukup membersihkannya dengan air dan bekasnya tidak mengapa bagimu.&#8221; Dikeluarkan oleh Tirmidzi dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-36<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu dari Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: &#8220;Seandainya tidak memberatkan atas umatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak (menggosok gigi dengan kayu aurok) pada setiap kali wudlu.&#8221; Dikeluarkan oleh Malik, Ahmad dan Nasa&#8217;i. Oleh Ibnu Khuzaimah dinilai sebagai hadits shahih, sedang Bukhari menganggapnya sebagai hadits muallaq.</p>
<p>-37<br />
Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-38<br />
Dari Ali Radliyallaahu &#8216;anhu tentang cara berwudlu Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, dia berkata: Beliau mengusap kepalanya satu kali. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Tirmidzi dan Nasa&#8217;i juga meriwayatkannya dengan sanad yang shahih, bahkan Tirmidzi menyatakan bahwa ini adalah hadits yang paling shahih pada bab tersebut.</p>
<p>-39<br />
Dari Abdullah Ibnu Zain Ibnu Ashim Radliyallaahu &#8216;anhu tentang cara berwudlu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengusap kepalanya dengan kedua tangannya dari muka ke belakang dan dari belakang ke muka. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-40<br />
Lafadz lain dalam riwayat Bukhari &#8211; Muslim disebutkan: Beliau mulai dari bagian depan kepalanya sehingga mengusapkan kedua tangannya sampai pada tengkuknya, lalu mengembalikan kedua tangannya ke bagian semula</p>
<p>-41<br />
Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu &#8216;anhu tentang cara berwudlu, ia berkata: Kemudian beliau mengusap kepalanya dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua telinganya dan mengusap bagian luar kedua telinganya dengan ibu jarinya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa&#8217;i. Ibnu Khuzaimah menggolongkannya hadits shahih.</p>
<p>-42<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu bangun dari tidur maka hendaklah ia menghisap air ke dalam hidungnya tiga kali dan menghembuskannya keluar karena setan tidur di dalam rongga hidung itu.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-43<br />
Dari dia pula: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu bangun dari tidurnya, maka janganlah ia langsung memasukkan tangannya ke dalam tempat air sebelum mencucinya tiga kali terlebih dahulu, sebab ia tidak mengetahui apa yang telah dikerjakan oleh tangannya pada waktu malam.&#8221; Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.</p>
<p>-44<br />
Laqith Ibnu Shabirah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sempurnakanlah dalam berwudlu, usaplah sela-sela jari, dan isaplah air ke dalam hidung dalam-dalam kecuali jika engkau sedang berpuasa.&#8221; Riwayat Imam Empat dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-45<br />
Menurut riwayat Abu Dawud: &#8220;Jika engkau berwudlu berkumurlah.&#8221;</p>
<p>-46<br />
Dari Utsman Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menyela-nyelai jenggotnya dalam berwudlu. Dikeluarkan oleh Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-47<br />
Abdullah ibnu Zaid berkata: Bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah diberi air sebanyak dua pertiga mud, lalu beliau gunakan untuk menggosok kedua tangannya. Dikeluarkan oleh Ahmad dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-48<br />
Dari dia pula: bahwa dia pernah melihat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengambil air untuk mengusap kedua telinganya selain air yang beliau ambil untuk mengusap kepalanya. Dikeluarkan oleh Baihaqi. Menurut riwayat Muslim disebutkan: Beliau mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa dari yang digunakan untuk mengusap kedua tangannya. Inilah yang mahfudh.</p>
<p>-49<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya umatku akan datang pada hari kiamat dalam keadaan wajah dan tangan yang berkilauan dari bekas wudlu. Maka barangsiapa di antara kamu yang dapat memperpanjang kilauannya hendaklah ia mengerjakannya. Muttafaq Alaihi, menurut riwayat Muslim.</p>
<p>-50<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Adalah Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam suka mendahulukan yang kanan dalam bersandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala hal. Muttafaq Alaihi</p>
<p>-51<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila kamu sekalian berwudlu maka mulailah dengan bagian-bagian anggotamu yang kanan.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Empat dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-52<br />
Dari Mughirah Ibnu Syu&#8217;bah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berwudlu, lalu beliau mengusap ubun-ubunnya, bagian atas sorbannya, dan kedua sepatunya. Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-53<br />
Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu &#8216;anhu tentang cara haji Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Mulailah dengan apa yang telah dimulai oleh Allah.&#8221; Diriwayatkan oleh Nasa&#8217;i dengan kalimat perintah, sedang Muslim meriwayatkannya dengan kalimat berita.</p>
<p>-54<br />
Dia berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam jika berwudlu mengalirkan air pada kedua siku-sikunya. Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-55<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidaklah sah wudlu seseorang yang tidak menyebut nama Allah.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-56<br />
Dalam hadits serupa yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Said Ibnu Zaid dan Abu Said, Ahmad berkata: Tidak dapat ditetapkan suatu hukum apapun berdasarkan hadits itu.</p>
<p>-57<br />
Dari Thalhah Ibnu Musharrif, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memisahkan antara berkumur dan hirup air melalui hidung. Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-58<br />
Dari Ali Radliyallaahu &#8216;anhu tentang cara wudlu: Kemudian Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berkumur dan menghisap air melalui hidung dengan telapak tangan yang digunakan untuk mengambil air. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa&#8217;i.</p>
<p>-59<br />
Dari Abdullah Ibnu Zaid Radliyallaahu &#8216;anhu tentang cara berwudlu: Kemudian beliau memasukkan tangannya, lalu berkumur, dan menghisap air melalui hidung satu tangan. Beliau melakukannya tiga kali. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-60<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melihat seorang laki-laki yang pada telapak kakinya ada bagian sebesar kuku yang belum terkena air, maka beliau bersabda: &#8220;Kembalilah, lalu sempurnakan wudlumu.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa&#8217;i.</p>
<p>-61<br />
Dari Anas r.a, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sho&#8217; hingg lima mud air. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-62<br />
Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudlu dengan sempurna, kemudian berdo&#8217;a: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hambaNya dan utusanNya,-kecuali telah dibukakan baginya pintu syurga yang delapan, ia dapat masuk melalui pintu manapun yang ia kehendaki.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dengan tambahan (doa): &#8220;Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu mensucikan diri.&#8221;</p>
<p>-63<br />
Mughirah Ibnu Syu&#8217;bah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam ketika beliau berwudlu aku membungkuk untuk melepas kedua sepatunya, lalu beliau bersabda: &#8220;Biarkanlah keduanya, sebab aku dalam keadaan suci ketika aku mengenakannya.&#8221; Kemudian beliau mengusap bagian atas keduanya. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-64<br />
Menurut riwayat Imam Empat kecuali Nasa&#8217;i: bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengusap sepatu bagian atas dan bawahnya. Dalam sanad hadits ini ada kelemahan.</p>
<p>-65<br />
Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Jikalau agama itu cukup dengan pikiran maka bagian bawah sepatu lebih utama untuk diusap daripada bagian atas. Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengusap punggung kedua sepatunya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik.</p>
<p>-66<br />
Shafwan Ibnu Assal berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah menyuruh kami jika kami sedang bepergian untuk tidak melepas sepatu kami selama tiga hari tiga malam lantaran buang air besar, kencing, dan tidur kecuali karena jinabat. Dikeluarkan oleh Nasa&#8217;i, Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. Lafadz menurut Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-67<br />
Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menetapkan tiga hari tiga malam untuk musafir (orang yang bepergian) dan sehari semalam untuk orang yang menetap &#8211;yakni dalam hal mengusap kedua sepatu. Riwayat Muslim.</p>
<p>-68<br />
Tsauban Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengirim pasukan tentara, beliau memerintahkan mereka agar mengusap ashoib &#8211;yaitu sorban-sorban dan tasakhin&#8211; yakni sepatu. Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim.</p>
<p>-69<br />
Dari Umar Radliyallaahu &#8216;anhu secara mauquf dan dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu secara marfu&#8217;: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu berwudlu sedang dia bersepatu maka hendaknya ia mengusap bagian atas keduanya dan sholat dengan mengenakannya tanpa melepasnya jika ia menghendaki kecuali karena jinabat.&#8221; Diriwayatkan oleh Daruquthni dan Hakim. Hadits shahih menurut Hakim.</p>
<p>-70<br />
Melalui Abu Bakrah dari Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam: Bahwa beliau memberikan kemudahan bagi musafir tiga hari tiga malam dan bagi mukim (orang yang menetap) sehari semalam, apabila ia telah bersuci dan memakai kedua sepatunya maka ia cukup mengusap bagian atasnya.&#8221; Diriwayatkan oleh Daruquthni dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-71<br />
Dari Ubay Ibnu Imarah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia bertanya: Ya Rasulullah, bolehkah aku mengusap kedua sepatuku? Rasul menjawab: &#8220;ya, boleh.&#8221; Ia bertanya: dua hari? Rasul menjawab: &#8220;ya, boleh.&#8221; Ia bertanya lagi: tiga hari? Rasul menjawab: &#8220;ya, boleh sekehendakmu.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan menyatakan bahwa hadits ini tidak kuat.</p>
<p>-72<br />
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: pernah para shahabat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada jamannya menunggu waktu isya&#8217; sampai kepala mereka terangguk-angguk (karena kantuk), kemudian mereka shalat dan tidak berwudlu. Dikeluarkan oleh Abu Dawud, shahih menurut Daruquthni dan berasal dari riwayat Muslim.</p>
<p>-73<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Fathimah binti Abu Hubaisy datang ke hadapan Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, sungguh, aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadlah) dan tidak pernah suci, bolehkah aku meninggalkan shalat? Rasul menjawab: &#8220;Tidak boleh, itu hanya penyakit dan bukan darah haid. Apabila haidmu datang tinggalkanlah shalat dan apabila ia berhenti maka bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi) lalu shalatlah.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-74<br />
Menurut Riwayat Bukhari: &#8220;Kemudian berwudlulah pada setiap kali hendak shalat.&#8221; Imam Muslim memberikan isyarat bahwa kalimat tersebut sengaja dibuang oleh Bukhari.</p>
<p>-75<br />
Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi, maka aku suruh Miqdad untuk menanyakan hal itu pada Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan bertanyalah ia pada beliau. Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menjawab: &#8220;Dalam masalah itu wajib berwudlu.&#8221; Muttafaq Alaihi, lafadznya menurut riwayat Bukhari.</p>
<p>-76<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudlu dahulu. Diriwayatkan oleh Ahmad dan dinilai lemah oleh Bukhari.</p>
<p>-77<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu merasakan sesuatu dalam perutnya, kemudian dia ragu-ragu apakah dia mengeluarkan sesuatu (kentut) atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid kecuali ia mendengar suara atau mencium baunya.&#8221; Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-78<br />
Thalq Ibnu Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Seorang laki-laki berkata: saya menyentuh kemaluanku, atau ia berkata: seseorang laki-laki menyentuh kemaluannya pada waktu shalat, apakah ia wajib berwudlu? Nabi menjawab: &#8220;Tidak, karena ia hanya sepotong daging dari tubuhmu.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Lima dan shahih menurut Ibnu Hibban. Ibnul Madiny berkata: Hadits ini lebih baik daripada hadits Busrah.</p>
<p>-79<br />
Dari Busrah binti Shofwan Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudlu.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Lima dan hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Imam Bukhari menyatakan bahwa ia adalah hadits yang paling shahih dalam bab ini.</p>
<p>-80<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: &#8220;Barangsiapa yang muntah atau mengeluarkan darah dari hidung (mimisan) atau mengeluarkan dahak atau mengeluarkan madzi maka hendaklah ia berwudlu lalu meneruskan sisa shalatnya, namun selama itu ia tidak berbicara.&#8221; Diriwayatkan oleh Ibnu Majah namun dianggap lemah oleh Ahmad dan lain-lain.</p>
<p>-81<br />
Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam : Apakah aku harus berwudlu setelah makan daging kambing? Beliau menjawab: &#8220;Jika engkau mau.&#8221; Orang itu bertanya lagi: Apakah aku harus berwudlu setelah memakan daging unta? Beliau menjawab: &#8220;Ya.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-82<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang memandikan mayyit hendaknya ia mandi dan barangsiapa yang membawanya hendaknya ia berwudlu.&#8221; Dikeluarkan oleh Ahmad, Nasa&#8217;i dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan, sedang Ahmad berkata: tak ada sesuatu yang shahih dalam bab ini.</p>
<p>-83<br />
Dari Abdullah Ibnu Abu Bakar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dalam surat yang ditulis Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam untuk Amr Ibnu Hazm terdapat keterangan bahwa tidak boleh menyentuh Al-Qur&#8217;an kecuali orang yang suci. Diriwayatkan oleh Malik dan mursal, Nasa&#8217;i dan Ibnu Hibban meriwayatkannya dengan maushul. hadits ini ma&#8217;lul.</p>
<p>-84<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap saat. Diriwayatkan oleh Muslim dan dita&#8217;liq oleh Bukhari.</p>
<p>-85<br />
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berbekam lalu shalat tanpa berwudlu. Hadits dikeluarkan dan dilemahkan oleh Daruquthni.</p>
<p>-86<br />
Dari Muawiyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Mata adalah tali pengikat dubur, maka apabila kedua mata telah tidur lepaslah tali pengikat itu.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani.</p>
<p>-87<br />
Ia menambahkan: &#8220;Dan barangsiapa tidur hendaknya ia berwudlu.&#8221; Tambahan dalam hadits ini menurut Abu Dawud dari hadits Ali Radliyallaahu &#8216;anhu tanpa sabda beliau: &#8220;Lepaslah tali pengikat itu.&#8221; Dalam kedua sanad ini ada kelemahan.</p>
<p>-88<br />
Menurut Riwayat Abu Dawud juga dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu dengan hadits marfu&#8217;: &#8220;Wudlu itu hanya wajib bagi orang-orang yang tidur berbaring.&#8221; Dalam sanadnya juga ada kelemahan.</p>
<p>-89<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Setan itu akan mendatangi seseorang di antara kamu pada saat dia shalat, lalu meniup pada duburnya dan membuatnya berkhayal seakan-akan ia telah kentut padahal ia tidak kentut. Jika ia mengalami hal itu maka janganlah ia membatalkan shalat sampai ia mendengar suara atau mencium baunya.&#8221; Dikeluarkan oleh al-Bazzar.</p>
<p>-90<br />
Hadits tersebut berasal dari shahih Bukhari-Muslim dari hadits Abdullah Ibnu Zaid.</p>
<p>-81<br />
Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam : Apakah aku harus berwudlu setelah makan daging kambing? Beliau menjawab: &#8220;Jika engkau mau.&#8221; Orang itu bertanya lagi: Apakah aku harus berwudlu setelah memakan daging unta? Beliau menjawab: &#8220;Ya.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-82<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang memandikan mayyit hendaknya ia mandi dan barangsiapa yang membawanya hendaknya ia berwudlu.&#8221; Dikeluarkan oleh Ahmad, Nasa&#8217;i dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan, sedang Ahmad berkata: tak ada sesuatu yang shahih dalam bab ini.</p>
<p>-83<br />
Dari Abdullah Ibnu Abu Bakar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dalam surat yang ditulis Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam untuk Amr Ibnu Hazm terdapat keterangan bahwa tidak boleh menyentuh Al-Qur&#8217;an kecuali orang yang suci. Diriwayatkan oleh Malik dan mursal, Nasa&#8217;i dan Ibnu Hibban meriwayatkannya dengan maushul. hadits ini ma&#8217;lul.</p>
<p>-84<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap saat. Diriwayatkan oleh Muslim dan dita&#8217;liq oleh Bukhari.</p>
<p>-85<br />
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berbekam lalu shalat tanpa berwudlu. Hadits dikeluarkan dan dilemahkan oleh Daruquthni.</p>
<p>-86<br />
Dari Muawiyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Mata adalah tali pengikat dubur, maka apabila kedua mata telah tidur lepaslah tali pengikat itu.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani.</p>
<p>-87<br />
Ia menambahkan: &#8220;Dan barangsiapa tidur hendaknya ia berwudlu.&#8221; Tambahan dalam hadits ini menurut Abu Dawud dari hadits Ali Radliyallaahu &#8216;anhu tanpa sabda beliau: &#8220;Lepaslah tali pengikat itu.&#8221; Dalam kedua sanad ini ada kelemahan.</p>
<p>-88<br />
Menurut Riwayat Abu Dawud juga dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu dengan hadits marfu&#8217;: &#8220;Wudlu itu hanya wajib bagi orang-orang yang tidur berbaring.&#8221; Dalam sanadnya juga ada kelemahan.</p>
<p>-89<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Setan itu akan mendatangi seseorang di antara kamu pada saat dia shalat, lalu meniup pada duburnya dan membuatnya berkhayal seakan-akan ia telah kentut padahal ia tidak kentut. Jika ia mengalami hal itu maka janganlah ia membatalkan shalat sampai ia mendengar suara atau mencium baunya.&#8221; Dikeluarkan oleh al-Bazzar.</p>
<p>-90<br />
Hadits tersebut berasal dari shahih Bukhari-Muslim dari hadits Abdullah Ibnu Zaid.</p>
<p>-91<br />
Hadits serupa juga terdapat dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah.</p>
<p>-92<br />
Menurut Hakim dari Abu Said dalam hadits marfu&#8217; : &#8220;Apabila setan datang kepada seseorang di antara kamu lalu berkata: Sesungguhnya engkau telah berhadats, hendaknya ia menjawab: Engkau bohong.&#8221; Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dengan lafadz: &#8220;Hendaknya ia mengatakan dalam hatinya sendiri.&#8221;</p>
<p>-93<br />
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam apabila masuk kakus (WC), beliau menanggalkan cincinnya. Diriwayatkan oleh Imam Empat tetapi dianggap ma&#8217;lul.</p>
<p>-94<br />
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam apabila masuk kakus beliau berdo&#8217;a: &#8220;Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hal-hal yang keji dan kotor.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.</p>
<p>-95<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Pernah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam masuk ke kakus, lalu aku dan seorang pemuda yang sebaya denganku membawakan bejana berisi air dan sebatang tongkat, kemudian beliau bersuci dengan air tersebut. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-96<br />
Dari Al-Mughirah Ibnu Syu&#8217;bah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda padaku: &#8220;Ambillah bejana itu.&#8221; Kemudian beliau pergi hingga aku tidak melihatnya, lalu beliau buang air besar. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-97<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jauhkanlah dirimu dari dua perbuatan terkutuk, yaitu suka buang air di jalan umum atau suka buang air di tempat orang berteduh.&#8221; Riwayat Imam Muslim.</p>
<p>-98<br />
Abu Dawud menambahkan dari Muadz r.a: &#8220;Dan tempat-tempat sumber air.&#8221; Lafadznya ialah: &#8220;Jauhkanlah dirimu dari tiga perbuatan terkutuk yaitu buang air besar di tempat-tempat sumber air, di tengah jalan raya, dan di tempat perteduhan.&#8221;</p>
<p>-99<br />
Dalam riwayat Ahmad Ibnu Abbas r.a: &#8220;Atau di tempat menggenangnya air.&#8221; Dalam kedua hadits di atas ada kelemahan.</p>
<p>-100<br />
Imam Thabrani mengeluarkan sebuah hadits yang melarang buang air besar di bawah pohon berbuah dan di tepi sungai yang mengalir. Dari hadits Ibnu Umar dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-101<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila dua orang buang air besar maka hendaknya masing-masing bersembunyi dan tidak saling berbicara, sebab Allah mengutuk perbuatan yang sedemikian.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad, hadits shahih menurut Ibnus Sakan dan Ibnul Qathan. Hadits ini ma&#8217;lul.</p>
<p>-102<br />
Dari Abu Qotadah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika sedang kencing, jangan membersihkan bekas kotorannya dengan tangan kanan, dan jangan pula bernafas dalam tempat air.&#8221; Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.</p>
<p>-103<br />
Salman Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam benar-benar telah melarang kami menghadap kiblat pada saat buang air besar atau kecil, atau ber-istinja&#8217; (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan, atau beristinja&#8217; dengan batu kurang dari tiga biji, atau beristinja&#8217; dengan kotoran hewan atau dengan tulang. Hadits riwayat Muslim.</p>
<p>-104<br />
Hadits menurut Imam Tujuh dari Abu Ayyub Al-Anshari Radliyallaahu &#8216;anhu berbunyi: &#8220;Janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.&#8221;</p>
<p>-105<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang hendak buang air hendaklah ia membuat penutup.&#8221; Riwayat Abu Dawud.</p>
<p>-106<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam jika telah keluar dari buang air besar, beliau berdo&#8217;a: &#8220;Aku mohon ampunan-Mu.&#8221; Diriwayatkan oleh Imam Lima. Hadits shahih menurut Abu Hatim dan Hakim.</p>
<p>-107<br />
Ibnu Mas&#8217;u d Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: &#8220;Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam hendak buang air besar, lalu beliau menyuruhku untuk mengambilkan tiga biji batu, kemudian saya hanya mendapatkan dua biji dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya membawakan kotoran binatang. Beliau mengambil dua biji batu tersebut dan membuang kotoran binatang seraya bersabda: &#8220;Ini kotoran menjijikkan.&#8221; Diriwayatkan oleh Bukhari. Ahmad dan Daruquthni menambahkan: &#8220;Ambilkan aku yang lain.&#8221;</p>
<p>-108<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang untuk beristinja&#8217; dengan tulang atau kotoran binatang, dan bersabda: &#8220;Keduanya tidak dapat mensucikan.&#8221; Riwayat Daruquthni dan hadits ini dinilai shahih.</p>
<p>-109<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sucikanlah dirimu dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya.&#8221; Riwayat Daruquthni.</p>
<p>-110<br />
Menurut riwayat Hakim: &#8220;Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan (tidak membasuh) air kencing.&#8221; Hadits ini sanadnya shahih.</p>
<p>-111<br />
Suraqah Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengajari kami tentang cara buang air besar yaitu agar kami duduk di atas kaki kiri dan merentangkan kaki kanan. Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-112<br />
Dari Isa Ibnu Yazdad dari ayahnya Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu telah selesai buang air kecil maka hendaknya ia mengurut kemaluannya tiga kali.&#8221; Riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-113<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam setelah bertanya kepada penduduk Quba, beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah memuji kamu sekalian.&#8221; Mereka berkata: Sesungguhnya kami selalu beristinja&#8217; dengan air setelah dengan batu. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanad yang lemah. Asal hadits ini ada dalam riwayat Abu Dawud.</p>
<p>-114<br />
Hadits tersebut dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu tanpa menyebut istinja&#8217; dengan batu.</p>
<p>-115<br />
Dari Abu said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Air itu dari air.&#8221; Riwayat Muslim yang berasal dari Bukhari.</p>
<p>-116<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seorang laki-laki duduk di antara empat bagian (tubuh) wanita lalu mencampurinya, maka ia telah wajib mandi.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-117<br />
Riwayat Muslim menambahkan: &#8220;Meskipun ia belum mengeluarkan (air mani).&#8221;</p>
<p>-118<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda tentang wanita yang bermimpi sebagaimana mimpinya seorang laki-laki, beliau bersabda: &#8220;Ia harus mandi.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-119<br />
Imam Muslim menambahkan: Ummu Salamah bertanya: Adakah hal ini terjadi? Nabi menjawab: &#8220;Ya, lalu darimana datangnya persamaan?&#8221;</p>
<p>-120<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam biasanya mandi karena empat hal: jinabat, hari Jum&#8217;at, berbekam dan memandikan mayit. Riwayat Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-121<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu tentang kisah tsamamah Ibnu Utsal ketika masuk Islam, Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menyuruhnya mandi. Riwayat Abdur Rozaq dan asalnya Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-122<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Mandi hari Jum&#8217;at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh.&#8221; Riwayat Imam Tujuh.</p>
<p>-123<br />
Dari Samurah Ibnu Jundab Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang berwudlu pada hari Jum&#8217;at berarti telah menjalankan sunnah dan sudah baik, dan barangsiapa yang mandi maka itu lebih utama.&#8221; Riwayat Imam Tujuh dan dinilai hasan oleh Tirmidzi.</p>
<p>-124<br />
Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam selalu membaca Al-Qur&#8217;an pada kami selama beliau tidak junub. Riwayat Imam Tujuh dan lafadznya dari Tirmidzi. Hadits ini shahih menurut Tirmidzi dan hasan menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-125<br />
Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu mendatangi istrinya (bersetubuh) kemudian ingin mengulanginya lagi maka hendaklah ia berwudlu antara keduanya.&#8221; Hadits riwayat Muslim.</p>
<p>-126<br />
Hakim menambahkan: &#8220;Karena wudlu itu memberikan semangat untuk mengulanginya lagi.&#8221;</p>
<p>-127<br />
Menurut Imam Empat dari &#8216;Aisyah r.a, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa menyentuh air. Hadits ini ma&#8217;lul.</p>
<p>-128<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam jika mandi karena jinabat akan mulai dengan membersihkan kedua tangannya, kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudlu, lalu mengambil air, kemudian memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut, lalu menyiram kepalanya tiga genggam air, kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci kedua kakinya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya dari Muslim.</p>
<p>-129<br />
Menurut Riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Maimunah: Kemudian beliau menyiram kemaluannya dan membasuhnya dengan tangan kiri, lalu menggosok tangannya pada tanah.</p>
<p>-130<br />
Dalam suatu riwayat: Lalu beliau menggosok tangannya dengan debu tanah. Di akhir riwayat itu disebutkan: Kemudian aku memberikannya saputangan namun beliau menolaknya. Dalam hadits itu disebutkan: Beliau mengeringkan air dengna tangannya.</p>
<p>-131<br />
Ummu Salamah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku bertanya, wahai Rasulullah, sungguh aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku harus membukanya untuk mandi jinabat? Dalam riwayat lain disebutkan: Dan mandi dari haid? Nabi menjawab: &#8220;Tidak, tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-132<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haid dan junub.&#8221; Riwayat bu Dawud dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-133<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu pula, dia berkata: Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dengan satu tempat air, tngna kami selalu bergantian mengambil air. Muttafaq Alaihi. Ibnu Hibban menambahkan: Dan tangan kami bersentuhan.</p>
<p>-134<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya di bawah setiap helai rambut terdapat jinabat. Oleh karena itu cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnya.&#8221; Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dan keduanya menganggap hadits ini lemah.</p>
<p>-135<br />
Menurut Ahmad dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu terdapat hadits serupa. Namun ada perawi yang tidak dikenal.</p>
<p>-136<br />
Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepad seorang pun sebelumku, yaitu aku ditolong dengan rasa ketakutan (musuhku) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci, maka siapapun menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-137<br />
Dan menurut Hadits Hudzaifah Radliyallaahu &#8216;anhu yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: &#8220;Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci.&#8221;</p>
<p>-138<br />
Menurut Ahmad dari Ali r.a: Dan dijadikan tanah bagiku sebagai pembersih.</p>
<p>-139<br />
Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku junub dan tidak mendapatkan air, maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang, kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini.&#8221; Lalu beliau menepuk tanah sekali, kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya, punggung kedua telapak tangan, dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.</p>
<p>-140<br />
Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya, lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.</p>
<p>-141<br />
Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku.&#8221; Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.</p>
<p>-142<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tanah itu merupakan alat berwudlu bagi orang Islam, meskipun ia tidak menjumpai air hingga sepuluh tahun. Maka jika ia telah mendapatkan air, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menggunakan air itu untuk mengusap kulitnya.&#8221; Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Shahih menurut Ibnul Qaththan dan mursal menurut Daruquthni.</p>
<p>-143<br />
Menurut riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar ada hadits serupa dengan hadits tersebut. Hadits tersebut shahih menurutnya.</p>
<p>-144<br />
Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Ada dua orang laki-laki keluar bepergian, lalu datanglah waktu shalat sedangkan mereka tidak mempunyai air, maka mereka bertayamum dengan tanah suci dan menunaikan shalat. Kemudian mereka menjumpai air pada waktu itu juga. Lalu salah seorang dari keduanya mengulangi shalat dan wudlu sedang yang lainnya tidak. Kemudian mereka menghadap Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulanginya: &#8220;Engkau telah melakukan sesuai sunnah dan shalatmu sudah sah bagimu.&#8221; Dan beliau bersabda kepada yang lainnya: &#8220;Engkau mendapatkan pahala dua kali.&#8221; Riwayat Abu Dawud dan Nasa&#8217;i.</p>
<p>-145<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu tentang firman Allah (Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan), beliau mengatakan: &#8220;Apabila seseorang mengalami luka-luka di jalan Allah atau terserang penyakit kudis lalu ia junub, tetapi dia takut akan mati jika dia mandi maka bolehlah baginya bertayammum.&#8221; Riwayat Daruquthni secara mauquf, marfu&#8217; menurut al-Bazzar, dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Hakim.</p>
<p>-146<br />
Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Salah satu dari pergelanganku retak. Lalu aku tanyakan pada Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan beliau menyuruhku agar aku mengusap di atas pembalutnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang amat lemah.</p>
<p>-147<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu tentang seorang laki-laki yang terluka pada kepalanya, lalu mandi dan meninggal. (Nabi bersabda: &#8220;Cukup baginya bertayammum dan membalut lukanya dengan kain kemudian mengusap di atasnya dan membasuh seluruh tubuhnya.&#8221; Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah. Di dalamnya ada perbedaan pendapat tentang para perawinya.</p>
<p>-148<br />
Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Termasuk sunnah Rasul adalah seseorang tidak menunaikan shalat dengan tayammum kecuali hanya untuk sekali shalat saja, kemudian dia bertayammum untuk shalat yang lain. Riwayat Daruquthni dengan sanad yang amat lemah.</p>
<p>-149<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy sedang keluar darah penyakit (istihadlah). Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam kepadanya: &#8220;Sesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang telah dikenal. Jika memang darah itu yang keluar maka berhentilah dari shalat, namun jika darah yang lain berwudlulah dan shalatlah.&#8221; Riwayat Abu Dawud dan Nasa&#8217;i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim. Abu Hatim mengingkari hadits ini.</p>
<p>-150<br />
Dalam hadits Asma binti Umais menurut riwayat Abu Dawud: &#8220;Hendaklah dia duduk dalam suatu bejana air. Maka jika dia melihat warna kuning di atas permukaan air hendaknya ia mandi sekali untuk Dhuhur dan Ashar, mandi sekali untuk Maghrib dan Isya&#8217;, dan mandi sekali untuk shalat subuh dan berwudlu antara waktu-waktu tersebut.&#8221;</p>
<p>-151<br />
Hamnah binti Jahsy berkata: Aku pernah mengeluarkan darah penyakit (istihadlah) yang banyak sekali. Maka aku menghadap Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam untuk meminta fatwanya. Beliau bersabda: &#8220;Itu hanya gangguan dari setan. Maka anggaplah enam atau tujuh hari sebagai masa haidmu kemudian mandilah. Jika engkau telah bersih shalatlah 24 atau 23 hari, berpuasa dan shalatlah karena hal itu cukup bagimu. Kerjakanlah seperti itu setiap bulan sebagaimana wanita-wanita yang haid. Jika engkau kuat untuk mengakhirkan shalat dhuhur dan mengawalkan shalat Ashar (maka kerjakanlah), kemudian engkau mandi ketika suci, dan engkau shalat Dhuhur dan Ashar dengan jamak. Kemudian engkau mengakhirkan shalat maghrib dan mengawalkan shalat Isya&#8217;, lalu engkau mandi pada waktu subuh dan shalatlah.&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Inilah dua hal yang paling aku sukai.&#8221; Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa&#8217;i. Shahih menurut Tirmidzi dan hasan menurut Bukhari.</p>
<p>-152<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Ummu Habibah binti Jahsy mengadukan pada Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tentang darah (istihadlah. Beliau bersabda: &#8220;Berhentilah (dari shalat) selama masa haidmu menghalangimu, kemudian mandilah.&#8221; Kemudian dia mandi untuk setiap kali shalat. Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-153<br />
Dalam suatu riwayat milik Bukhari: &#8220;Dan berwudlulah setiap kali shalat.&#8221; Hadits tersebut juga menurut riwayat Abu Dawud dan lainnya dari jalan yang lain.</p>
<p>-154<br />
Ummu Athiyyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami tidak menganggap apa-apa terhadap cairah keruh dan warna kekuningan setelah suci. Riwayat Bukhari dan Abu Dawud. Lafadznya milik Abu Dawud.</p>
<p>-155<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa orang yahudi jika ada seorang perempuan di antara mereka yang haid, mereka tidak mengajaknya makan bersama. Maka Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Kerjakanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-156<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah menyuruh kepadaku mengenakan kain, dan aku laksanakan, lalu beliau menyentuhkan badannya kepadaku, padahal aku sedang haid. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-157<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu dari Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tentang orang yang mencampuri istrinya ketika dia sedang haid. Beliau bersabda: &#8220;Ia harus bersedakan satu atau setengah dinar.&#8221; Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Hakim dan Ibnul Qaththan dan mauquf menurut yang lainnya.</p>
<p>-158<br />
Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Bukankah wanita itu jika datang haid tidak boleh shalat dan berpuasa.&#8221; Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.</p>
<p>-159<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Ketika kami telah tiba di desa Sarif (terletak di antara Mekah dan Madinah), aku datang bulan. Maka Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang haji, namun engkau jangan berthawaf di Baitullah sampai engkau suci.&#8221; Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.</p>
<p>-160<br />
Dari Muadz Ibnu Jabal Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Beliau menjawab: &#8220;Apa yang ada di atas kain.&#8221; Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Abu Dawud.</p>
<p>-161<br />
Ummu Salamah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Wanita-wanita yang sedang nifas pada masa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam meninggalkan shalat selama 40 hari semenjak darah nifasnya keluar. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa&#8217;i dan lafadznya dari Abu Dawud.</p>
<p>-162<br />
Dalam lafadz lain menurut riwayat Abu Dawud: Dan Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak menyuruh mereka mengqadla shalat yang mereka tinggalkan saat nifas. Hadits ini shahih menurut Hakim.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=42&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-thaharah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kitab Shalat</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-shalat/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 06:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-shalat/</guid>
		<description><![CDATA[-1
Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning, waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=41&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>-1<br />
Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning, waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam, dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-2<br />
Menurut riwayat Muslim dari hadits Buraidah tentang waktu shalat Ashar. &#8220;Dan matahari masih putih bersih.&#8221;</p>
<p>-3<br />
Dari hadits Abu Musa: &#8220;Dan matahari masih tinggi.&#8221;</p>
<p>-4<br />
Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya&#8217;, tidak suka tidur sebelumnya dan bercakap-cakap setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya, beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-5<br />
Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya&#8217; pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya, sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menunaikannya pada saat masih gelap.</p>
<p>-6<br />
Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.</p>
<p>-7<br />
Rafi&#8217; Ibnu Kharij Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami pernah shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam kemudian salah seorang di antara kami pulang dan ia masih dapat melihat tempat jatuhnya anak panah miliknya. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-8<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Pada suatu malam pernah Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengakhirkan shalat Isya&#8217; hingga larut malam. Kemudian beliau keluar dan shalat, dan bersabda: &#8220;Sungguh inilah waktunya jika tidak memberatkan umatku.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-9<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila panas sangat menyengat, maka tunggulah waktu dingin untuk menunaikan shalat karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-10<br />
dari Rafi&#8217; Ibnu Khadij Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena ia lebih besar pahalanya bagimu.&#8221; Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.</p>
<p>-11<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-12<br />
Menurut riwayat Muslim dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu ada hadits serupa, beliau bersabda: &#8220;Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.&#8221; Kemudian beliau bersabda: &#8220;Sekali sujud itu adalah satu rakaat.&#8221;</p>
<p>-13<br />
Dari Abu Said Al-Khudry bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak ada shalat (sunat) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.&#8221; Muttafaq Alaihi. Dalam lafadz Riwayat Muslim: &#8220;Tidak ada shalat setelah shalat fajar.&#8221;</p>
<p>-14<br />
Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit, yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat, dan ketika matahari hampir terbenam.</p>
<p>-15<br />
Dan hukum kedua menurut Imam Syafi&#8217;i dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah ada tambahan: Kecuali hari Jum&#8217;at.</p>
<p>-16<br />
Begitu juga menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Qotadah terdapat hadits yang serupa.</p>
<p>-17<br />
Dari Jubair Ibnu Muth&#8217;im bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja, baik malam maupun siang.&#8221; Riwayat Imam Lima dan shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.</p>
<p>-18<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Syafaq ialah awan merah.&#8221; Riwayat Daruquthni. Shahih menurut Ibnu Khuzaimah selain menyatakannya mauquf pada Ibnu Umar.</p>
<p>-19<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Fajar itu ada dua macam, yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat, yakni shalat Shubuh, dan diperbolehkan makan makanan.&#8221; Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim, hadits shahih menurut keduanya.</p>
<p>-20<br />
Menurut riwayat Hakim dari hadits Jabir ada hadits serupa dengan tambahan tentang fajar yang mengharamkan memakan makanan: &#8220;Fajar yang memanjang di ufuk.&#8221; Dalam riwayat lain disebutkan: &#8220;Dia seperti ekor serigala.&#8221;</p>
<p>-21<br />
Dari Ibnu Mas&#8217;ud Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya.&#8221; Hadits riwayat dan shahih menurut Tirmidzi dan Hakim. Asalnya Bukhari-Muslim.</p>
<p>-22<br />
Dari Abu Mahdzurah bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Permulaan waktu adalah ridlo Allah, pertengahannya adalah rahmat Allah, dan akhir waktunya ampunan Allah.&#8221; Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-23<br />
Menurut Riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar ada hadits serupa tanpa menyebutkan waktu pertengahan. Ia juga hadits lemah.</p>
<p>-24<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasululah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat (Shubuh).&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Nasa&#8217;i. Dalam suatu riwayat Abdur Razaq: &#8220;Tidak ada shalat setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat fajar.&#8221;</p>
<p>-25<br />
Dan hadits serupa menurut Daruquthni dari Amr Ibnul &#8216;Ash r.a.</p>
<p>-26<br />
Ummu Salamah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam shalat Ashar lalu masuk rumahku, kemudian beliau shalat dua rakaat. Maka aku menanyakannya dan beliau menjawab: &#8220;Aku sibuk sehingga tidak sempat melakukan dua rakaat setelah Dhuhur, maka aku melakukan sekarang.&#8221; Aku bertanya: Apakah kami harus melakukan qodlo&#8217; jika tidak melakukannya? Beliau bersabda: &#8220;Tidak.&#8221; Dikeluarkan oleh Ahmad.</p>
<p>-27<br />
Seperti hadits itu juga terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari &#8216;Aisyah r.a.</p>
<p>-28<br />
Abdullah Ibnu Zaid Ibnu Abdi Rabbih berkata: Waktu saya tidur (saya bermimpi) ada seseorang mengelilingi saya seraya berkata: Ucapkanlah &#8220;Allahu Akbar Allahu Akbar, lalu ia mengucapkan adzan empat kali tanpa pengulangan dan mengucapkan qomat sekali kecuali &#8220;qod Qoomatish sholaat&#8221;. Ia berkata: Ketika telah shubuh aku menghadap Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya ia adalah mimpi yang benar.&#8221; Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-29<br />
Ahmad menambahkan pada akhir hadits tentang kisah ucapan Bilal dalam adzan Shubuh: &#8220;Shalat itu lebih baik daripada tidur.&#8221;</p>
<p>-30<br />
Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas r.a, ia berkata: Termasuk sunnah adalah bila muadzin pada waktu fajar telah membaca hayya &#8216;alash sholaah, ia mengucapkan assholaatu khairum minan naum</p>
<p>-31<br />
Dari Abu Mahdzurah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengajarinya adzan lalu beliau menyebut tarji&#8217; (mengulangi dua kali). Dikeluarkan oleh Muslim namun ia hanya menyebutkan takbir dua kali pada permulaan adzan. Riwayat Imam Lima dengan menyebut takbir empat kali.</p>
<p>-32<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat qomat kecuali kalimat iqomat, yakni qod qoomatish sholaah. Muttafaq Alaihi, tetapi Muslim tidak menyebut pengecualian.</p>
<p>-33<br />
Menurut riwayat Nasa&#8217;i: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal (untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan qomat).</p>
<p>-34<br />
Abu Juhaifah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah melihat Bilal adzan, dan aku perhatikan mulutnya kesana kemari (komat kamit dan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.</p>
<p>-35<br />
Menurut Ibnu Majah: Dia menjadikan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya.</p>
<p>-36<br />
Menurut Riwayat Abu Dawud: Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri ketika sampai pada ucapan &#8220;hayya &#8216;alash sholaah&#8221;, dan dia tidak memutar tubuhnya. Asal hadits tersebut dari Bukhari-Muslim.</p>
<p>-37<br />
Dari Abu Mahdzurah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam kagum dengan suaranya, kemudian beliau mengajarinya adzan. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-38<br />
Jabir Ibnu Samurah berkata: Aku shalat dua I&#8217;ed (Fitri dan Adha) bukan sekali dua kali bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, tanpa adzan dan qomat. Riwayat Muslim.</p>
<p>-39<br />
Hadits serupa juga ada dalam riwayat Muttafaq Alaihi dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu dan dari yang lainnya.</p>
<p>-40<br />
Dari Abu Qotadah Radliyallaahu &#8216;anhu dalam hadits yang panjang tentang mereka yang meninggalkan shalat karena tidur, kemudian Bilal adzan, maka Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam shalat sebagaimana yang beliau lakukan setiap hari. Hadits riwayat Muslim.</p>
<p>-41<br />
Dalam riwayat Muslim yang lain dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tiba di kota Mudzalifah, beliau shalat Maghrib dan Isya&#8217; dengan satu adzan dan dua qomat.</p>
<p>-42<br />
Hadits riwayat Muslim dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menjamak shalat Maghrib dan Isya&#8217; dengan satu kali qomat. Abu Dawud menambahkan: Untuk setiap kali shalat. Dalam riwayat lain: Tidak diperintahkan adzan untuk salah satu dari dua shalat tersebut.</p>
<p>-43<br />
Dari Ibnu Umar dan &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya Bilal akan beradzan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Maktum beradzan. Ia (Ibnu Maktum) adalah laki-laki buta yang tidak akan beradzan kecuali setelah dikatakan kepadanya: Engkau telah masuk waktu Shubuh, engkau telah masuk waktu Shubuh.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-44<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Bilal beradzan sebelum fajar, lalu Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menyuruhnya kembali pulang, kemudian berseru: &#8220;Ingatlah, bahwa hamba itu butuh tidur.&#8221; Diriwayatkan dan dianggap hadits lemah oleh Abu Dawud.</p>
<p>-45<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila engkau sekalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-46<br />
Dalam riwayat Bukhari dari Muawiyah Radliyallaahu &#8216;anhu terdapat hadits yang semisalnya.</p>
<p>-47<br />
Menurut Riwayat Muslim dari Umar Radliyallaahu &#8216;anhu tentang keutamaan mengucapkan kalimat per kalimat sebagaimana yang diucapkan oleh sang muadzin, kecuali dua hai&#8217;alah (hayya &#8216;alash sholaah dan hayya &#8216;alal falaah) maka hendaknya mengucapkan la haula wala quwwata illa billah.</p>
<p>-48<br />
Utsman Ibnu Abul&#8217;Ash Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Wahai Rasulullah, jadikanlah aku sebagai imam mereka, perhatikanlah orang yang paling lemah dan angkatlah seorang muadzin yang tidak menuntut upah dari adzannya.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Lima. Hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim.</p>
<p>-49<br />
Dari Malik Ibnu Huwairits Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah bersabda pada kami: &#8220;Bila waktu shalat telah tiba, maka hendaklah seseorang di antara kamu menyeru adzan untukmu sekalian.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.</p>
<p>-50<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda kepada Bilal: &#8220;Jika engkau menyeru adzan perlambatlah dan jika engkau qomat percepatlah, dan jadikanlah antara adzan dan qomatmu itu kira-kira orang yang makan telah selesai dari makannya.&#8221; Hadits diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Tirmidzi</p>
<p>-51<br />
Dalam riwayatnya pula dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak diperkenankan adzan kecuali orang yang telah berwudlu.&#8221; Hadits tersebut juga dinilai lemah.</p>
<p>-52<br />
Dalam riwayatnya yang lain dari Ziyad Ibnul Harits bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;barangsiapa yang telah adzan, maka dia yang akan qomat.&#8221; Hadits ini juga dinilai lemah.</p>
<p>-53<br />
Menurut riwayat Abu Dawud dari hadits Abdullah Ibnu Zaid, bahwa dia berkata: Aku telah memimpikannya, yaitu mimpi beradzan, dan aku menginginkannya. Maka Rasulullah saw bersabda: &#8220;Baik, qomatlah engkau.&#8221; Hadits ini juga lemah.</p>
<p>-54<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Muadzin itu lebih berhak untuk adzan dan imam itu lebih berhak untuk qomat.&#8221; Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Ibnu Adiy.</p>
<p>-55<br />
Menurut riwayat Baihaqi ada hadits semisal dari Ali Radliyallaahu &#8216;anhu dari perkataannya sendiri.</p>
<p>-56<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Doa antara adzan dan qomat itu tidak akan ditolak.&#8221; Riwayat Nasa&#8217;i dan dianggap lemah oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-57<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang ketika mendengar adzan berdoa: Allaahumma robba haadzihi da&#8217;watit taammati, was sholaatil qooimati, aati Muhammadanil washiliilata wal fadliilata, wab &#8216;atshu maqooman mahmuudal ladzi wa&#8217;adtahu (artinya: Ya Allah Tuhan panggilan yang sempurna dan sholat yang ditegakkan, berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangunkanlah beliau dalam tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan), maka dia akan memperoleh syafaat dariku pada hari Kiamat.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Empat.</p>
<p>-58<br />
Dari Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu kentut dalam sholat, maka hendaknya ia membatalkan sholat, berwudlu, dan mengulangi sholatnya.&#8221; Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-59<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Allah tidak akan menerima sholat seorang perempuan yang telah haid (telah baligh kecuali dengan memakai kudung.&#8221; Riwayat Imam Lima kecuali Nasa&#8217;i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-60<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: &#8220;Apabila kain itu lebar maka berkudunglah dengannya -yakni dalam sholat&#8221;.- Menurut riwayat Muslim: &#8220;Maka selempangkanlah di antara dua ujungnya dan apabila sempit maka bersarunglah dengannya.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-61<br />
Menurut riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu beliau bersabda: &#8220;Janganlah seseorang di antara kamu sholat dengan memakai selembar kain yang sebagian dari kain itu tidak dapat ditaruh di atas bahunya.&#8221;</p>
<p>-62<br />
Dari Ummu Salamah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam: Bolehkah seorang perempuan sholat dengan memakai baju panjang dan kerudung tanpa sarung? Beliau bersabda: &#8220;Boleh apabila baju panjang itu lebar menutupi punggung atas kedua kakinya.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Para Imam Hadits menilainya mauquf.</p>
<p>-63<br />
Amir Ibnu Rabi&#8217;ah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami pernah bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dalam suatu malam yang gelap, maka kami kesulitan menentukan arah kiblat, lalu kami sholat. Ketika matahari terbit ternyata kami telah sholat ke arah yang bukan kiblat, maka turunlah ayat (Kemana saja kamu menghadap maka disanalah wajah Allah). Riwayat Tirmidzi. Hadits lemah menurutnya.</p>
<p>-64<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Ruang antara Timur dan Barat adalah Kiblat.&#8221; Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dikuatkan oleh Bukhari.</p>
<p>-65<br />
Amir Ibnu Rabi&#8217;ah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. Muttafaq Alaihi. Bukhari menambahkan: Beliau memberi isyarat dengan kepalanya, namun beliau tidak melakukannya untuk sholat wajib.</p>
<p>-66<br />
Dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Anas Radliyallaahu &#8216;anhu : Apabila beliau bepergian kemudian ingin sholat sunat, maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah kiblat. Beliau takbir kemudian sholat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap. Sanadnya hasan.</p>
<p>-67<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Bumi itu seluruhnya masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.&#8221; Riwayat Tirmidzi, tetapi ada cacatnya.</p>
<p>-68<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang untuk sholat di tujuh tempat: tempat sampah, tempat penyembelihan hewan, pekuburan, tengah jalan, kamar mandi/WC, kandang unta, dan di atas Ka&#8217;bah. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dinilai lemah olehnya.</p>
<p>-69<br />
Abu Murtsad Al-Ghonawy berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Janganlah engkau sholat menghadap kuburan dan jangan pula engkau duduk di atasnya.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-70<br />
Dari Abu Said Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu mendatangi masjid hendaklah ia memperhatikan, jika ia melihat kotoran atau najis pada kedua sandalnya hendaklah ia membasuhnya dan sholat dengan mengenakannya.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-71<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu menginjak najis dengan sepatunya maka sebagai pencucinya ialah debu tanah.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-72<br />
Dari Muawiyah Ibnul Hakam Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya sholat ini tidak layak di dalamnya ada suatu perkataan manusia. Ia hanyalah tasbih, takbir dan bacaan al-Qur&#8217;an.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-73<br />
Zaid Ibnu Arqom berkata: Kami benar-benar pernah berbicara dalam sholat pada jaman Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, salah seorang dari kami berbicara dengan temannya untuk keperluannya, sehingga turunlah ayat (Peliharalah segala sholat(mu), dan sholat yang tengah dan berdirilah untuk Allah dengan khusyu&#8217;), lalu kami diperintahkan untuk diam dan kami dilarang untuk berbicara. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.</p>
<p>-74<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tasbih itu bagi laki-laki dan tepuk tangan itu bagi wanita.&#8221; Muttafaq Alaihi. Muslim menambahkan: &#8220;Di dalam sholat.&#8221;</p>
<p>-75<br />
Dari Mutharrif Ibnu Abdullah Ibnus Syikhir dari ayahnya, dia berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sedang sholat, dan di dadanya ada suara seperti suara air yang mendidih karena menangis. Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.</p>
<p>-76<br />
Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku mempunyai dua pintu masuk kepada Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, maka jika aku mendatanginya ketika beliau sholat, beliau akan berdehem buatku. Diriwayatkan oleh Nasa&#8217;i dan Ibnu Majah.</p>
<p>-77<br />
Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku bertanya pada Bilal: Bagaimana engkau melihat cara Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menjawab salam mereka ketika beliau sedang sholat? Bilal menjawab: Begini. Dia membuka telapak tangannya. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.</p>
<p>-78<br />
Abu Qotadah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Pernah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat sambil menggendong Umamah putri Zainab. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya dan jika beliau berdiri, beliau menggendongnya. Muttafaq Alaihi. Dalam riwayat Muslim: Sedang beliau mengimami orang.</p>
<p>-79<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Bunuhlah dua binatang hitam dalam sholat, yaitu ular dan kalajengking.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.</p>
<p>-80<br />
Dari Abu Juhaim Ibnul Harits Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya, maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya.&#8221; Muttafaq Alaihi dalam lafadznya menurut Bukhari. Menurut riwayat Al-Bazzar dari jalan lain: &#8220;(lebih baik berdiri) Empat puluh tahun.&#8221;</p>
<p>-81<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah ditanya pada waktu perang Tabuk tentang batas bagi orang yang sholat. Beliau menjawab: &#8220;Seperti tiang di bagian belakang kendaraan.&#8221; Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-82<br />
Dari Sabrah Ibnu Ma&#8217;bad al-Juhany bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Hendaknya seseorang di antara kamu membuat batas pada waktu sholat walaupun hanya dengan anak panah.&#8221; Dikeluarkan oleh Hakim.</p>
<p>-83<br />
Dari Abu Dzar Al-Ghifary Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Yang akan memutuskan sholat seorang muslim bila tidak ada tabir di depannya seperti kayu di bagian belakang kendaraan adalah wanita, keledai, dan anjing hitam.&#8221; Di dalam hadits disebutkan: &#8220;Anjing hitam adalah setan.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Muslim.</p>
<p>-84<br />
Menurut riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu terdapat hadits semisal tanpa menyebut anjing.</p>
<p>-85<br />
Menurut riwayat Abu Dawud dan Nasa&#8217;i dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu ada hadits semisal tanpa menyebutkan kalimat akhir (yaitu anjing) dan membatasi wanita dengan yang sedang haid.</p>
<p>-86<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang, lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau, perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan.&#8221; Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa dia bersama setan.</p>
<p>-87<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaklah ia membuat sesuatu di depannya, jika ia tidak mendapatkan hendaknya ia menancapkan tongkat, jika tidak memungkinkan hendaknya ia membuat garis, namun hal itu tidak mengganggu orang yang lewat di depannya.&#8221; Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Shahih menurut Ibnu Hibban. Hadits ini hasan dan tidak benar jika orang menganggapnya hadits mudltorib.</p>
<p>-88<br />
Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak akan menghentikan sholat suatu apapun (jika tidak ada yang menghentikan), cegahlah sekuat tenagamu.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Dalam sanadnya ada kelemahan.</p>
<p>-89<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang orang yang sholat bertolak pinggang. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim. Artinya: Orang itu meletakkan tangannya pada pinggangnya.</p>
<p>-90<br />
Dalam riwayat Bukhari dari &#8216;Aisyah: Bahwa cara itu adalah perbuatan orang Yahudi dalam sembahyangnya.</p>
<p>-91<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila makan malam telah dihidangkan, makanlah dahulu sebelum engkau sholat Maghrib.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-92<br />
Dari Abu Dzar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jika seseorang di antara kamu mendirikan sholat maka janganlah ia mengusap butir-butir pasir (yang menempel pada dahinya) karena rahmat selalu bersamanya.&#8221; Riwayat Imam Lima dengan sanad yang shahih. Ahmad menambahkan: &#8220;Usaplah sekali atau biarkan.&#8221;</p>
<p>-93<br />
Dalam hadits shahih dari Mu&#8217;aiqib ada hadits semisal tanpa alasan.</p>
<p>-94<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tentang (hukumnya) menoleh dalam sholat. Beliau menjawab: &#8220;Ia adalah copetan yang dilakukan setan terhadap sholat hamba.&#8221; Riwayat Bukhari. Menurut hadits shahih Tirmidzi: &#8220;Hindarilah dari berpaling dalam shalat karena ia merusak, jika memang terpaksa lakukanlah dalam sholat sunat.&#8221;</p>
<p>-95<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu sembahyang sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya.&#8221; Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan: &#8220;Atau di bawah telapak kakinya.&#8221;</p>
<p>-96<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Adalah tirai milik &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu menutupi samping rumahnya. Maka Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: &#8220;Singkirkanlah tiraimu ini dari kita, karena sungguh gambar-gambarnya selalu mengangguku dalam sholatku.&#8221; Riwayat Bukhari.</p>
<p>-97<br />
Bukhari-Muslim juga menyepakati hadits dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu tentang kisah kain anbijaniyyah (yang dihadiahkan kepada Nabi dari) Abu Jahm. Dalam hadits itu disebutkan: &#8220;Ia melalaikan dalam sholatku.&#8221;</p>
<p>-98<br />
Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Hendaklah benar-benar berhenti orang-orang yang memandang langit waktu sholat atau pandangan itu tidak kembali kepada mereka.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-99<br />
Menurut riwayat dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak diperbolehkan sholat di depan hidangan makanan dan tidak diperbolehkan pula sholat orang yang menahan dua kotoran (muka dan belakang.&#8221;</p>
<p>-100<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Menguap itu termasuk perbuatan setan, maka bila seseorang di antara kamu menguap hendaklah ia menahan sekuatnya.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dengan tambahan: &#8220;Dalam sholat.&#8221;</p>
<p>-101<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung dan hendaknya dibersihkan dan diharumkan. Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi menilainya hadits mursal.</p>
<p>-102<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Allah memusuhi orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid.&#8221; Muttafaq Alaihi. Muslim menambahkan: &#8220;Dan orang-orang Nasrani.&#8221;</p>
<p>-103<br />
Menurut Bukhari-Muslim dari hadits &#8216;Aisyah r.a: &#8220;Apabila ada orang sholeh di antara mereka yang meninggal dunia, mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid.&#8221; Dalam hadits itu disebutkan: &#8220;Mereka itu berakhlak buruk.&#8221;</p>
<p>-104<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah mengirim pasukan berkuda, lalu mereka datang membawa seorang tawanan, mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-105<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Umar Radliyallaahu &#8216;anhu melewati Hassan yang sedang bernyanyi di dalam masjid, lalu ia memandangnya. Maka berkatalah Hassan: Aku juga pernah bernyanyi di dalamnya, dan di dalamnya ada orang yang lebih mulia daripada engkau. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-106<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang mendengar ada seseorang yang mencari barang hilang di masjid, hendaknya mengatakan: Allah tidak mengembalikannya kepadamu karena sesungguhnya masjid itu tidak dibangun untuk hal demikian.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-107<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jika engkau melihat seseorang berjual beli di dalam masjid, maka katakanlah padanya: (Semoga Allah tidak menguntungkan perdaganganmu.&#8221; Riwayat Nasa&#8217;i dam Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi.</p>
<p>-108<br />
Dari Hakim Ibnu Hizam Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak diperbolehkan melaksanakan hukuman had di dalam masjid dan begitu pula tuntut bela di dalamnya.&#8221; Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-109<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Sa&#8217;ad terluka pada waktu perang khandaq, lalu Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mendirikan tenda untuknya di dalam masjid agar beliau dapat menengoknya dari dekat. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-110<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menghalangiku ketika aku sedang melihat orang-orang habasyah tengah bermain di dalam masjid. Hadits Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-111<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa seorang budak perempuan hitam mempunyai tenda di dalam masjid, ia sering datang kepadaku dan bercakap-cakap denganku. Hadits Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-112<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak akan terjadi kiamat hingga orang-orang berbangga-bangga dengan (kemegahan) masjid.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-113<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Aku tidak diperintahkan untuk menghiasi masjid.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-114<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku, sampai pahala orang yang membuang kotoran dari masjid.&#8221; Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits Gharib menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-115<br />
Dari Abu Qotadah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jika seseorang di antara kamu memasuki masjid maka janganlah ia duduk kecuali setelah sembahyang dua rakaat. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-116<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudlu&#8217;, lalu bacalah (ayat) al-Quran yang mudah bagimu, lalu ruku&#8217;lah hingga engkau tenang (tu&#8217;maninah dalam ruku&#8217;, kemudian bangunlah hingga engkau tegak berdiri, lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud, kemudian bangunlah hingga engkau tenang dalam duduk, lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam dalam sholatmu seluruhnya.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Tujuh lafadznya menurut riwayat Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad dari Muslim: &#8220;Hingga engkau tenang berdiri.&#8221;</p>
<p>-117<br />
Hal serupa terdapat dalam hadits Rifa&#8217;ah Ibnu Rafi&#8217; menurut riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban: &#8220;Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali (seperti semula).&#8221;</p>
<p>-118<br />
Menurut riwayat Nasa&#8217;i dan Abu Dawud dari hadits Rifa&#8217;ah Ibnu Rafi&#8217;i: &#8220;Sungguh tidak sempurnah sholat seseorang di antara kamu kecuali dia menyempurnakan wudlu&#8217; sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, kemudian ia takbir dan memuji Allah.&#8221; Dalam hadits itu disebutkan: &#8220;Jika engkau hafal Qur&#8217;an bacalah, jika tidak bacalah tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (la illaaha illallah).&#8221;</p>
<p>-119<br />
Menurut riwayat Abu Dawud: &#8220;Kemudian bacalah Al-fatihah dan apa yang dikehendaki Allah.&#8221;</p>
<p>-120<br />
Menurut riwayat Ibnu hibban: &#8220;Kemudian (bacalah) sekehendakmu.&#8221;</p>
<p>-121<br />
Abu Hamid Assa&#8217;idy Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam takbir beliau mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya, bila ruku&#8217; beliau menekankan kedua tangannya pada kedua lututnya kemudian meratakan punggungnya, bila mengangkat kepalanya beliau berdiri tegak hingga tulang-tulang punggungnya kembali ke tempatnya, bila sujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak mencengkeram dan mengepalkan jari-jarinya dan menghadapkan ujung jari-jari kakinya ke arah kiblat, bila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan meluruskan (menegakkan) kaki kanan, bila duduk pada rakaat terakhir beliau majukan kakinya yang kiri dan meluruskan kaki yang kanan, dan beliau duduk di atas pinggulnya. Dikeluarkan oleh Bukhari.</p>
<p>-122<br />
Dari Ali bin Abu Thalib Radliyallaahu &#8216;anhu dari Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam: Bahwa bila beliau menjalankan sholat, beliau membaca: &#8220;Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang telah menciptakan langit dan bumi &#8211;hingga kalimat&#8211; dan aku termasuk orang-orang muslim, Ya Allah Engkaulah raja, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkaulah Tuhanku dan aku hamba-Mu&#8211; sampai akhir. Hadits riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Bahwa bacaan tersebut dalam shalat malam.</p>
<p>-123<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila telah bertakbir untuk sholat beliau diam sejenak sebelum membaca (al-fatihah). Lalu aku tanyakan hal itu kepadanya. Beliau menjawab: &#8220;Aku membaca doa: Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana telah Engkau jauhkan antara Timur dengan Barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana telah Engkau bersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan embun.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-124<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa (setelah bertakbir) beliau biasanya membaca: &#8220;Maha suci Engkau Ya Allah, dengan pujian terhadap-Mu, Maha berkah nama-Mu, tinggi kebesaran-Mu, dan tidak ada Tuhan selain diri-Mu.&#8221; Riwayat Muslim dengan sanad yang terputus (hadits munqothi&#8217;). Riwayat Daruquthni secara maushul dan mauquf.</p>
<p>-125<br />
Hadits serupa dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu yang diriwayatkan oleh Imam Lima secara marfu&#8217;. Dalam hadits itu disebutkan: Beliau biasanya setelah takbir membaca: &#8220;Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaannya, tipuannya dan rayuannya.&#8221;</p>
<p>-126<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam biasanya membuka sholat dengan takbir dan memulai bacaan dengan alhamdulillaahi rabbil &#8216;alamiin (segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam). Bila beliau ruku&#8217; beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya tetapi pertengahan antara keduanya; bila beliau bangkit dari ruku&#8217; beliau tidak akan bersujud sampai beliau berdiri tegak; bila beliau mengangkat kepalanya dari sujud beliau tidak akan bersujud lagi sampai beliau duduk tegak; pada setiap 2 rakaat beliau selalu membaca tahiyyat; beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan meluruskan kakinya yang kanan; beliau melarang duduk di atas tumit yang ditegakkan dan melarang meletakkan kedua sikunya seperti binatang buas; beliau mengakhiri sholat dengan salam. Hadits ma&#8217;lul dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-127<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya ketika beliau memulai shalat, ketika bertakbir untuk ruku&#8217;, dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku&#8217;. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-128<br />
Dalam hadits Abu Humaid menurut riwayat Abu Dawud: Beliau mengangkat kedua tangannya sampai lurus dengan kedua bahunya, kemudian beliau bertakbir.</p>
<p>-129<br />
Dalam riwayat Muslim dari Malik Ibnu al-Huwairits ada hadits serupa dengan hadits Ibnu Umar, tetapi dia berkata: sampai lurus dengan ujung-ujung kedua telinganya.</p>
<p>-130<br />
Wail Ibnu Hujr berkata: Aku pernah sholat bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam beliau meletakkan tangannya yang kanan di atas tangannya yang kiri pada dadanya. Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah</p>
<p>-131<br />
Dari Ubadah Ibnu al-Shomit bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur&#8217;an (al-fatihah).&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-132<br />
Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban dan Daruquthni: &#8220;Tidak sah sholat yang tidak dibacakan al-fatihah di dalamnya.&#8221;</p>
<p>-133<br />
Dalam hadits lain riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban: &#8220;Barangkali engkau semua membaca di belakang imammu?&#8221; Kami menjawab: Ya. Beliau bersabda: &#8220;Jangan engkau lakukan kecuali membaca al-fatihah, karena sungguh tidak sah sholat seseorang tanpa membacanya.&#8221;</p>
<p>-134<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan Umar memulai sholat dengan (membaca) alhamdulillaahi rabbil &#8216;alamiin. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-135<br />
Muslim menambahkan: Mereka tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim baik pada awal bacaan maupun akhirnya.</p>
<p>-136<br />
Dalam suatu riwayat Ahmad, Nasa&#8217;i dan Ibnu Khuzaimah disebutkan: Mereka tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim dengan suara keras.</p>
<p>-137<br />
Dalam suatu hadits lain riwayat Ibnu Khuzaimah: Mereka membaca dan amat pelan. (Pengertian ini &#8211;membaca dengan amat pelan&#8211; diarahkan pada pengertian tidak membacanya seperti pada hadits riwayat Muslim yang tentunya berbeda dengan yang menyatakan bahwa hadits ini ma&#8217;lul).</p>
<p>-138<br />
Nu&#8217;aim al-Mujmir berkata: Aku pernah sembahyang di belakang Abu Hurairah r.a. Dia membaca (bismillaahirrahmaanirrahiim), kemudian membaca al-fatihah, sehingga setelah membaca (waladldlolliin) dia membaca: Amin. Setiap sujud dan ketika bangun dari duduk selalu membaca Allaahu Akbar. Setelah salam dia mengatakan: Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh aku adalah orang yang paling mirip sholatnya dengan Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam Riwayat Nasa&#8217;i dan Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-139<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila kamu membaca al-fatihah maka bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim, karena ia termasuk salah satu dari ayatnya.&#8221; Riwayat Daruquthni yang menggolongkannya hadits mauquf.</p>
<p>-140<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila selesai membaca Ummul Qur&#8217;an (al-fatihah) beliau mengangkat suaranya dan membaca: &#8220;Amin.&#8221; Hadits hasan diriwayatkan oleh Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim.</p>
<p>-141<br />
Ada pula hadits serupa dalam riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi daari hadits Wail Ibnu Hujr.</p>
<p>-142<br />
Abdullah Ibnu Aufa Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam seraya berkata: Sungguh aku ini tidak bisa menghafal satu ayat pun dari al-Qur&#8217;an, maka ajarilah diriku sesuatu yang cukup bagiku tanpa harus menghapal al-Qur&#8217;an. Beliau bersabda: &#8220;Bacalah subhanallaah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, walaa haula walaa quwwata illa billaahil &#8216;aliyyil &#8216;adziim (artinya= Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi lagiMaha Agung).&#8221; Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa&#8217;i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban, Daruquthni dan Hakim.</p>
<p>-143<br />
Abu Qotadah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam selalu sholat bersama kami, pada dua rakaat pertama dalam sholat Dhuhur dan Ashar beliau membaca al-Fatihah dan dua surat, dan kadangkala memperdengarkan kepada kami bacaan ayatnya, beliau memperpanjang rakaat pertama dan hanya membaca al-fatihah dalam dua rakaat terakhir.</p>
<p>-144<br />
Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami pernah mengukur lama berdirinya Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dalam sholat Dhuhur dan Ashar. Setelah kami ukur bahwa lama berdirinya dalam dua rakaat pertama sholat Dhuhur sekitar lamanya membaca (Alif Laam Mim. Tanziil) al-Sajadah. Dan dalam dua rakaat terakhir sekitar setengahnya, dalam dua rakaat pertama sholat Ashar seperti dua rakaat terakhir sholat Dhuhur dan dua rakaat terakhir setengahnya. Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-145<br />
Sulaiman Ibnu Yasar berkata: Ada seseorang yang selalu memanjangkan dua rakaat pertama sholat Dhuhur dan memendekkan sholat Ashar, dia membaca surat-surat mufasshol yang pendek dalam sholat maghrib, surat-surat mufasshol pertengahan dalam sholat Isya&#8217; dan surat-surat mufasshol yang panjang dalam sholat Shubuh. Kemudian Abu Hurairah berkata: Aku belum pernah sholat makmum dengan orang yang sholatnya lebih mirip dengan sholat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam selain orang ini. Dikeluarkan oleh Nasa&#8217;i dengan sanad shahih.</p>
<p>-146<br />
Jubair Ibnu Muth&#8217;im Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam membaca surat At-Thur dalam sholat maghrib. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-147<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dalam sholat Shubuh pada hari jum&#8217;at biasanya membaca (Alif Laam Mim Tanziil) Al-Sajadah dan (Hal ataa &#8216;alal insaani). Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-148<br />
Menurut riwayat Thabrani dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud: Beliau selalu membaca surat tersebut.</p>
<p>-149<br />
Hudzaifah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku sholat bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, setiap melewati bacaan ayat tentang rahmat beliau berhenti untuk berdoa meminta rahmat dan setiap melewati bacaan tentang adzab beliau berhenti untuk berdoa meminta perlindungan dari-Nya. Dikeluarkan oleh Imam Lima. Hadits hasan menurut Tirmidzi.</p>
<p>-150<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca al-Qur&#8217;an sewaktu ruku&#8217; dan sujud, adapun sewaktu ruku&#8217; agungkanlah Tuhan dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena besar harapan akan dikabulkan do&#8217;amu. Riwayat Muslim.</p>
<p>-151<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dalam ruku&#8217; dan sujudnya membaca: &#8220;subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii (artinya Maha Suci Engkau, ya Allah Tuhan kami dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku).&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-152<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam apabila sholat beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku&#8217;, lalu membaca &#8220;sami&#8217;allaahu liman hamidah&#8221; (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) ketika beliau mengangkat tulang punggungnya dari ruku&#8217;. Saat berdiri beliau membaca &#8220;rabbanaa walakal hamdu&#8221; (Ya Tuhan kami hanya bagi-Mu segala puji), kemudian beliau melakukan demikian seluruhnya dalam sholat, dan bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk tahiyyat.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-153<br />
Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam jika telah mengangkat kepalanya dari ruku&#8217;, beliau berdo&#8217;a &#8220;(artinya = Ya Allah Tuhan kami, segala puji bagi-Mu sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemilik puji dan kemuliaan segala yang diucapkan oleh hamba. Kami semua menghambakan diri pada-Mu. Ya Allah tidak ada yang kuasa menolak apa yang Engkau cegah dan tidak bermanfaat keagungan bagi yang memiliki keagungan karena keagungan itu dari Engkau juga).&#8221; Hadits riwayat Muslim.</p>
<p>-154<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang pada dahi. Beliau menunjuk dengan tangannya pada hidungnya, kedua tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung jari kedua kaki.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-155<br />
Dari Ibnu Buhainah bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam apabila sholat dan sujud merenggangkan kedua tangannya sehingga tampak putih kedua ketiaknya. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-156<br />
Dari al-Barra Ibnu &#8216;Azib Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila engkau sujud letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua siku-sikumu.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-157<br />
Dari Wail Ibnu Hujr Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila ruku&#8217; merenggangkan jari-jarinya dan bila sujud merapatkan jari-jarinya. Diriwayatkan oleh Hakim.</p>
<p>-158<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat dengan duduk bersila. Riwayat Nasa&#8217;i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-159<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam antaraa dua sujud biasanya membaca: &#8220;allaahummagh firlii, warhamnii, wahdinii, wa &#8216;afinii, war zugnii (artinya = Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah diriku, berilah petunjuk padaku, limpahkan kesehatan padaku dan berilah rizqi padaku).&#8221; Diriwayatkan oleh Imam Empat kecuali Nasa&#8217;i dengan lafadz hadits menurut Abu Dawud. Shahih menurut Hakim.</p>
<p>-160<br />
Dari Malik Ibnu al-Huwairits Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia pernah melihat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sedang sholat, apabila beliau dalam rakaat ganjil dari sholatnya beliau tidak bangkit berdiri sebelum duduk dengan tegak. Hadits riwayat Bukhari.</p>
<p>-161<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah berqunut setelah ruku&#8217; selama sebulan untuk mendoakan kebinasaan sebagian bangsa Arab kemudian beliau meninggalkannya. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-162<br />
Ada hadits serupa riwayat Ahmad dan Daruquthni dari jalan lain tetapi dengan tambahan: Adapun dalam sholat Shubuh beliau selalu berqunut hingga meninggal dunia.</p>
<p>-163<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak berqunut kecuali jika beliau mendoakan kebaikan atas suatu kaum atau mendoakan kebinasaan atas suatu kaum. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-164<br />
Sa&#8217;id Ibnu Thariq Al-Asyja&#8217;y Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku berkata pada ayahku: Wahai ayahku, engkau benar-benar pernah sholat di belakang (bermakmum) Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, Abu bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Apakah mereka berqunut dalam sholat Shubuh? Ayahku menjawab: Wahai anakku, itu adalah sesuatu yang baru. Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Abu Dawud.</p>
<p>-165<br />
Hasan Ibnu Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam telah mengajariku kata-kata untuk dibaca dalam qunut witir yaitu (artinya = Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berti petunjuk, berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang telah Engkau beri kesehatan, pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin, berilah aku berkah atas segala hal yang Engkau berikan, selamatkanlah aku dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan karena hanya Engkaulah yang menghukum dan tidak ada hukuman atas-Mu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau tolong, Maha Berkah Engkau Tuhan kami dan Maha Tinggi). Riwayat Imam Lima. Thabrani dan Baihaqi menambahkan: (artinya = Tidak akan mulia orang yang telah Engkau murkai). Hadits riwayat Nasa&#8217;i dari jalan lain menambahkan pada akhirnya: (artinya = Semoga sholawat Allah Ta&#8217;ala selalu terlimpah atas Nabi).</p>
<p>-166<br />
Menurut riwayat Baihaqi bahwa Ibnu Abbas berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengajari kami doa untuk dibaca dalam qunut pada sholat Shubuh. Dalam sanadnya ada kelemahan.</p>
<p>-167<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Bila salah seorang di antara kamu sujud maka janganlah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.&#8221; Dikeluarkan oleh Imam Tiga. Hadits ini lebih kuat dibandingkan hadits Wail Ibnu Hujr.</p>
<p>-168<br />
Aku melihat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam apabila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dikeluarkan oleh Imam Empat. Hadits pertama mempunyai seorang saksi dari hadits Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu yang dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah. Bukhari menyebutnya dalam keadaan mu&#8217;allaq mauquf.</p>
<p>-169<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam apabila duduk untuk tasyahhud meletakkan tangannya yang kiri di atas lututnya yang kiri dan tangannya yang kanan di atas lututnya yang kanan, beliau membuat genggaman lima puluh tiga, dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya. Riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Beliau menggenggam seluruh jari-jarinya dan menunjuk dengan jari yang ada di sebelah ibu jari.</p>
<p>-170<br />
Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berpaling pada kami kemudian bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaknya ia membaca: (Artinya = Segala penghormatan, sholawat, dan kebaikan itu hanya bagi Allah semata. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya), kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia sukai lalu berdoa dengan doa itu.&#8221; Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari. Menurut riwayat Nasa&#8217;i: Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud itu diwajibkan atas kami. Menurut riwayat Ahmad: bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam telah mengajarinya tasyahhud dan beliau memerintahkan agar mengajarkannya kepada manusia.</p>
<p>-171<br />
Menurut riwayat Muslim bahwa Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kami tasyahhud: (artinya = Segala kehormatan yang penuh berkah, sholawat kebaikan hanya bagi Allah semata&#8230; sampai akhir).</p>
<p>-172<br />
Fadlolah Ibnu Ubaidah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang berdo&#8217;a dalam sholatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca sholawat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, maka bersabdalah beliau: &#8220;Orang ini tergesa-gesa.&#8221; Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu sholat maka hendaknya ia memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjung-Nya, kemudian membaca sholat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, lalu berdoa dengan do&#8217;a yang dikehendakinya.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam Tiga. Hadits shahih menurut Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim.</p>
<p>-173<br />
Dari Abu Mas&#8217;ud bahwa Basyir Ibnu Sa&#8217;ad bertanya: Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bersholawat padamu, bagaimanakah cara kami bersholawat padamu? beliau diam kemudian bersabda: &#8220;Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim. Di seluruh alam ini Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung), kemudian salam sebagaimana yang telah kamu ketahui.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan: &#8220;Bagaimanakah cara kami bersholawat padamu, jika kami bersholawat padamu pada waktu sholat.&#8221;</p>
<p>-174<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan pada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: (Artinya = Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan pada-Mu dari siksa neraka jahannam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati, dan dari fitnah dajjal).&#8221; Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim disebutkan: &#8220;Jika seseorang antara kamu telah selesai dari tasyahhud akhir.&#8221;</p>
<p>-175<br />
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia berkata kepada Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam: Ajarkanlah padaku doa yang aku baca dalam sholatku. Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-176<br />
Wail Ibnu Hujr Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, beliau salam ke sebelah kanan dan kiri dengan (ucapan): Assalamu&#8217;alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh (artinya = Semoga salam sejahtera atasmu beserta rahmat Allah dan berkah-Nya). Riwayat Abu Dawud dengan sanad shahih.</p>
<p>-177<br />
Dari al-Mughirah Ibnu Syu&#8217;bah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada setiap selesai sholat fardlu selalu membaca: (artinya = Tidak ada Tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tiada orang yang kuasa menolak terhadap apa yang Engkau berikan, dan tiada orang yang kuasa memberi terhadap apa yang Engkau cegah, dan tiada bermanfaat segala keagungan karena keagungan itu hanyalah dari Engkau). Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-178<br />
Dari Sa&#8217;ad Ibnu Waqqash Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam setiap selesai sholat selalu memohon perlindungan dengan doa-doa: (artinya = Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan, aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur). Diriwayatkan Bukhari.</p>
<p>-179<br />
Tsauban Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam jika telah selesai dari sholatnya beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah tiga kali dengan membaca: (artinya = Ya Allah Engkaulah keselamatan dan dari-Mu jualah segala keselamatan. Maha Berkah Engkau wahai Dzat yang memiliki segala keagungan dan kemuliaan). Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-180<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang pada tiap-tiap usai sholat bertasbih (membaca subhanallah) sebanyak 33 kali, bertahmid (membaca alhamdulillah) sebanyak 33 kali, dan bertakbir (membaca Allahu akbar) sebanyak 33 kali, maka jumlahnya 99 kali lalu menyempurnakannya menjadi 100 dengan bacaan: (artinya = tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka diampunilah kesalahan-kesalahannya walaupun kesalahannya seperti buih air laut.&#8221; Hadits riwayat Muslim. Dalam riwayat lain: Bahwa takbirnya sebanyak 34 kali.</p>
<p>-181<br />
Dari Muadz Ibnu Jabal bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: &#8220;Aku wasiatkan kepadamu wahai Muadz agar engkau jangan sekali-kali setiap sholat meninggalkan doa: (artinya = Ya Allah tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah pada-Mu).&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Nasa&#8217;i dengan sanad yang kuat.</p>
<p>-182<br />
Dari Abu Umamah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;barangsiapa membaca ayat kursi setiap selesai sholat fadlu, maka tiada yang menghalanginya masuk syurga kecuali maut.&#8221; Diriwayatkan oleh Nasa&#8217;i dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban. Thabrani menambahkan: &#8220;Dan bacalah surat al-Ikhlas.&#8221;</p>
<p>-183<br />
Dari Malik Ibnu al-Khuwairits Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholatlah kamu sekalian dengan cara sebagaimana kamu melihat aku sholat.&#8221; Riwayat Bukhari.</p>
<p>-184<br />
Dari Imran Ibnu Hushoin Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring, dan jika tidak mampu juga maka dengan syarat.&#8221; Diriwayatkan oleh Bukhari.</p>
<p>-185<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang yang sakit yang sholat di atas bantal, beliau melempar bantal itu dan bersabda: &#8220;Sholatlah di atas tanah bila engkau mampu, jika tidak maka pakailah isyarat, dan jadikan (isyarat) sujudmu lebih rendah daripada (isyarat) ruku&#8217;mu.&#8221; Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang kuat, namun Abu Hatim mensahkan mauquf-nya hadits ini.</p>
<p>-186<br />
Dari Abdullah Ibnu Buhaimah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat Dhuhur bersama mereka, beliau berdiri pada dua rakaat pertama dan tidak duduk tasyahhud, orang-orang ikut berdiri bersamanya hingga beliau akan mengakhiri sholat dan orang-orang menunggu salamnya, beliau takbir dengan duduk, kemudian beliau sujud dua kali sebelum salam, lalu beliau salam. Dikeluarkan oleh Imam Tujuh dan lafadz ini menurut riwayat Bukhari. Dalam suatu riwayat Muslim: Beliau takbir pada setiap sujud dengan duduk, lalu beliau sujud dan orang-orang sujud bersamanya sebagai pengganti duduk (tasyahhud) yang terlupakan.</p>
<p>-187<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah sholat salah satu dari dua sholat petang dua rakaat, lalu salam. Kemudian beliau menuju tiang di bagian depan masjid dan meletakkan tangannya pada kayu itu. Dalam jama&#8217;ah itu ada Abu Bakar dan Umar namun keduanya tidak berani mengatakan apapun kepada beliau. Orang-orang keluar dengan segera dan mereka bertanya-tanya apakah sholat tadi di qashar. Dalam Jama&#8217;ah itu ada seorang laki-laki yang dijuluki Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam &#8220;Dzulyadain&#8221;, ia bertanya: Ya Rasulullah, apakah baginda lupa atau sholat tadi memang diqashar? Beliau bersabda: &#8220;Aku tidak lupa dan sholat tidak diqashar.&#8221; Orang itu berkata lagi: Tidak, baginda telah lupa. Maka beliau sholat dua rakaat kemudian salam, lalu takbir, kemudian sujud seperti biasa atau lebih lama, kemudian mengangkat kepalanya lalu takbir, kemudian meletakkan kepalanya, lalu takbir, kemudian sujud seperti biasa atau lebih lama, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan takbir. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari. Dalam suatu riwayat Muslim: Itu adalah sholat Ashar.</p>
<p>-188<br />
Menurut Riwayat Abu Dawud Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bertanya: &#8220;Apakah Dzulyadain benar?&#8221; Lalu mereka mengiyakan. Hadits itu ada dalam shahih Bukhari-Muslim tapi dengan lafadz: Mereka berkata.</p>
<p>-189<br />
Dalam suatu riwayatnya pula: Beliau tidak sujud sampai Allah Ta&#8217;ala meyakinkannya akan hal itu.</p>
<p>-190<br />
Dari Imran Ibnu Hushoin Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah sholat bersama mereka, lalu beliau lupa, maka beliau sujud dua kali, kemudian tasyahhud, lalu salam. Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim.</p>
<p>-191<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu ragu dalam sholat, ia tidak mengetahui apakah telah sholat tiga atau empat rakaat. Maka hendaknya ia meninggalkan keraguan dan memantapkan apa yang ia yakini, kemudian sujud dua kali sebelum salam. Maka bila telah sholat lima rakaat, genaplah sholatnya. Bila ternyat sholatnya telah cukup, maka kedua sujud itu sebagai penghinaan kepada setan.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-192<br />
Ibnu Mas&#8217;ud Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat. Ketika beliau salam dikatakan kepadanya: Ya Rasulullah, apakah telah terjadi sesuatu dalam sholat? Beliau bersabda: &#8220;Apa itu?&#8221; Mereka berkata: Baginda sholat begini begitu. Abu Mas&#8217;ud berkata: Lalu mereka merapikah kedua kakinya dan menghadap kiblat, lalu sujud dua kali kemudian salam. Beliau kemudian menghadap orang-orang dan bersabda: &#8220;Sesungguhnya jika terjadi sesuatu dalam sholat aku beritahukan padamu, tapi aku hanyalah manusia biasa seperti kamu sekalian yang dapat lupa seperti kalian. Maka apabila aku lupa ingatkanlah aku dan apabila seseorang di antara kamu ragu dalam sholatnya, hendaknya ia meneliti benar kemudian menyempurnakannya, lalu sujud dua kali.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-193<br />
Dalam suatu hadits riwayat Bukhari: &#8220;Hendaknya ia menyempurnakan, lalu salam, kemudian sujud.&#8221;</p>
<p>-194<br />
Dalam riwayat Muslim: Bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah sujud sahwi dua kali setelah salam dan bercakap-cakap.</p>
<p>-195<br />
Menurut riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasa&#8217;i dari hadits Abdullah Ibnu Ja&#8217;far yang diterima secara marfu&#8217;: &#8220;Barangsiapa ragu dalam sholatnya hendaknya ia bersujud dua kali sesudah salam. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-196<br />
Dari al-Mughirah Ibnu Syu&#8217;bah bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seseorang di antara kamu ragu, ia berdiri dalam rakaat kedua dan ia sudah tegak berdiri maka hendaklah ia teruskan dan tidak usah kembali lagi, dan hendaknya ia sujud dua kali. Apabila ia belum berdiri tegak maka hendaknya ia duduk kembali dan tidak usah sujud sahwi.&#8221; Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah dan Daruquthni. Lafadznya menurut Daruquthni dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-197<br />
Dari Umar Radliyallaahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: &#8220;Bagi makmum itu tidak ada lupa, maka jika imam lupa wajiblah sujud sahwi atas imam dan makmum.&#8221; Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Baihaqi dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-198<br />
Dari Tsauban dari Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: &#8220;Setiap kali lupa itu diganti dengan dua sujud setelah salam.&#8221; Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad lemah.</p>
<p>-199<br />
Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami sujud bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sewaktu membawa (idzas samaaun syaqqot) dan (iqra&#8217; bismi rabbikalladzii kholaq). Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-200<br />
Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Surat Shod bukanlah termasuk surat yang disunatkan sujud, tapi aku pernah melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sujud ketika membacanya. Riwayat Bukhari.</p>
<p>-201<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sujud sewaktu membaca surat Al-Najm. Riwayat Bukhari.</p>
<p>-202<br />
Zaid Ibnu Tsabit Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah membaca surat Al-Najm di hadapan Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, namun beliau tidak sujud waktu itu. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-203<br />
Kholid Ibnu Ma&#8217;dan Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Surat Al-Hajj itu diberi keutamaan dengan dua sujud. Diriwayatkan Abu Dawud dalam hadits mursal.</p>
<p>-204<br />
Menurut riwayat Ahmad dan Tirmidzi dalam keadaan maushul dari hadits Uqbah Ibnu Amir, ditambahkan: &#8220;Maka barangsiapa yang tidak sujud pada keduanya hendaklah ia tidak membacanya.&#8221; Sanad hadits ini lemah.</p>
<p>-205<br />
Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Wahai orang-orang, kita melewati bacaan ayat-ayat sujud, maka barangsiapa sujud ia telah mendapat (pahala) dan barangsiapa tidak sujud tidak mendapat dosa.&#8221; Diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam hadits itu disebutkan: Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki. Hadits itu termuat dalam al-Muwaththa&#8217;.</p>
<p>-206<br />
Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam selalu membacakan Al-Qur&#8217;an pada kami, maka apabila melewati bacaan ayat sajadah beliau bertakbir dan sujud, lalu kami sujud bersama beliau. Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-207<br />
Dari Abu Bakrah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila menerima kabar gembira beliau segera sujud kepada Allah. Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa&#8217;i.</p>
<p>-208<br />
Abdul Rahman Ibnu Auf Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah sujud, beliau melamakan sujud itu, setelah mengangkat kepala beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira, maka aku bersujud syukur kepada Allah.&#8221; Riwayat Ahmad dan dinilai shahih oleh Hakim.</p>
<p>-209<br />
Dari al-Barra&#8217; Ibnu Azib Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah mengutus Ali ke negeri Yaman. Kemudian hadits itu menyebutkan: Ali lalu mengirim surat tentang ke-Islaman mereka. Ketika Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam membaca surat itu beliau langsung sujud syukur kepada Allah atas berita tersebut. Hadits riwayat Baihaqi yang asalnya dari Bukhari.</p>
<p>-210<br />
Rabiah Ibnu Malik al-Islamy Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah bersabda padaku: &#8220;Mintalah (padaku).&#8221; Aku menjawab: Aku memohon dapat menyertai baginda di syurga. Beliau bertanya: &#8220;Apakah ada yang lain?&#8221; Aku menjawab: Hanya itu saja. Beliau bersabda: &#8220;Tolonglah aku untuk mendoakan dirimu dengan banyak sujud.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-211<br />
Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku menghapal dari Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya&#8217; di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: Dan dua rakaat setelah Jum&#8217;at di rumahnya.</p>
<p>-212<br />
Dalam suatu riwayat Muslim: Apabila fajar telah terbit beliau tidak sholat kecuali dua rakaat yang pendek.</p>
<p>-213<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. Riwayat Bukhari.</p>
<p>-214<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak pernah memperhatikan sholat-sholat sunat melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-215<br />
Menurut riwayat Muslim: Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.</p>
<p>-216<br />
Ummu Habibah Ummul Mu&#8217;minin Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa melakukan sholat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.&#8221; Hadits riwayat Muslim. Dan dalam suatu riwayat: &#8220;Sholat sunat.&#8221;</p>
<p>-217<br />
Menurut riwayat Tirmidzi ada hadits yang serupa dengan tambahan: &#8220;Empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya dan dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah Isya&#8217;, dan dua rakaat sebelum Shubuh.&#8221;</p>
<p>-218<br />
Menurut riwayat Imam Lima darinya (Ummu Habibah r.a): &#8220;Barangsiapa memelihara empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat setelahnya niscaya Allah mengharamkan api neraka darinya.&#8221;</p>
<p>-219<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;(Semoga) Allah memberi rahmat orang yang sholat empat rakaat sebelum Ashar.&#8221; Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-220<br />
Dari Abdullah Mughoffal al-Muzanny Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholatlah sebelum Maghrib, sholatlah sebelum Maghrib.&#8221; Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga: &#8220;Bagi siapa yang mau,&#8221; Karena beliau takut orang-orang akan menjadikannya sunnat. Diriwayatkan oleh Bukhari.</p>
<p>-221<br />
Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat.</p>
<p>-222<br />
Menurut riwayat Muslim bahwa Ibnu Abbas berkata: Kami pernah sholat dua rakaat setelah matahari terbenam dan Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melihat kami, beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarang kami.</p>
<p>-223<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam meringkaskan dua rakaat sebelum sholat Shubuh sampai aku bertanya: Apakah beliau membaca Ummul Kitab (al-Fatihah)? Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-224<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dalam dua rakaat fajar membaca (Qul yaa ayyuhal kaafiruun) dan (Qul Huwallaahu Ahad). Riwayat Muslim.</p>
<p>-225<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila selesai sholat dua rakaat fajar berbaring atas sisinya yang kanan. Riwayat Bukhari.</p>
<p>-226<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seorang di antara kamu selesai sholat dua rakaat sebelum sholat Shubuh, hendaknya ia berbaring atas sisinya yang kanan.&#8221; Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.</p>
<p>-227<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat malam itu dua dua, maka bila seorang di antara kamu takut telah datang waktu Shubuh hendaknya ia sholat satu rakaat untuk mengganjilkan sholat yang telah ia lakukan.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-228<br />
Dalam Riwayat Imam Lima yang dinilai shahih oleh Ibnu Hibban adalah lafadz: &#8220;Sholat malam dan siang itu dua dua.&#8221; Nasa&#8217;i menyatakan bahwa ini salah.</p>
<p>-229<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat yang paling utama setelah sholat fadlu ialah sholat malam.&#8221; Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-230<br />
Dari Ayyub al-Anshory bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Witir itu hak bagi setiap muslim. Barangsiapa senang sholat witir lima rakaat hendaknya ia kerjakan, barangsiapa senang sholat witir tiga rakaat hendaknya ia kerjakan, barangsiapa senang sholat witir satu rakaat hendaknya ia kerjakan.&#8221; Riwayat Imam Empat kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan mauquf menurut Nasa&#8217;i.</p>
<p>-231<br />
Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Witir itu tidaklah wajib sebagaimana sholat fardlu, tapi ia hanyalah sunat yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa&#8217;i dan Hakim. Hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim.</p>
<p>-232<br />
Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat malam pada bulan Ramadhan. Kemudian orang-orang menunggu beliau pada hari berikutnya namun beliau tidak muncul. Dan beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya aku khawatir sholat witir ini diwajibkan atas kamu.&#8221; Riwayat Ibnu Hibban.</p>
<p>-233<br />
Dari Kharijah Ibnu Hudzafah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah membantu kamu dengan sholat yang lebih baik bagimu daripada unta merah?&#8221; Kami bertanya: Sholat apa itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: &#8220;Witir antara sholat Isya&#8217; hingga terbitnya fajar.&#8221; Riwayat Imam Lima kecuali Nasa&#8217;i. Hadits Shahih menurut Hakim.</p>
<p>-234<br />
Ahmad juga meriwayatkan hadits serupa dari Amr Ibnu Syuaib dari ayahnya dari kakeknya.</p>
<p>-235<br />
Dari Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Witir adalah hak, maka barangsiapa tidak sholat witir ia bukanlah termasuk golongan kami.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang lemah. Shahih menurut Hakim.</p>
<p>-236<br />
Hadits tersebut mempunyai saksi yang lemah dari Abu Hurairah menurut riwayat Ahmad.</p>
<p>-237<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak pernah menambah dalam sholat malam Ramadhan atau lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau sholat empat rakaat dan jangan tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian beliau sholat empat rakaat dan jangan tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian beliau sholat tiga rakaat. &#8216;Aisyah berkata: Saya bertanya, wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum sholat witir? Beliau menjawab: &#8220;Wahai &#8216;Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur namun hatiku tidak.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-238<br />
Dalam suatu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: Beliau sholat malam sepuluh rakaat, sholat witir satu rakaat, dan sholat fajar dua rakaat. Jadi semuanya tiga belas rakaat.</p>
<p>-239<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat malam tiga belas rakaat, lima rakaat di antaranya sholat witir, beliau tidak pernah duduk kecuali pada rakaat terakhir.</p>
<p>-240<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Pada setiap malam Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam selalu sholat witir yang berakhir hingga waktu sahur. Muttafaq Alaihi</p>
<p>-241<br />
Abdullah Ibnu Amar Ibu al-&#8217;Ash Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda padaku: &#8220;Hai Abdullah, kamu jangan seperti si Anu, dulu ia biasa sholat malam kemudian ia meninggalkannya.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-242<br />
Dari Ali bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat witirlah wahai ahli Qur&#8217;an, karena Allah sesungguhnya witir (ganjil) dan dia mencintai yang ganjil (witir).&#8221; Diriwayatkan oleh Imam Lima dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-243<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jadikanlah sholat witir sebagai akhir sholatmu malam hari.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-244<br />
Tholq Ibnu Ali berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tidak ada dua witir dalam satu malam.&#8221; Riwayat Ahmad dan Imam tiga. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-245<br />
Ubay Ibnu Ka&#8217;ab Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam biasanya sholat witir dengan membaca (Sabbihisma rabbikal a&#8217;la dan (Qul yaa ayyuhal kaafiruun) dan (Qul huwallaahu Ahad).&#8221; Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasa&#8217;i. Nasa&#8217;i menambahkan: Beliau tidak salam kecuali pada rakaat terakhir.</p>
<p>-246<br />
Menurut riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi terdapat hadits serupa dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu dan didalamnya disebutkan: Masing-masing surat untuk satu rakaat dan dalam rakaat terakhir dibaca (Qul huwallaahu Ahad) serta dua surat al-Falaq dan an-Naas.</p>
<p>-247<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat witir-lah sebelum engkau masuk waktu Shubuh.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-248<br />
Menurut Riwayat Ibnu Hibban: &#8220;Barangsiapa telah memasuki waktu Shubuh sedang dia belum sholat witir, maka tiada witir baginya.&#8221;</p>
<p>-249<br />
Darinya bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang luput sholat witir karena tidur atau lupa hendaknya ia sholat waktu Shubuh atau ketika ingat.&#8221; Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa&#8217;i.</p>
<p>-250<br />
Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa khawatir tidak bangun pada bagian akhir malam, hendaknya ia sholat witir pada awal malam dan barangsiapa sangat ingin bangun pada akhirnya hendaknya ia sholat witir pada akhir malam karena sholat pada akhir malam itu disaksikan (oleh malaikat), dan hal itu lebih utama.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-251<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jika fajar telah terbit maka habislah seluruh waktu sholat malam dan sholat witir. Maka berwitirlah sebelum terbitnya fajar.&#8221; Diriwayatkan oleh Tirmidzi.</p>
<p>-252<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam biasanya sholat Dluha empat rakaat dan menambah seperti yang dikehendaki Allah. Riwayat Muslim.</p>
<p>-253<br />
Menurut riwayat Muslim dari &#8216;Aisyah: Bahwa &#8216;Aisyah pernah ditanya: Apakah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam biasa menunaikan sholat Dluha? Ia menjawab: Tidak, kecuali bila beliau pulang dari bepergian.</p>
<p>-254<br />
Menurut riwayat Muslim dari &#8216;Aisyah: Aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dengan tetap melakukan sholat Dluha, tetapi sungguh aku melakukannya dengan tetap.</p>
<p>-255<br />
Dari Zaid Ibnu Arqom Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholatnya orang-orang yang bertaubat itu ketika anak-anak unta merasa panas.&#8221; Riwayat Tirmidzi.</p>
<p>-256<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa menunaikan sholat Dluha dua belas rakaat niscaya Allah membangunkan sebuah istana untuknya di surga.&#8221; Hadits Gharib diriwayatkan oleh Tirmidzi.</p>
<p>-257<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam masuk ke rumahku, kemudian beliau sholat Dluha delapan rakaat. Riwayat Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya.</p>
<p>-258<br />
Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat berjama&#8217;ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada sholat sendirian.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-259<br />
Menurut riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu : &#8220;Dua puluh lima bagian.&#8221;</p>
<p>-260<br />
Demikian juga menurut riwayat Bukhari dari Abu Said, dia berkata: Derajat.</p>
<p>-261<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ingin rasanya aku menyuruh mengumpulkan kayu bakar hingga terkumpul, kemudian aku perintahkan sholat dan diadzankan buatnya, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang itu, lalu aku mendatangi orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjama&#8217;ah itu dan aku bakar rumah mereka. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka tahu bahwa ia akan mendapatkan tulang berdaging gemuk atau tulang paha yang baik niscaya ia akan hadir (berjamaah) dalam sholat Isya&#8217; itu. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.</p>
<p>-262<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik ialah sholat Isya&#8217; dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang ada pada kedua sholat itu, mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-263<br />
Dari Abu Hurairah r.a: Ada seorang laki-laki buta menghadap Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan berkata: Ya Rasulullah, sungguh aku ini tidak mempunyai seorang penuntun yang menuntunku ke masjid. Maka beliau memberi keringanan padanya. Ketika ia berpaling pulang beliau memanggilnya dan bertanya: &#8220;Apakah engkau mendengar adzan untuk sholat?&#8221; Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: &#8220;Kalau begitu, datanglah.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-264<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa mendengar adzan tetapi ia tidak datang, maka tidak ada sholat baginya kecuali lantaran udzur.&#8221; Riwayat Ibnu Majah, Daruquthni, Ibnu Hibban, dan Hakim dengan sanad yang menurut syarat Muslim. Sebagian menguatkan bahwa hadits ini mauquf.</p>
<p>-265<br />
Dari Yazid Ibnu al-Aswad bahwa dia pernah sholat Shubuh bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam Ketika Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam telah usai sholat beliau bertemu dengan dua orang laki-laki yang tidak ikut sholat. Beliau memanggil kedua orang itu, lalu keduanya dihadapkan dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya pada mereka: &#8220;Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut sholat bersama kami?&#8221; Mereka menjawab: Kami telah sholat di rumah kami. Beliau bersabda: &#8220;Jangan berbuat demikian, bila kamu berdua telah sholat di rumahmu kemudian kamu melihat imam belum sholat, maka sholatlah kamu berdua bersamanya karena hal itu menjadi sunat bagimu.&#8221; Riwayat Imam Tiga dan Ahmad dengan lafadz menurut riwayat Ahmad. Hadits shahih menuru Ibnu Hibban dan Tirmidzi.</p>
<p>-266<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka apabila ia telah bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan bertakbir sebelum ia bertakbir. Apabila ia telah ruku&#8217;, maka ruku&#8217;lah kalian dan jangan ruku&#8217; sebelum ia ruku&#8217;. Apabila ia mengucapkan (sami&#8217;allaahu liman hamidah) maka ucapkanlah (allaahumma rabbanaa lakal hamdu). Apabila ia telah sujud, sujudlah kalian dan jangan sujud sebelum ia sujud. Apabila ia sholat berdiri maka sholatlah kalian dengan berdiri dan apabila ia sholat dengan duduk maka sholatlah kalian semua dengan duduk.&#8221; Riwayat Abu Dawud. Lafadznya berasal dari Shahih Bukhari-Muslim.</p>
<p>-267<br />
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melihat para sahabatnya mundur ke belakang. Maka beliau bersabda: &#8220;Majulah kalian dan ikutilah aku, dan hendaknya orang-orang di belakangmu mengikuti kalian.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-268<br />
Zaid Ibnu Tsabit Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah membuat bilik dari tikar, lalu beliau sholat di dalamnya. Orang-orang mengetahuinya dan mereka datang untuk sholat bersama beliau. Hadits, dan di dalamnya disebutkan: &#8220;Sebagik-baik sholat seseorang itu di rumahnya kecuali sholat fardlu.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-269<br />
Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Muadz pernah sholat Isya&#8217; bersama para shahabatnya dan ia memperlama sholat tersebut. Maka bersabdalah Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam: &#8220;Apakah engkau mau wahai Muadz menjadi seorang pemfitnah? Jika engkau mengimami orang-orang maka bacalah (washamsyi wadluhaaha), (sabbihisma rabbikal a&#8217;laa), (Iqra&#8217; bismi rabbika), dam (wallaili idzaa yaghsyaa).&#8221; Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.</p>
<p>-270<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu tentang kisah sholat berjama&#8217;ah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam ketika beliau sakit. &#8216;Aisyah berkata: Beliau datang dan duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Beliau mengimami jama&#8217;ah dengan duduk sedang Abu Bakar berdiri. Abu Bakar mengikuti sholat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan orang-orang mengikuti sholat Abu Bakar. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-271<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seorang di antara kamu mengimami orang-orang maka hendaknya ia memperpendek sholatnya, karena sesungguhnya di antara mereka ada yang kecil, besar, lemah, dan yang mempunyai keperluan. Bila is sholat sendiri, maka ia boleh sholat sekehendaknya.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-272<br />
Amar Ibnu Salamah berkata: Ayahku berkata: Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam Beliau bersabda: &#8220;Bila waktu sholat telah datang, maka hendaknya seorang di antara kamu beradzan dan hendaknya orang yang paling banyak menghapal Qur&#8217;an di antara kamu menjadi imam.&#8221; Amar berkata: Lalu mereka mencari-cari dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghapal Qur&#8217;an melebihi diriku, maka mereka memajukan aku (untuk menjadi imam) padahal aku baru berumur enam atau tujuh tahun. Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Nasa&#8217;i.</p>
<p>-273<br />
Dari Ibnu Mas&#8217;ud Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca al-Qur&#8217;an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang Sunnah di antara mereka. Jika dalam Sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.&#8221; Dalam suatu riwayat: &#8220;Yang paling tua.&#8221; &#8220;Dan Janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seidzinnya.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-274<br />
Menurut riwayat Ibnu Majah dari hadits Jabir r.a: &#8220;Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimami orang laki-laki, orang Badui mengimami orang yang berhijrah, dan orang yang maksiat mengimami orang mu&#8217;min.&#8221; Sanadnya lemah.</p>
<p>-275<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Tertibkanlah barisan (shof)-mu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.&#8221; Hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa&#8217;i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-276<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya ialah yang terakhir. Dan sebaik-baik shof perempuan adalah yang terakhir dan sejelek-jeleknya ialah yang pertama.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-277<br />
Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah sholat bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada suatu malam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.</p>
<p>-278<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat, lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya sedang Ummu Salamah berdiri di belakang kami. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.</p>
<p>-279<br />
Dari Abu Bakrah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia datang kepada Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam ketika beliau ruku&#8217;. Lalu ia ruku&#8217; sebelum mencapai shof. Maka Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda padanya: &#8220;Semoga Allah menambah keutamaanmu dan jangan mengulanginya.&#8221; Riwayat Bukhari. Abu Dawud menambahkan dalam hadits itu: Ia ruku&#8217; di belakang shaf kemudian berjalan menuju shof.</p>
<p>-280<br />
Dari Wabishoh Ibnu Ma&#8217;bad Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah melihat seseorang sholat di belakang shaf sendirian. Maka beliau menyuruhnya agar mengulangi sholatnya. Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban</p>
<p>-281<br />
Menurut riwayatnya dari Tholq Ibnu Ali r.a: &#8220;Tidak sempurna sholat seseorang yang sendirian di belakang shaf.&#8221; Thabrani menambahkan dalam hadits Wabishoh: &#8220;Mengapa engkau tidak masuk dalam shaf mereka atau engkau tarik seseorang?&#8221;</p>
<p>-282<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila engkau telah mendengar qomat, maka berjalanlah menuju sholat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam) kerjakan dan apa yang tertinggal darimu sempurnakan.&#8221; Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.</p>
<p>-283<br />
Dari Ubay Ibnu Ka&#8217;ab Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat seorang bersama seorang lebih baik daripada sholatnya sendirian, sholat seorang bersama dua orang lebih baik daripada sholatnya bersama seorang, dan jika lebih banyak lebih disukai oleh Allah &#8216;Azza wa Jalla.&#8221; Riwayat Abu Dawud dan Nasa&#8217;i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-284<br />
Dari Ummu Waraqah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk mengimami anggota keluarganya. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah. (287 Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam meminta Ibnu Ummu Maktum untuk menggantikan beliau mengimami orang-orang, padahal ia seorang buta. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.</p>
<p>-285<br />
Hadits serupa juga terdapat dalam riwayat Ibnu Hibban dari &#8216;Aisyah r.a.</p>
<p>-286<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholatkanlah orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah dan sholatlah di belakang orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallaah.&#8221; Riwayat Daruquthni dengan sanad lemah.</p>
<p>-287<br />
Dari Ali Ibnu Abu Tholib Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seorang di antara kamu datang untuk melakukan sholat sedang imam berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia mengerjakan sebagaimana yang tengah dikerjakan oleh imam.&#8221; Riwayat Tirmidzi dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-288<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Sholat itu awalnya diwajibkan dua rakaat, lalu ia ditetapkan sebagai sholat dalam perjalanan, dan sholat di tempat disempurnakan (ditambah). Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-289<br />
Menurut riwayat Bukhari: Kemudian beliau hijrah, lalu diwajibkan sholat empat rakaat, dan sholat dalam perjalanan ditetapkan seperti semula.</p>
<p>-290<br />
Ahmad menambahkan: Kecuali Maghrib karena ia pengganjil sholat siang dan Shubuh karena bacaannya dipanjangkan.</p>
<p>-291<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam adakalanya mengqashar sholat dalam perjalanan dan adakalanya tidak, kadangkala puasa dan kadangkala tidak. Riwayat Daruquthni. Para perawinya dapat dipercaya, hanya saja hadits ini ma&#8217;lul. Adapun yang mahfudh dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu adalah dari perbuatannya, dan dia berkata: Sesungguhnya hal itu tidak berat bagiku.</p>
<p>-292<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah suka bila rukhshoh (keringanan)-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia benci bila maksiatnya dilaksanakan.&#8221; Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Dalam suatu riwayat: &#8220;Sebagaimana Dia suka bila perintah-perintah-Nya yang keras dilakukan.&#8221;</p>
<p>-293<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila keluar bepergian sejauh tiga mil atau farsakh, beliau sholat dua rakaat. Riwayat Muslim.</p>
<p>-294<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Pernah kami keluar bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dari Madinah ke Mekkah. Beliau selalu sholat dua rakaat-dua rakaat sampai kami kembali ke Madinah. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.</p>
<p>-295<br />
Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam menetap selama 19 hari, beliau mengqashar sholat. Dalam lafadz hadits lain: Di Mekkah selama 19 hari. Riwayat Bukhari. Dan dalam suatu riwayat menurut Abu Dawud: Tujuh belas hari. Dalam riwayat lain: Lima belas hari.</p>
<p>-296<br />
Menurut riwayat Bukhari dari Imran Ibnu Hushoin Radliyallaahu &#8216;anhu : Delapan belas hari.</p>
<p>-297<br />
Menurut riwayatnya pula dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu : Beliau menetap di Tabuk 20 hari mengqashar sholat. Para perawinya dapat di percaya tetapi diperselisihkan maushul-nya.</p>
<p>-298<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila berangkat dalam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan sholat Dhuhur hingga waktu Ashar. Kemudian beliau turun dan menjamak kedua sholat itu. Bila matahari telah tergelincir sebelum beliau pergi, beliau sholat Dhuhur dahulu kemudian naik kendaraan. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu hadits riwayat Hakim dalam kitab al-Arba&#8217;in dengan sanad shahih: Beliau sholat Dhuhur dan Ashar kemudian naik kendaraan. Dalam riwayat Abu Nu&#8217;aim dalam kitab Mustakhroj Muslim: Bila beliau dalam perjalanan dan matahari telah tergelincir, beliau sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak, kemudian berangkat.</p>
<p>-299<br />
Muadz Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami pernah pergi bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk. Beliau Sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak serta Maghrib dan Isya&#8217; dengan jamak. Riwayat Muslim.</p>
<p>-300<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Jangan mengqashar sholat kurang dari empat burd, yakni dari Mekkah ke Usfan.&#8221; Diriwayatkan oleh Daruquthni dengan sanad lemah. Menurut pendapat yang benar hadits ini mauquf sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-301<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sebaik-baik umatku adalah mereka yang bila berbuat kesalahan memohon ampunan dan bila bepergian mengqashar sholat dan membatalkan puasa.&#8221; Dikeluarkan oleh Thabrani dalam Ausath dengan sanad yang lemah. Hadits tersebut juga terdapat dalam Mursal Said Ibnu al-Musayyab dengan ringkas.</p>
<p>-302<br />
Imam Ibnu Hushoin Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku mempunyai penyakit bawasir, bila aku menanyakan kepada Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tentang cara sholat. Beliau bersabda: &#8220;Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring.&#8221; Riwayat Bukhari.</p>
<p>-303<br />
Jabir r.a: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah menjenguk orang sakit. Beliau melihat orang itu sedang sholat di atas bantal, lalu beliau membuangnya. Beliau bersabda: &#8220;Sholatlah di atas tanah bila engkau mampu, jika tidak maka pakailah isyarat, dan jadikan (isyarat) sujudmu lebih rendah daripada (isyarat) ruku&#8217;mu.&#8221; Riwayat Baihaqi dan Abu Hatim membenarkan bahwa hadits ini mauquf.</p>
<p>-304<br />
&#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku melihat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat dengan bersila. Riwayat Nasa&#8217;i. Menurut Al-Hakim hadits tersebut shahih.</p>
<p>-305<br />
Abdullah Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata bahwa mereka berdua mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda di atas kayu mimbarnya: &#8220;Hendaknya orang-orang itu benar-benar berhenti meninggalkan sholat Jum&#8217;at, atau Allah akan menutup hati mereka, kemudian mereka benar-benar termasuk orang-orang yang lupa.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-306<br />
Salamah Ibnu Al-Akwa&#8217; Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami sholat bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam hari Jum&#8217;at, kemudian kami bubar pada saat tembok-tembok tidak ada bayangan untuk berteduh. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dalam lafadz menurut riwayat Muslim: Kami sholat Jum&#8217;at bersama beliau ketika matahari tergelincir kemudian kami pulang sambil mencari-cari tempat berteduh.</p>
<p>-307<br />
Sahal Ibnu Sa&#8217;ad Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami tidak pernah tidur siang dan makan siang kecuali setelah (sholat) Jum&#8217;at. Muttafaq Alaihi dengan lafadz menurut riwayat Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: Pada jaman Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</p>
<p>-308<br />
Dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sedang khutbah berdiri, datanglah kafilah dagang dari negeri Syam. Lalu orang-orang menyongsongnya sehingga (dalam masjid) hanya tinggal dua belas orang. Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-309<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari sholat Jum&#8217;at atau sholat lainnya, maka hendaklah ia menambah rakaat lainnya yang kurang, dan dengan itu sempurnalah sholatnya.&#8221; Riwayat Nasa&#8217;i, Ibnu Majah dan Daruquthni. Lafadz hadits menurut riwayat Daruquthni. Sanadnya shahih tetapi Abu Hatim menguatkan ke-mursal-an hadits ini.</p>
<p>-310<br />
Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berkhutbah dengan berdiri, lalu duduk, kemudian bangun dan berkhotbah dengan berdiri lagi. Maka barangsiapa memberi tahu engkau bahwa beliau berkhutbah dengan duduk, maka ia telah bohong. Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-311<br />
Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila berkhotbah memerah kedua matanya, meninggi suaranya, dan mengeras amarahnya seakan-akan beliau seorang komandan tentara yang berkata: Musuh akan menyerangmu pagi-pagi dan petang. Beliau bersabda: &#8220;Amma ba&#8217;du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah (al-Qur&#8217;an), sebaik-baiknya petunjuk ialah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek perkara ialah yang diada-adakan (bid&#8217;ah), dan setiap bid&#8217;ah itu sesat.&#8221; Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam suatu riwayatnya yang lain: Khutbah Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada hari Jum&#8217;at ialah: Beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian beliau mengucapkan seperti khutbah di atas dan suaru beliau keras. Dalam suatu riwayatnya yang lain. &#8220;Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada orang yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada orang yang dapat memberikan hidayah padanya.&#8221; Menurut riwayat Nasa&#8217;i: &#8220;Dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.&#8221;</p>
<p>-312<br />
Ammar Ibnu Yasir Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya lamanya sholat seseorang dan pendek khutbahnya adalah pertanda akan pemahamannya (yang mendalam).&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-313<br />
Ummu Hisyam Binti Haritsah Ibnu Al-Nu&#8217;man Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku tidak menghapal (Qof. Walqur&#8217;anil Majiid kecuali dari lidah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam yang beliau baca setiap Jum&#8217;at di atas mimbar ketika berkhutbah di hadapan orang-orang. Riwayat Muslim.</p>
<p>-314<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa berbicara pada sholat Jum&#8217;at ketika imam sedang berkhutbah, maka ia seperti keledai yang memikul kitab-kitab. Dan orang yang berkata: Diamlah, tidak ada Jum&#8217;at baginya.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad tidak apa-apa, sebab ia menafsirkan hadits Abu Hurairah yang marfu&#8217; dalam shahih Bukhari-Muslim.</p>
<p>-315<br />
&#8220;Jika engkau berkata pada temanmu &#8220;diamlah&#8221; pada sholat Jum&#8217;at sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah sia-sia.&#8221;</p>
<p>-316<br />
Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Ada seorang laki-laki masuk pada waktu sholat Jum&#8217;at di saat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sedang berkhutbah. Maka bertanyalahg beliau: &#8220;Engkau sudah sholat?&#8221; Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: &#8220;Berdirilah dan sholatlah dua rakaat.&#8221; Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-317<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada sholat Jum&#8217;at biasanya membaca surat al-Jumu&#8217;ah dan al-Munafiqun. Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-318<br />
Dalam riwayatnya pula (Muslim) bahwa Nu&#8217;man Ibnu Basyir Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Biasanya beliau pada sholat dua &#8216;Id dan Jum&#8217;at membaca (Sabbihisma rabbikal a&#8217;laa) dan (Hal ataaka haditsul ghoosyiyah).</p>
<p>-319<br />
Zaid Ibnu Arqom Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat &#8216;Id, kemudian beliau memberi keringanan untuk sholat Jum&#8217;at, lalu bersabda: &#8220;Barangsiapa hendak sholat, sholatlah.&#8221; Riwayat Imam Lima kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>-320<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Apabila seorang di antara kamu sholat Jum&#8217;at, hendaknya ia sholat setelah itu empat rakaat.&#8221; Riwayat Muslim</p>
<p>-321<br />
Dari Saib Ibnu Yazid Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Muawiyah Radliyallaahu &#8216;anhu pernah berkata kepadanya: Jika engkau telah sholat Jum&#8217;at maka janganlah engkau menyambungnya dengan sholat lain hingga engkau berbicara atau keluar, karena Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memerintahkan kami demikian, yakni: Janganlah kita menyambung suatu sholat dengan sholat lain sehingga kita berbicara atau keluar. Riwayat Muslim.</p>
<p>-322<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa mandi kemudian mendatangi sholat Jum&#8217;at, lalu sholat semampunya, kemudian diam sampai sang imam selesai dari khutbahnya, kemudian sholat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya antara Jum&#8217;at itu dan Jum&#8217;at berikutnya serta tiga hari setelahnya.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-323<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam setelah menyebut hari Jum&#8217;at beliau bersabda: &#8220;Pada hari itu ada suatu saat jika bertepatan seorang hamba muslim berdiri untuk sholat memohon kepada Allah, maka niscaya Allah akan memberikannya sesuatu.&#8221; Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya bahwa saat itu sebentar. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim: &#8220;Ia adalah saat yang pendek.&#8221;</p>
<p>-324<br />
Abu Burdah dari ayahnya Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: &#8220;Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Saat (waktu) itu ialah antara duduknya imam hingga dilaksanakannya sholat.&#8221; Riwayat Muslim. Daruquthni menguatkan bahwa hadits tersebut dari perkataan Abu Burdah sendiri.</p>
<p>-325<br />
Dari hadits Abdullah Ibnu Salam menurut riwayat Ibnu Majah &#8212; dan dari Jabir menurut riwayat Abu Dawud dan Nasa&#8217;i: &#8220;Bahwa saat tersebut adalah antara sholat Ashar hingga terbenamnya matahari.&#8221; Hadits ini dipertentangkan lebih dari empat puluh pendapat yang telah saya (Ibnu Hajar) rangkum dalam Syarah Bukhari.</p>
<p>-326<br />
Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Sunnah telah berlaku bahwa pada setiap empat puluh orang ke atas wajib mendirikan sholat Jum&#8217;at. Riwayat Daruquthni dengan sanad lemah.</p>
<p>-327<br />
Dari Samurah Ibnu Jundab, bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memohon ampunan untuk orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan pada setiap Jum&#8217;at. Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad lemah.</p>
<p>-328<br />
Dari Jabir Ibnu Samurah bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada saat khutbah membaca ayat-ayat Qur&#8217;an untuk memberi peringatan kepada orang-orang. Riwayat Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Muslim.</p>
<p>-329<br />
Dari Thariq Ibnu Syihab bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat Jum&#8217;at itu hak yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjama&#8217;ah kecuali empat orang, yaitu: budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit.&#8221; Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Thoriq tidak mendengarnya dari Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam Dikeluarkan oleh Hakim dari riwayat Thariq dari Abu Musa.</p>
<p>-330<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Seorang yang bepergian itu tidak wajib sholat Jum&#8217;at.&#8221; Riwayat Thabrani dengan sanad lemah.</p>
<p>-331<br />
Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam apabila telah duduk di atas Mimbar, maka beliau berhadapan dengan muka kami. Riwayat Tirmidzi dengan sanad lemah.</p>
<p>-332<br />
Menurut Ibnu Khuzaimah hadits tersebut mempunyai saksi dari hadits Bara&#8217;.</p>
<p>-333<br />
Hakam Ibnu Hazn Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami mengalami sholat Jum&#8217;at bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, beliau berdiri dengan memegang tongkat atau busur panah.&#8221; Riwayat Abu Dawud.</p>
<p>-334<br />
Dari Sholeh Ibnu Khuwwat Radliyallaahu &#8216;anhu dari seseorang yang pernah sholat Khouf (sholat dalam keadaan takut atau perang) bersama Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada hari perang Dzatir Riqo&#8217;: Bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berbaris bersama beliau dan sekelompok lain menghadapi musuh. Lalu beliau sholat bersama mereka (kelompok yang berbaris) satu rakaat, kemudian beliau tetap berdiri dan mereka menyelesaikan sholatnya masing-masing. Lalu mereka bubar dan berbaris menghadapi musuh. Datanglah kelompok lain dan beliau sholat satu rakaat yang tersisa, kemudian beliau tetap duduk dan mereka meneruskan sendiri-sendiri, lalu beliau salam bersama mereka. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim. Hadits ini juga terdapat dalam kitab al-Ma&#8217;rifah karangan Ibnu Mandah, dari sholeh Ibnu Khuwwat dari ayahnya.</p>
<p>-335<br />
Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku berperang bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam di jalan menuju Najed. Kami menghadapi musuh dan berbaris menghadapi mereka. Maka berdirilah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dan sholat bersama kami, sekelompok berdiri bersama beliau dan sekelompok lain menghadapi musuh. Beliau sholat satu rakaat dengan kelompok yang bersama beliau dan sujud dua kali, kemudian mereka berpaling menuju tempat kelompok yang belum sholat. Lalu mereka datang dan beliau sholat satu rakaat dan sujud dua kali. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.</p>
<p>-336<br />
Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Aku pernah sholat Khouf bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam Kami berbaris dua barisan, satu barisan di belakang Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, sedang musuh berada di antara kami dan kiblat. Ketika Nabi takbir kami semua ikut takbir, kemudian beliau ruku&#8217; dan kami semua ikut ruku&#8217;, ketika beliau mengangkat kepala (i&#8217;tidal) dari ruku&#8217; kami semua mengangkat kepala, kemudian beliau sujud bersama barisan yang ada di belakangnya, sedang barisan lain tetap berdiri menghadapi musuh. Ketika beliau selesai sujud berdirilah barisan yang ada di belakangnya. Jabir menyebut hadits tersebut. Dalam suatu riwayat lain: Kemudian beliau sujud dan sujud pula barisan pertama, ketika mereka berdiri sujudlah barisan kedua. Kemudian perawi menyebutkan hadits yang serupa dengan hadits tadi, dan di akhir hadits disebutkan: Kemudian Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam salam dan kami semua ikut salam. Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>-337<br />
Menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Ayyasy al-Zuraqiy ditambahkan: Kejadian itu di Usfan.</p>
<p>-338<br />
Menurut riwayat Nasa&#8217;i dari jalan lain, dari Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat dengan sekelompok sahabatnya dua rakaat, lalu beliau salam, kemudian sholat dengan kelompok lain dua rakaat, lalu salam.</p>
<p>-339<br />
Hadits serupa diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Bakrah.</p>
<p>-340<br />
Dari Hudzaifah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat khouf dengan mereka satu rakaat dan dengan mereka yang lain satu rakaat, dan mereka tidak mengqadla. Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasa&#8217;i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-341<br />
Hadits serupa diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu</p>
<p>-342<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sholat khouf itu satu rakaat dalam keadaan bagaimanapun.&#8221; Riwayat Al-Bazzar dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-343<br />
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu dalam hadits yang marfu&#8217;: Dalam sholat khouf tidak ada sujud sahwi. Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.</p>
<p>-344<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Hari Raya Fithri adalah hari orang-orang berbuka dan hari raya Adlha adalah hari orang-orang berkurban.&#8221; Riwayat Tirmidzi.</p>
<p>-345<br />
Dari Abu Umairah Ibnu Anas Ibnu Malik Radliyallaahu &#8216;anhu dari paman-pamannya di kalangan shahabat bahwa suatu kafilah telah datang, lalu mereka bersaksi bahwa kemarin mereka telah melihat hilal (bulan sabit tanggal satu), maka Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar berbuka dan esoknya menuju tempat sholat mereka. Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Lafadznya menurut Abu Dawud dan sanadnya shahih.</p>
<p>-346<br />
Anas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak berangkat (menuju tempat sholat) pada hari raya Fithri, sehingga beliau memakan beberapa buah kurma. Dikeluarkan oleh Bukhari. Dan dalam riwayat mu&#8217;allaq (Bukhari) yang bersambung sanadnya menurut Ahmad: Beliau memakannya satu persatu.</p>
<p>-347<br />
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak keluar pada hari raya Fithri sebelum makan dan tidak makan pada hari raya Adlha sebelum sholat. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.</p>
<p>-348<br />
Ummu Athiyyah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Kami diperintahkan mengajak keluar gadis-gadis dan wanita-wanita haid pada kedua hari raya untuk menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin, wanita-wanita yang haid itu terpisah dari tempat sholat. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-349<br />
Ibnu Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar selalu sholat dua hari raya Fithri dan Adlha sebelum khutbah. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-350<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat pada hari raya dua rakaat, beliau tidak melakukan sholat sebelum dan setelahnya. Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.</p>
<p>-351<br />
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat hari raya tanpa adzan dan qomat. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Bukhari.</p>
<p>-352<br />
Dari Abu Said Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tidak melakukan sholat apapun sebelum sholat hari raya, bila beliau kembali ke rumahnya beliau sholat dua rakaat. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.</p>
<p>-353<br />
Dari Abu Said Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam keluar pada hari raya Fithri dan Adlha ke tempat sholat, sesuatu yang beliau dahulukan adalah sholat, kemudian beliau berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, orang-orang masih tetap pada shafnya, lalu beliau memberikan nasehat dan perintah kepada mereka. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-354<br />
Dari Amar Ibnu Syuaib dari ayahnya dari kakeknya Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Takbir dalam sholat hari raya Fithri adalah tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, dan bacalah al-fatihah dan surat adalah setelah kedua-duanya.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi mengutipnya dari shahih Bukhari.</p>
<p>-355<br />
Dari Abu waqid al-Laitsi Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam dalam sholat hari raya Fithri dan Adlha biasanya membaca surat Qof dan Iqtarabat. Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-356<br />
Jabir Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pada hari raya biasanya mengambil jalan yang berlainan. Dikeluarkan oleh Bukhari.</p>
<p>-357<br />
Abu Dawud juga meriwayatkan hadits serupa dari Ibnu Umar.</p>
<p>-358<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tiba di Madinah dan mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari untuk bermain-main. Maka beliau bersabda: &#8220;Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari raya Adlha dan Fithri.&#8221; Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa&#8217;i dengan sanad yang shahih.</p>
<p>-359<br />
Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Termasuk sunnah Rasul adalah keluar menuju sholat hari raya dengan berjalan kaki. Hadits hasan riwayat Tirmidzi.</p>
<p>-360<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa mereka mengalami hujan pada hari raya, maka Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam sholat hari raya bersama mereka di masjid. Riwayat Abu Dawud dengan sanad lemah.</p>
<p>-361<br />
Al-Mughirah Ibnu Syu&#8217;bah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Pada zaman Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah terjadi gerhana matahari yaitu pada hari wafatnya Ibrahim. Lalu orang-orang berseru: Terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim. Maka Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya berdo&#8217;alah kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula.&#8221; Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Bukhari disebutkan: &#8220;Sampai terang kembali.&#8221;</p>
<p>-362<br />
Menurut riwayat Bukhari dari hadits Abu Bakrah Radliyallaahu &#8216;anhu : &#8220;Maka sholatlah dan berdoalah sampai kejadian itu selesai atasmu.&#8221;</p>
<p>-363<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam mengeraskan bacaannya dalam sholat gerhana, beliau sholat empat kali ruku&#8217; dalam dua rakaat dan empat kali sujud. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam riwayat Muslim yang lain: Lalu beliau menyuruh seorang penyeru untuk menyerukan: Datanglah untuk sholat berjama&#8217;ah.</p>
<p>-364<br />
Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam, maka beliau sholat, beliau berdiri lama sekitar lamanya bacaan surat al-Baqarah, kemudian ruku&#8217; lama, lalu bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibandingkan berdiri yang pertama, kemudian ruku&#8217; lama namun lebih pendek dibanding ruku&#8217; yang pertama, lalu sujud, kemudian berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku&#8217; lama namun lebih pendek dibandingkan ruku&#8217; yang pertama, kemudian bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku&#8217; lama namun lebih pendek dibanding ruku&#8217; yang pertama, kemudian beliau mengangkat kepala lalu sujud, kemudian selesailah dan matahari telah terang, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang-orang. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dalam suatu riwayat Muslim: Beliau sholat ketika terjadi gerhana matahari delapan ruku&#8217; dalam empat sujud.</p>
<p>-365<br />
Dari Ali Radliyallaahu &#8216;anhu juga ada hadits semisalnya.</p>
<p>-366<br />
Dalam riwayat Bukhari dari Jabir: Beliau sholat enam ruku&#8217; dengan empat sujud.</p>
<p>-367<br />
Menurut riwayat Abu Dawud dari Ubay Ibnu Ka&#8217;ab Radliyallaahu &#8216;anhu : Beliau sholat lalu ruku&#8217; lima kali dan sujud dua kali, dan melakukan pada rakaat kedua seperti itu.</p>
<p>-368<br />
Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Tidak berhembus angin sedikitpun kecuali Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berlutut di atas kedua lututnya, seraya berdoa: &#8220;Ya Allah jadikan ia rahmat dan jangan jadikan ia siksa.&#8221; Riwayat Syafi&#8217;i dan Thabrani. Dari dia Radliyallaahu &#8216;anhu : Bahwa beliau sholat dengan enam ruku&#8217; dan empat sujud ketika terjadi gempa bumi, dan beliau bersabda: &#8220;Beginilah cara sholat (jika terlihat) tanda kekuasaan Allah.&#8221; Diriwayatkan oleh Baihaqi. Syafi&#8217;i juga menyebut hadits seperti itu dari Ali Ibnu Abu Thalib namun tanpa kalimat akhirnya.</p>
<p>-369<br />
Ibnu Abbas Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam keluar dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu&#8217;, tenang, berdoa kepada Allah, lalu beliau sholat dua rakaat seperti pada sholat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti pada sholat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini. Riwayat Imam Lima dan dinilai shahih oleh Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban.</p>
<p>-370<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu : Bahwa orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam tentang tidak turunnya hujan. Beliau menyuruh mengambil mimbar dan meletakkannya di tempat sholat, lalu beliau menetapkan hari dimana orang-orang harus keluar. Beliau keluar ketika mulai tampak sinar matahari. Beliau duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, kemudian beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya kalian telah mengadukan kekeringan negerimu padahal Allah telah memerintahkan kalian agar berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doamu. Lalu beliau berdoa, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.&#8221; Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya terus menerus hingga tampak warna putih kedua ketiaknya, lalu beliau masih membelakangi orang-orang dan membalikkan selendangnya dan beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap orang-orang dan turun, lalu sholat dua rakaat. Lalu Allah mengumpulkan awan, kemudian terjadi guntur dan kilat, lalu turun hujan. Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Hadits ini gharib dan sanadnya baik.</p>
<p>-371<br />
Mengenai kisah membalikkan selendang dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah Ibnu Zaid di dalamnya disebutkan: Lalu beliau menghadap kiblat dan berdoa, kemudian sholat dua rakaat dengan bacaan yang keras.</p>
<p>-372<br />
Menurut riwayat Daruquthni dari hadits mursal Abu Ja&#8217;far al-Baqir: Beliau membalikkan selendang itu agar musim kemarau berganti (dengan musim hujan).</p>
<p>-373<br />
Dari Anas bahwa ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum&#8217;at di saat Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berdiri memberikan khutbah, lalu orang itu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah binasa, jalan-jalan putus, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kita hujan. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: &#8220;Ya Allah turunkanlah hujan pada kami, ya Allah turunkanlah hujan kepada kami.&#8221; Lalu dia meneruskan hadits itu dan didalamnya ada doa agar Allah menahan awan itu. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-374<br />
Dari Anas bahwa Umar Radliyallaahu &#8216;anhu bila orang-orang ditimpa kemarau ia memohon hujan dengan tawasul (perantaraan Abbas Ibnu Abdul Mutholib. Ia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu memohon hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau beri kami hujan, dan sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan. Lalu diturunkan hujan kepada mereka. Riwayat Bukhari.</p>
<p>-375<br />
Dari dia Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah kehujanan, lalu beliau membuka bajunya sehingga badan beliau terkena hujan. Beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya hujan ini baru datang dari Tuhannya.&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-376<br />
Dari &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bila melihat hujan, beliau berdoa: &#8220;Ya Allah curahkanlah hujan yang bermanfaat.&#8221; Dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim.</p>
<p>-377<br />
Dari Sa&#8217;ad Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berdoa sewaktu memohon hujan: &#8220;Ya Allah ratakanlah bagi kami awan yang tebal, berhalilintar, yang deras, berkilat, yang menghujani kami dengan rintik-rintik, butir-butir kecil yang banyak siramannya, wahai Dzat yang Maha Agung dan Mulia.&#8221; Riwayat Abu Awanah dalam kitab shahihnya.</p>
<p>-378<br />
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Nabi Sulaiman pernah keluar untuk memohon hujan, lalu beliau melihat seekor semut terlentang di atas punggungnya dengan kaki-kakinya terangkat ke langit seraya berkata: &#8220;Ya Allah kami adalah salah satu makhluk-Mu yang bukan tidak membutuhkan siraman airmu. Maka Nabi Sulaiman berkata: Pulanglah, kamu benar-benar akan diturunkan hujan karena doa makhluk selain kamu.&#8221;</p>
<p>-379<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memohon hujan, lalu beliau memberi isyarat dengan punggung kedua telapak tangannya ke langit. Dikeluarkan oleh Muslim.</p>
<p>-380<br />
Dari Abu Amir al-Asy&#8217;ari Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya akan ada di antara umatku kaum yang menghalalkan kemaluan dan sutra.&#8221; Riwayat Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Bukhari.</p>
<p>-381<br />
Hudzaifah Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang kami minum dan makan dalam tempat terbuat dari emas dan perak, memakai pakaian dari sutera tipis dan tebal, serta duduk di atasnya. Riwayat Bukhari.</p>
<p>-382<br />
Umar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang memakai sutera kecuali sebesar dua, tiga, atau empat jari. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.</p>
<p>-383<br />
Dari Anas Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam memberi keringanan kepada Abdurrahman Ibnu Auf dan Zubair untuk memakai pakaian sutera dalam suatu bepergian karena penyakit gatal yang menimpa mereka. Muttafaq Alaihi.</p>
<p>-384<br />
Ali Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam pernah memberiku pakaian dari campuran sutera. Lalu aku keluar dengan menggunakan pakaian itu dan kulihat kemarahan di wajah beliau, maka aku bagikan pakaian itu kepada wanita-wanita di rumahku. Muttafaq Alaihi dan lafadz hadits ini menurut Muslim.</p>
<p>-385<br />
Dari Abu Musa Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Emas dan sutera itu dihalalkan bagi kaum wanita umatku dan diharamkan bagi kaum prianya.&#8221; Riwayat Ahmad, Nasa&#8217;i dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.</p>
<p>-386<br />
Dari Imran Ibnu Hushoin Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah itu senang bila memberikan suatu nikmat kepada hamba-Nya, Dia melihat bekas nikmat-Nya itu padanya.&#8221; Riwayat Baihaqi.</p>
<p>-387<br />
Dari Ali Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melarang memakai pakaian yang ada suteranya dan yang dicelup kuning. Riwayat Muslim.</p>
<p>-388<br />
Abdullah Ibnu Amar Radliyallaahu &#8216;anhu berkata: Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam melihat kepadaku dua pakaian yang dicelup kuning, lalu beliau bertanya: &#8220;Apakah ibumu menyuruhmu seperti ini?&#8221; Riwayat Muslim.</p>
<p>-389<br />
Dari Asma Binti Abu Bakar Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa dia mengeluarkan jubah Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam yang saku, dua lengan, dan dua belahannya bersulam sutera. Riwayat Abu Dawud. Asalnya dari riwayat Muslim, dan dia menambahkan: Jubah itu disimpan di tempat &#8216;Aisyah Radliyallaahu &#8216;anhu hingga dia wafat, lalu aku mengambilnya. Nabi Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam biasa mengenakannya dan kami mencucinya untuk mengobati orang sakit. Bukhari menambahkan dalam kitab al-Adabul Mufrad: Beliau biasa mengenakannya untuk menemui utusan di hari Jum&#8217;at.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=41&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/05/13/kitab-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WUDHU BATHIN</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/29/wudhu-bathin/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/29/wudhu-bathin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 08:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[



WUDHU BATHIN


Tersebutlah seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf. Ia terkenal wara’, tangguh dalam ibadah dan sangat khusyuk shalatnya. Namun dia selalu khawatir kalau ibadahnya tidak diterima Allah.

Suatu hari Isam menghadiri pengajian seorang sufi terkenal bernama Hatim Al Asham. Isam bertanya, Wahai Aba Abdurrahman (panggilan Hatim), bagaimanakah cara Anda shalat?

Apabila masuk waktu shalat, saya berwudhu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=40&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="font-size:10pt;font-family:tahoma,new york,times,serif;">
<div>
<div>
<div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">WUDHU BATHIN</span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><a title="tempat-wudhu.jpg" rel="nofollow" href="http://mandacutie.files.wordpress.com/2008/02/tempat-wudhu.jpg" target="_blank"><img src="http://mandacutie.files.wordpress.com/2008/02/tempat-wudhu.jpg?w=380&#038;h=290" alt="tempat-wudhu.jpg" width="380" height="290" /></a></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Tersebutlah seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf. Ia terkenal wara’, tangguh dalam ibadah dan sangat khusyuk shalatnya. Namun dia selalu khawatir kalau ibadahnya tidak diterima Allah.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Suatu hari Isam menghadiri pengajian seorang sufi terkenal bernama Hatim Al Asham. Isam bertanya, Wahai Aba Abdurrahman (panggilan Hatim), bagaimanakah cara Anda shalat?</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Apabila masuk waktu shalat, saya berwudhu secara lahir dan batin,”Jawab Hatim. Bagaimana wudhu batin itu? tanya Isam kembali.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Wudhu lahir adalah</span></span></strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;"> membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sedangkan</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">wudhu batin adalah</span></span></strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;"> membasuh anggota badan dengan tujuh perkara..</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Yaitu,dengan tobat, menyesali dosa, membersihkan diri dari cinta dunia, tidak mencari dan mengharapkan pujian dari manusia, meninggalkan sifat bermegah-megahan, menjauhi khianat dan menipu, serta meninggalkandengki, papar Hatim.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Ia melanjutkan, Setelah itu aku pergi ke masjid, kuhadapkan muka dan hatiku ke arah kiblat. Aku berdiri dengan penuh rasa malu. Aku bayangkan Allah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelahkiriku, malaikat maut berada dibelakangku. Aku bayangkan pulaseolah-olah aku berdiri di atas titian Shirathal Mustaqiim dan aku menganggap shalatku ini adalah shalat terakhir bagiku. Kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan doa dalam shalat</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">berusaha aku pahami maknanya. Aku pun rukuk dan sujud dengan mengecilkan</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">diri sekecil-kecilnya di hadapan Allah. Aku bertasyahud( tahiyyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Seperti itulah shalat yang aku lakukan dalam 30 tahun terakhir.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Mendengar paparan tersebut, Isam bin Yusuf tertunduk lesu dan menangis tersedu-sedu membayangkan ibadahnya yang tak seberapa bila dibandingkan Hatim Al Asham.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Wudhu dan penghapusan dosa Jangan sepelekan wudhu. Inilah pesan tersirat yang disampaikan Hatim Al Asham. Mengapa? </span></span><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Shalat dan wudhu adalah satu</span></span></strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;"> <strong><span style="font-weight:bold;">kesatuan, bagaikan dua sisi mata uang. </span></strong>Tidak akan berkualitas shalat seseorang bila wudhunya tidak berkualitas. Pun tidak akan diterima shalat bila tidak diawali wudhu. Melalaikan wudhu sama artinya dengan melalaikan shalat. Wudhu adalah prosesi ibadah yang dipersiapkan untuk mensucikan diri agar mampu melakukan komunikasi Dzat Yang Mahasuci.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Karena itu, menyempurnakan wudhu adalah sebuah keutamaan sekaligus </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">keharusan. </span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong><em><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></em></strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong><em><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-style:italic;font-family:Verdana;">Saat seseorang berwudhu kemudian membaguskan wudhunya dan</span></span></em></strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong><em><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-style:italic;font-family:Verdana;">mengerjakan shalat dua rakaat, di mana ia tidak berbicara dengan dirinya </span></span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-style:italic;font-family:Verdana;">dalam berwudhu dan shalatnya tentang hal duniawi, niscaya keluarlah ia </span></span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-style:italic;font-family:Verdana;">dari segala dosanya, seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. Demikian </span></span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-style:italic;font-family:Verdana;">sabda Rasulullah SAW dari Utsman bin Affan (HR Bukhari Muslim).</span></span></em></strong></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Kata “membaguskan wudhu” dalam hadis ini jangan sekadar dipahami membasuh anggota-anggota badan tertentu secara merata. Namun ada yang lebih penting, yaitu membasuh, membersihkan dan mensucikan organ-organ batin dari keburukan dan dosa sambil terus berzikir kepada Allah. Inilah yang dikatakan wudhu batiniah. Wudhu yang akan membuat shalat kita adaruh-nya.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Tampaknya hadis ini memiliki korelasi kuat dengan hadis yang disampaikan</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Utsman bin Affan lainnya.. </span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Rasulullah SAW  bersabda, Bila seorang Muslim</span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">berwudhu, ketika membasuh muka, maka keluar dari wajahnya dosa-dosa yangpernah dilakukan matanya bersama tetesan air yang terakhir. Ketika </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">membasuh kedua tangannya, maka keluarlah setiap dosa yang pernah </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">dilakukan tangannya bersama tetesan air yang terakhir. Ketika membasuh </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">kakinya, maka keluarlah dosa yang dijalani  oleh kakinya bersama tetesan </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">air yang terakhir, sampai ia bersih dari semua dosa. (HR Muslim).</span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Pengampunan dosa ini akan sulit terwujud dalam wudhu, andai hati lalai </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">dari mengingat Allah. Rasulullah SAW menegaskan, Barangsiapa mengingat </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Allah ketika wudhu, niscaya Allah sucikan tubuhnya secara keseluruhan.</span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Dan barangsiapa tidak mengingat Allah, niscaya tidak disucikan oleh</span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Allah dari tubuhnya selain yang terkena air saja. (HR Abdul Razaq Filjam </span></span></strong><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Ishaghir).</span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Sebenarnya, kata kunci untuk mensinkronkan wudhu lahir dan wudhu batin adalah kesadaran atau niat yang tulus. Kita sadar apa yang sedang kita lakukan. Sadar bahwa wudhu adalah prosesi pembersihan diri. Sadar bahwa wudhu adalah sarana untuk taqarrub ilallah. Sadar bahwa setiap basuhan air wudhu akan menggugurkan dosa-dosa. Intinya kita sadar akan hakikat dan keutamaan wudhu serta memahami tatacaranya seperti yang dicontohkanRasulull ah SAW.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Adanya kesadaran akan melahirkan ketersambungan hati dengan Allah SWT. Saat berkumur-kumur misalnya, sadari dan niatkan bahwa air yang masuk ke mulut bukan sekadar membersihkan kotoran lahir, tapi juga dosa-dosa yang pernah terucap lewat lisan. Demikian pula saat mencuci telapak tangan, membersihkan lubang hidung, membasuh muka, membasuh tangan sampai siku, dsb. Niatkan sebagai sarana pembersihan dosa yang ada pada bagian-bagian tubuh tersebut.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Wudhu sebelum tidur Aktivitas  wudhu</span></span></strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">, sebetulnya tidak terbatas hanya</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">ketika akan shalat. <strong><span style="font-weight:bold;">Setiap saat memiliki wudhu adalah sebuah keutamaan.</span></strong></span></span></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Sebab dengan selalu menjaga wudhu, seseorang akan lebih terjaga perilaku</span></span></strong></div>
<div style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">serta kesehatan fisik dan  jiwanya</span></span></strong><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">. Salah satunya menjelang tidur. Dari</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Al Bara’ bin ‘Azid, Rasulullah SAW bersabda, Kapan pun engkau hendak</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">tidur berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana engkau hendak mengerjakan</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">shalat, berbaringlah dengan menghadap ke arah kanan dan berdoalah (HR</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Bukhari). Hikmahnya, mengawali tidur dengan wudhu dan berzikir akan</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">membuat tidur kita bernilai ibadah dan dicatat sebagai aktivitas dzikir.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Seorang ahli kesehatan mengungkapkan, bila sebelum tidur kita berwudhu dan meminum sepertiga gelas air putih, maka akan terjadi proses grounding dan netralisasi muatan negatif dalam tubuh. Hasilnya kita akan tidur tenang dalam pelukan cinta dan rahmat Allah. Bila kita berzikir dan memuji Allah sebelum tidur, maka memori kita yang terdalam akan merekam dengan baik ikrar cinta kita kepada Allah SWT.</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Wudhu menjelang tidur, akan mendekatkan seseorang kepada surga. Rasul pernah memvonis seseorang sebagai ahli surga. </span></span><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Para</span></span><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;"> sahabat penasaran.. Apa gerangan yang membuat orang tersebut dimuliakan sedemikian rupa. Setelah diselidiki, ternyata sebelum tidur ia selalu berwudhu.. Ia bersihkan anggota badannya dari najis. Dan sebelum mata terpejam, ia bersihkan hatinya dari iri, dengki, dendam, serta kebencian. Ia lupakan pula keburukan orang lain kepadanya, sehingga hatinya benar-benar lapang.</span></span></div>
<div><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Demikianlah, bagi seorang Mukmin, wudhu adalah pembersih di dunia dan</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">perhiasan  indah pada Hari Kiamat (HR Muslim).</span></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"></span></div>
<div style="text-align:center;"><span style="font-family:Verdana;color:navy;font-size:x-small;"><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:Verdana;">Wallaahu a’lam.***</span></span></div>
</div>
<div style="text-align:center;">
</div>
<div style="text-align:left;">Dikutip dari Neng Asih.
</div>
</div>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=40&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/29/wudhu-bathin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mandacutie.files.wordpress.com/2008/02/tempat-wudhu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tempat-wudhu.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersedekah pada orang mukmin maupun kafir</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/bersedekah-pada-orang-mukmin-maupun-kafir/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/bersedekah-pada-orang-mukmin-maupun-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 08:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Sedangkan ajaran lembut adalah sepanjang sejarah Islam hingga kini. Malah ketika Islam besar, diwajibkan melindungi semua orang termasuk kafir sekalipun, tentu saja jika mereka membutuhkan dan tidak memusuhi dan menentang umat Islam.

Bahkan dalam beramal, dulu (pada jaman Rasulullah saw) ketika umat Islam sedikit dan kecil, diperintahkan kalau beramal itu hanya pada sesama muslim saja, tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=39&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Sedangkan ajaran lembut adalah sepanjang sejarah Islam hingga kini. Malah ketika Islam besar, diwajibkan melindungi semua orang termasuk kafir sekalipun, tentu saja jika mereka membutuhkan dan tidak memusuhi dan menentang umat Islam.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bahkan dalam beramal, dulu (pada jaman Rasulullah saw) ketika umat Islam sedikit dan kecil, diperintahkan kalau beramal itu hanya pada sesama muslim saja, tapi ketika sudah besar, dan kaya, Allah memerintahkan untuk memberi sedekah pada semua orang tidak pandang agama dan keyakinan orang itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Diriwayatkan oleh An Nasa’i, Al Hakim, Al Bazzar, At Thabarani dll, yang bersumber dari Ibnu Abas.</p>
<p class="MsoNormal">Ibnu Abbas berkata: “Dahulu para sahabat tidak suka memberi harta kepada keluarga mereka yang masih musyrik. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah saw, dan beliau pun membenarkan mereka. Maka turunlah ayat …<span dir="rtl">لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ</span> …sampai …<span dir="rtl">وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ</span> .</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl">لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ</span><span> <span dir="rtl">وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ</span> <span dir="rtl">فَلأنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا</span> <span dir="rtl">مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ</span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Q.2:272)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tentang membantu, Allah tidak membedakan apakah yang kita bantu itu mukmin atau musyrik, akan mendapatkan balasan yang sama. Sedangkan masalah petunjuk (taufik/hidayah) hanya sesuai kehendak Allah.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=39&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/bersedekah-pada-orang-mukmin-maupun-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>assalamu&#8217;alaikum</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/assalamualaikum/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/assalamualaikum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 08:26:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Supriyadi Amir (4/25/2008 8:38:56 AM): assalamu&#8217;alaikum request to all muslim&#8230;&#8230;Don&#8217;t say &#8221; mosque&#8221; say &#8221; masjid&#8221; coz islam people has found that &#8220;mosque&#8221; = &#8220;mosquitos&#8221;&#8230;. don&#8217;t write &#8220;mecca&#8221; write corectly &#8221; makkah&#8221; coz &#8220;mecca&#8221;= house of wines..don&#8217;t write &#8220;mohd&#8221; write complitly as &#8221; muhammad&#8221;coz&#8221;mohd&#8221; the dog with big mouth.don&#8217;t write &#8220;4JJl&#8221;write &#8220;allah SWT&#8221;cz &#8220;4JJl&#8221; for [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=38&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Supriyadi Amir (4/25/2008 8:38:56 AM): assalamu&#8217;alaikum request to all muslim&#8230;&#8230;Don&#8217;t say &#8221; mosque&#8221; say &#8221; masjid&#8221; coz islam people has found that &#8220;mosque&#8221; = &#8220;mosquitos&#8221;&#8230;. don&#8217;t write &#8220;mecca&#8221; write corectly &#8221; makkah&#8221; coz &#8220;mecca&#8221;= house of wines..don&#8217;t write &#8220;mohd&#8221; write complitly as &#8221; muhammad&#8221;coz&#8221;mohd&#8221; the dog with big mouth.don&#8217;t write &#8220;4JJl&#8221;write &#8220;allah SWT&#8221;cz &#8220;4JJl&#8221; for judas jesus isa almasih . n if u want 2 cut &#8220;assalamu&#8217;alaikum&#8221; say &#8220;asslm&#8221;not &#8220;ass&#8221; ass= donkey&#8230;. pleas forward it 2 more muslim&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=38&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/assalamualaikum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketinggian Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/ketinggian-al-quran/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/ketinggian-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 08:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[1. Aku tinggalkan  untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya,  yaitu Kitabullah (Al Qur&#8217;an) dan sunnah Rasulullah Saw. (HR. Muslim)

2. Sesungguhnya  Allah, dengan kitab ini (Al Qur&#8217;an) meninggikan derajat kaum-kaum dan  menjatuhkan derajat kaum yang lain. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Maksudnya: Barangsiapa yang berpedoman dan  mengamalkan isi Al Qur&#8217;an [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=37&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">1. Aku tinggalkan  untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya,  yaitu Kitabullah (Al Qur&#8217;an) dan sunnah Rasulullah Saw. (HR. Muslim)</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
2. Sesungguhnya  Allah, dengan kitab ini (Al Qur&#8217;an) meninggikan derajat kaum-kaum dan  menjatuhkan derajat kaum yang lain. (HR. Muslim)</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify"><em>Penjelasan</em>:<br />
Maksudnya: Barangsiapa yang berpedoman dan  mengamalkan isi Al Qur&#8217;an maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi  barangsiapa yang tidak beriman kepada Al Qur&#8217;an maka Allah akan menghinakannya  dan merendahkan derajatnya.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
3. Apabila  seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur&#8217;an.  (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">4. Orang yang  pandai membaca Al Qur&#8217;an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan  yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR.  Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
5. Sebaik-baik  kamu ialah yang mempelajari Al Qur&#8217;an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
6. Orang yang  dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur&#8217;an ibarat rumah yang bobrok.  (Mashabih Assunnah)</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
7. Barangsiapa  mengulas Al Qur&#8217;an tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka. (HR.  Abu Dawud)</p>
<p><em>Penjelasan</em>:<br />
Maksud hadits ini adalah menterjemah,  menafsirkan atau menguraikan Al Qur&#8217;an hanya dengan akal pikirannya sendiri  tanpa panduan dari hadits Rasulullah, panduan dari para sahabat dan ulama yang  shaleh, serta tanpa akal dan naqal yang benar.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
8. Barangsiapa  menguraikan Al Qur&#8217;an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka  sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan. (HR. Ahmad)</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
9. Barangsiapa  membaca satu huruf dari Al Qur&#8217;an maka baginya satu pahala dan satu pahala  diganjar sepuluh kali lipat. (HR. Tirmidzi)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=37&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/ketinggian-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa hukum oral seks?</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/apa-hukum-oral-seks/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/apa-hukum-oral-seks/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 08:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Berikut penjelasan mengenai haramnya oral sex
Apa hukum oral seks?
Jawab:
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya
An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,
&#8220;Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah
haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau
memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut
kesepakatan (ulama&#8217;). Apabila (air madzy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=36&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Berikut penjelasan mengenai haramnya oral sex</p>
<blockquote><p>Apa hukum oral seks?</p></blockquote>
<p>Jawab:<br />
Mufti <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Saudi Arabia</span> bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya<br />
An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,</p>
<p>&#8220;Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah<br />
haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau<br />
memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut<br />
kesepakatan (ulama&#8217;). Apabila (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya lalu<br />
ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya.<br />
Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal<br />
tersebut &#8211;sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.&#8221;</p>
<p>Dan dalam kitab Masa`il Nisa&#8217;iyyah Mukhtarah Min Al-`Allamah Al-Albany karya<br />
Ummu Ayyub Nurah bintu Hasan Ghawi hal. 197 (cet. Majalisul Huda<br />
AI¬Jaza&#8217;ir), Muhadits dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh AI-`Allamah<br />
Muhammad Nashiruddin AI-Albany rahimahullah ditanya sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Apakah boleh seorang perempuan mencumbu <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">batang</span> kemaluan (penis) suaminya<br />
dengan mulutnya, dan seorang lelaki sebaliknya?&#8221;<br />
Beliau menjawab:</p>
<p>&#8220;Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya<br />
dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh<br />
(menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti<br />
turunnya onta, dan menoleh seperti<br />
tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak. Dan telah<br />
dimaklumi pula bahwa nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk<br />
tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut<br />
pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai penguat yang telah lalu-,<br />
apalagi hewan yang telah dlketahui kejelekan tabiatnya. Maka seharusnya<br />
seorang muslim &#8211;dan keadaannya seperti ini- merasa tinggi untuk menyerupai<br />
hewan-hewan. &#8220;</p>
<p>Dan salah seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh AI-`Allamah `Ubaid<br />
bin &#8216;Abdillah bin Sulaiman AI-Jabiry hafizhahullah dalam sebuah rekaman,<br />
beliau ditanya sebagai berikut,</p>
<p>&#8220;Apa hukum oral seks&#8217;?&#8221; Beliau menjawab:</p>
<p>&#8220;Ini adalah haram, karena is termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun<br />
banyak di kalangan kaum muslimin yang tertimpa oleh perkara-perkara yang<br />
rendah lagi ganjil menurut syari&#8217;at, akal dan fitrah seperti ini. Hal<br />
tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk mengikuti rangkaian film-film<br />
porno melalui video atau televisi yang rusak. Seorang lelaki muslim<br />
berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia berhubungan dengannya<br />
kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia berhubungan dengannya selain<br />
dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong melampaui batas dan<br />
bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alahi wa sallam.&#8221;</p>
<p>Dikutip dari majalah An-Nashihah Volume 10 1427H/2006M</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=36&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/apa-hukum-oral-seks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bertemu (Melihat) Allah dan Rasul</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/bertemu-melihat-allah-dan-rasul/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/bertemu-melihat-allah-dan-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 07:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[MuhammadSAW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaykum Warahmatullah Wabarakatuh,
Afwan, ana ada pertanyaan yang mungkin bisa dicarikan dalil-dalilnya dari/sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah.
Mungkinkah jika kita nanti masuk surga akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alayhi wa Salam dan para sahabat-sahabat berserta para orang-orang yang taqwa, dan melihat mereka semua, ataukah adakah seperti level-level/tingkatan-tingkatan ketaqwaan agar dapat bertemu mereka (termasuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=35&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p>Assalamu&#8217;alaykum Warahmatullah Wabarakatuh,<br />
Afwan, ana ada pertanyaan yang mungkin bisa dicarikan dalil-dalilnya dari/sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah.<br />
Mungkinkah jika kita nanti masuk surga akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, Rasulullah Shallallahu &#8216;Alayhi wa Salam dan para sahabat-sahabat berserta para orang-orang yang taqwa, dan melihat mereka semua, ataukah adakah seperti level-level/tingkatan-tingkatan ketaqwaan agar dapat bertemu mereka (termasuk Allah Azza wa Jalla), jika levelnya tinggi maka bisa bertemu mereka kelak di surga dan jika level ketaqwaannya tidak tinggi/rendah maka tidak bertemu walaupun kita sudah masuk ke surga.<br />
Afwan atas pertanyaan ini, ana hanya sekedar ingin menambah pengetahuan ana yang mana ana masih dhaif untuk hal ini.<br />
Syukron, Jazzakallah Khairan.<br />
Wassalamu&#8217;alaykum Warahmatullah Wabarakatuh.</p></blockquote>
<p>Alhamdulillah<br />
Melihat Allah merupakan kenikmatan yang tertinggi bagi penghuni jannah. Sedangkan dunia kita ini adalah bukan tempat kenikmatan, akan tetapi merupakan tempat bersusah payah, bersedih dan tempat pemberian beban (taklif) atau tempat usaha. Jadi Allah tidak bisa dilihat di dunia sekarang ini, akan tetapi di akhirat nanti orang-orang beriman akan melihatNya.</p>
<p>MELIHAT ALLAH DI AKHIRAT</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin<br />
<a href="http://www.almanhaj.or.id/content/363/slash/0" target="_blank"><span class="yshortcuts">http://www.almanhaj.or.id/content/363/slash/0</span></a></p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : &#8220;Benarkah Allah bisa dilihat di akhirat nanti ? Apa dalilnya dan mana pendapat yang rajah (kuat) dalam masalah ini ?&#8221;</p>
<p>Jawaban.<br />
Menurut Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, melihat Allah di akhirat nanti adalah pasti kebenarannya dan barangsiapa yang mengingkarinya berarti kafir. Orang-orang mukmin akan melihatNya pada hari kiamat dan ketika mereka berada di dalam jannah sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Keyakinan seperti ini berdasarkan ijma&#8217; Ahlus Sunnah. Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat RabbNya&#8221;. [Al-Qiyamah : 22-23]</p>
<p>Allah juga berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik dan tambahan&#8221;. [Yunus : 26]</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menafsirkan tambahan dengan kenikmatan melihat wajah Allah. Disebutkan pula dalam hadits bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dan ketika di dalam jannah.</p>
<p>Adapun dalam kehidupan dunia, maka tiada seorangpun yang bisa melihat Allah. Allah berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan&#8221;. [Al-An'aam : 103]</p>
<p>Allah pernah berfirman kepada Nabi Musa : &#8216;Lantaraanii&#8217; (kamu tidak akan bisa melihat-Ku) [Al-A'raf : 143].</p>
<p>Disebutkan pula bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Ketahuilah bahwa tiada seorangpun yang akan bisa melihat Rabb-nya sehingga ia mati&#8221;.</p>
<p>Melihat Allah merupakan kenikmatan yang tertinggi bagi penghuni jannah. Sedangkan dunia kita ini adalah bukan tempat kenikmatan, akan tetapi merupakan tempat bersusah payah, bersedih dan tempat pemberian beban (taklif) atau tempat usaha. Jadi Allah tidak bisa dilihat di dunia sekarang ini, akan tetapi di akhirat nanti orang-orang beriman akan melihatNya.</p>
<p>Sedangkan orang-orang kafir, di akhiratpun nanti tetap tidak bisa melihat Allah, karena mereka dihalangi untuk melihatNya, Allah Ta&#8217;ala berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya : Tidak demikian, namun sesungguhnya mereka pada hari (kiamat) itu benar-benar terhalang dari melihat Rabb mereka&#8221;. [Al-Muthaffifin : 15]</p>
<p>RU&#8217;YATULLAH (MELIHAT ALLAH PADA HARI KIAMAT)</p>
<p>Oleh<br />
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas<br />
<a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2403/slash/0" target="_blank"><span class="yshortcuts">http://www.almanhaj.or.id/content/2403/slash/0</span></a></p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwasanya kaum Muslimin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat secara jelas dengan mata kepala mereka sebagaimana melihat matahari dengan terang, tidak terhalang oleh awan sebagaimana mereka melihat bulan di malam bulan purnama. Mereka tidak berdesak-desakan dalam melihat-Nya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian, sebagaimana kalian melihat bulan pada malam bulan purnama, kalian tidak terhalang (tidak berdesak-desakan) ketika melihat-Nya. Dan jika kalian sanggup untuk tidak dikalahkan (oleh syaithan) untuk melakukan shalat sebelum Matahari terbit (shalat Subuh) dan sebelum terbenamnya (shalat ‘Ashar), maka lakukanlah.”[1]</p>
<p>Kaum Mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di padang Mahsyar, kemudian akan melihat-Nya lagi setelah memasuki Surga, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[2]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.</p>
<p>&#8220;Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.” [Al-Qiyaamah: 22-23]</p>
<p>Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kenikmatan yang paling dicintai bagi penghuni Surga.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.” [Yunus: 26]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan lafazh “jiyadah” (tambahan), pada ayat di atas dengan kenikmatan dalam melihat wajah Allah, sebagaimana diriwayatkan:</p>
<p>Dari Shuhaib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila ahli Surga telah masuk ke Surga, Allah berkata: ‘Apakah kalian ingin tambahan sesuatu dari-Ku?’ Kata mereka: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam Surga dan menyelamatkan kami dari api Neraka?’ Lalu Allah membuka hijab-Nya, maka tidak ada pemberian yang paling mereka cintai melainkan melihat wajah Allah Azza wa Jalla. Kemudian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini: ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.’” [Yunus: 26] [3]</p>
<p>Adapun di dalam kehidupan dunia, maka tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah, sebagaimana firman-Nya</p>
<p>&#8220;Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” [Al-An’aam: 103]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi Musa Alaihissalam</p>
<p>&#8220;Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku.” [Al-A’raaf: 143]</p>
<p>Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p>&#8220;Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang akan bisa melihat Rabb-nya hingga ia meninggal dunia&#8221;[4]</p>
<p>Juga pernyataan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata.</p>
<p>&#8220;Barangsiapa menyangka bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya, maka orang itu telah melakukan kebohongan yang besar atas Nama Allah.”[5]</p>
<p>Adapun orang-orang kafir, mereka tidak akan bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala selama-lamanya, begitu juga di akhirat nanti, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p>“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” [Al-Mu-thaffifin: 15]</p>
<p>Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan lainnya bahwa ahli Surga akan melihat wajah Allah Jalla Jala Luhu. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata.</p>
<p>&#8220;Tatkala Allah menghijab (menghalangi) orang kafir dari melihat Allah dalam keadaan murka, maka ayat ini sebagai dalil bahwa wali-wali Allah (kaum Mukminin) akan melihat Allah dalam keadaan ridha.”[6]</p>
<p>Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang ru&#8217;-yatullaah (melihat Allah pada hari Kiamat), maka beliau rahimahullah menjawab.</p>
<p>“Hadits-haditsnya shahih, kita mengimani dan mengakuinya, dan setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih, kita mengimani dan mengakuinya.”[7]</p>
<p>[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]<br />
_________<br />
Footnote<br />
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 554) dan Muslim (no. 633 (211)), dari Sahabat Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu &#8216;anhu. Lafazh &#8220;tudhommuuna&#8221; bermakna tidak terhalang oleh awan, bisa juga dengan lafazh &#8220;tudhommuuna&#8221;ó yang bermakna tidak berdesak-desakan. Lihat Fat-hul Baari (II/33).<br />
[2]. Lihat Syarah Lum’atul I’tiqaad (hal. 87), oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah<br />
[3]. HR. Muslim (no. 181), at-Tirmidzi (no. 2552 dan 3105), Ibnu Majah (no. 187), Ahmad (IV/332-333), Ibnu Abi ‘Ashim (no. 472), dari Shuhaib Radhiyallahu &#8216;anhu dan ini adalah lafazh Muslim.<br />
[4]. HR. Muslim (no. 2930 (95)), Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 2044), dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma<br />
[5]. HR. Muslim (no. 177 (287)). Lihat juga masalah ini dalam Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal 188-198) takhrij Syaikh al-Albani, dan Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (VI/509-512).<br />
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Nabi j melihat Allah dengan hati-nya. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma.<br />
[6]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (III/560, no. 883), Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 191), takhrij Syaikh al-Albani, dan Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (VI/499).<br />
[7]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (III/562 no. 889).</p>
<p>Disalin dari <span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">assunnah@yahoogroups.com</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=35&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/25/bertemu-melihat-allah-dan-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Membaca Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/24/hukum-membaca-al-quran/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/24/hukum-membaca-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 06:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikm
Ana mau tanya :
1. Bagaimanakah keutamaan membaca al-qur&#8217;an bagi umat Islam ?
2. Bagaimana hukuman bagi umat Islam yang tidak mau belajar membaca al-qur&#8217;an sehingga dia tidak bisa membaca al-qur&#8217;an ?
3. Bagaimanakah tanggung jawab seorang suami/istri apabila mempunyai suami/istri yang muallaf dalam hal mengajari suami/istrinya agar bisa membaca al-qur&#8217;an ? (apakah suami/istrinya itu berdosa apabila suami/istrinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=33&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p>Assalamualaikm<br />
Ana mau tanya :<br />
1. Bagaimanakah keutamaan membaca al-qur&#8217;an bagi umat Islam ?<br />
2. Bagaimana hukuman bagi umat Islam yang tidak mau belajar membaca al-qur&#8217;an sehingga dia tidak bisa membaca al-qur&#8217;an ?<br />
3. Bagaimanakah tanggung jawab seorang suami/istri apabila mempunyai suami/istri yang muallaf dalam hal mengajari suami/istrinya agar bisa membaca al-qur&#8217;an ? (apakah suami/istrinya itu berdosa apabila suami/istrinya yang muallaf itu tidak bisa membaca al-qur&#8217;an karena tidak diajari nya atu tidak disuruh nya belajar mengaji) ?<br />
Mohon bantuan teman-teman semua memberikan penjelasan atas pertanyaan saya di atas.<br />
Mungkin ada diantara teman2 yang faham tentang hal ini.<br />
Jazakallah wa khoiron katsir</p></blockquote>
<p>Alhamdulillah,<br />
Disyariatkan bagi orang Islam untuk selalu memperhatikan Al-Qur’an, memperhatikan membacanya, tajwidnya, dan men-tadabburi-nya serta mengamalkannya pasti dia diberi pahala, meskipun tidak menghafalnya, sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala” [Potongan Hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha no. 244-(898), kitab Al-Musafirin wa Qashruha, bab. 38]</p>
<p><a href="http://www.almanhaj.or.id/content/655/slash/0" target="_blank">http://www.almanhaj.or.id/content/655/slash/0</a><br />
Tidak ragu lagi bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, dan hanya membacanya karena Allah bisa mendapatkan pahala, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat, saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf” [1]</p>
<p>Jika halnya seperti ini maka seharusnya setiap muslim itu memperhatikan Al-Qur’an, memperhatikan membacanya, tajwidnya dan selalu sering membacanya agar dia termasuk dalam golongan orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, seyogyanya menetapkan jadwal harian untuk membacanya, sehingga tidak ada hari yang berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.</p>
<p>Bila dia mempunyai waktu khusus seperti ba’da shalat Shubuh dan ba’da shalat Maghrib, dia mengambil mushaf dan terus membacanya –bila tidak hafal- dia membaca apa yang mudah baginya setiap hari. Dengan cara seperti ini berarti dia telah memperhatikan Al-Qur’an dan tidak meninggalkannya, karena sesungguhnya Allah mencela orang-orang yang meninggalkannya di dalam firmanNya.</p>
<p>“Artinya : Dan Rasul berkata, “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diacuhkan” [Al-Furqan : 30]</p>
<p>Artinya mereka berpaling dari Al-Qur’an.</p>
<p>Meninggalkannya adalah berpaling darinya, tidak membacanya sesuai dengan yang semestinya dan lain-lain, ini berhubungan dengan orang awam.</p>
<p>Begitu juga kami wasiatkan kepada orang muslim yang baik terhadap dirinya sendiri dan yang cinta kepada sesama, agar mendidik anak-anaknya untuk menghafal Kitab Allah semenjak usia dini, menjadikan mereka cinta terhadap Kitab Allah dan mengajarkannya sejak kecil sehingga mereka tumbuh terdidik di atas pemahaman Kitab Allah.</p>
<p>APA HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN</p>
<p>Oleh<br />
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta<br />
<a href="http://www.almanhaj.or.id/content/559/slash/0" target="_blank">http://www.almanhaj.or.id/content/559/slash/0</a></p>
<p>Pertanyaan.<br />
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah hukum membaca Al-Qur’an, wajib atau sunnah, karena kami sering ditanya tentang hukumnya. Di antara kami ada yang mengatakan bahwa hukumnya tidak wajib, bila membacanya tidak mengapa dan jika tidak membacanya tidak apa-apa. Bila pernyataan itu benar tentu banyak orang yang meninggalkan Al-Qur’an, maka apa hukum meninggalkannya dan apa pula hukum membacanya ?</p>
<p>Jawaban.<br />
Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga terlipah kepada RasulNya, keluarga dan shabatnya, wa ba’du.</p>
<p>Yang disyariatkan sebagai hak bagi orang Islam adalah selalu menjaga untuk membaca Al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan sebagai pelaksanaan atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)” [Al-Ankabut : 45]</p>
<p>Dan firmanNya.</p>
<p>“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)” [Al-Kahfi : 27]</p>
<p>Juga firmanNya tentang nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p>“Artinya : Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri. Dan supaya aku membaca Al-Qur’an (kepada manusia)” [An-Naml : 91-92]</p>
<p>Dan karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“Artinya : Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat” [1]</p>
<p>Seharusnya seorang muslim itu menjauhi dari meninggalkannya dan dari memutuskan hubungan dengannya, walau dengan cara apapun bentuk meninggalkan itu yang telah disebutkan oleh para ulama dalam menafsirkan makna hajrul Qur’an. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsinya (Tafsir Ibnu Katsir 6/117) : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memberi khabar tentang Rasul dan NabiNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata.</p>
<p>“Artinya : Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan” [Al-Furqan : 30]</p>
<p>Itu karena orang-orang musyrik tidak mau diam memperhatikan dan mendengarkan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>“Artinya : Dan orang-orang yang kafir berkata,’Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya” [Fushishilat : 26]</p>
<p>Bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka membuat gaduh, hiruk pikuk dan perkataan-perkataan lain sehingga tidak mendengarnya, ini termasuk makna hujran Al-Qur’an. Tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkannya termasuk makna hujran. Tidak men-tadabburi dan tidak berusaha memahaminya termasuk hujran. Tidak mengamalkannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangan-larangan termasuk makna hujran. Berpaling darinya kepada hal lain, baik berupa sya’ir, percakapan, permainan, pembicaraan atau tuntunan yang diambil dari selain Al-Qur’an, semua itu termasuk makna hujran.</p>
<p>Wabillah at-taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.</p>
<p>[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq]<br />
_________<br />
Footnote<br />
[1]. Dikeluarkan oleh Muslim no. 804, dalam Shalat Al-Musafirin wa Qashruhu, bab II dari hadits Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu<br />
_________________</p>
<p style="text-align:right;">Dikutip dari  assunnah@yahoogroups.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=33&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/24/hukum-membaca-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muhammad Rasulullah Saw</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/muhammad-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/muhammad-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 02:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[MuhammadSAW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[1. Rasulullah Saw bersabda: &#8220;Aku kesayangan Allah (dan tidak congkak). Aku membawa panji &#8220;PUJIAN&#8221; pada hari kiamat, di bawahnya Adam dan yang sesudahnya (dan tidak congkak). Aku yang pertama pemberi syafa&#8217;at dan yang diterima syafaatnya pada hari kiamat (dan tidak congkak). Aku yang pertama menggerakkan pintu surga dan Allah membukanya untukku dan aku dimasukkanNya bersama-sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=32&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1. Rasulullah Saw bersabda: &#8220;Aku kesayangan Allah (dan tidak congkak). Aku membawa panji &#8220;PUJIAN&#8221; pada hari kiamat, di bawahnya Adam dan yang sesudahnya (dan tidak congkak). Aku yang pertama pemberi syafa&#8217;at dan yang diterima syafaatnya pada hari kiamat (dan tidak congkak). Aku yang pertama menggerakkan pintu surga dan Allah membukanya untukku dan aku dimasukkanNya bersama-sama orang-orang beriman yang fakir (dan tidak congkak). Dan Aku lah paling mulia dari kalangan terdahulu dan terbelakang di sisi Allah (dan tidak congkak).&#8221; (HR. Tirmidzi)</p>
<p>2. Ketika Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, &#8220;Akhlaknya adalah Al Qur&#8217;an.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Muslim)</p>
<p>3. Aku penutup para nabi. Tidak ada nabi lagi sesudah aku. (HR. Ahmad dan Al Hakim)</p>
<p>4. Aku diberi (oleh Allah) hikmah-hikmah yang banyak dalam ucapan-ucapan yang sedikit. (Maksudnya, ucapan-ucapan beliau singkat tetapi mengandung makna yang luas dan dalam). (HR. Ahmad)</p>
<p>5. Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: &#8220;Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>6. Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, &#8220;Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah beliau mengeluh &#8220;Ah&#8221; terhadapku dan belum pernah beliau menegur, &#8220;kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.&#8221; (HR. Ahmad)</p>
<p>7. Rasulullah Saw melakukan shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak. Beliau juga tidak senang bila ada orang berjalan di belakangnya. (Artinya, tidak sejajar dan berjalan di belakangnya dengan maksud untuk menghormati beliau.) (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>8. Anas Ra berkata, &#8220;Rasulullah Saw adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani&#8221;. (HR. Ahmad)</p>
<p>9. Tiada seorang beriman hingga aku lebih dicintai dari ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Bukhari)</p>
<p>10. Aku Muhammad dan Ahmad (terpuji), yang dihormati, yang menghimpun manusia, nabi (penyeru) taubat, dan nabi (penyebar) rahmat. (HR. Muslim)</p>
<p>Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) &#8211; Dr. Muhammad Faiz Almath &#8211; Gema Insani Press</p>
<p>.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=32&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/muhammad-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Zakat Pendapatan untuk Bangun Jembatan?</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/bolehkah-zakat-pendapatan-untuk-bangun-jembatan/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/bolehkah-zakat-pendapatan-untuk-bangun-jembatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 02:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[&#62;   Assalamu&#8217;alaikum,
&#62;
&#62; Kita tahu bahwa ada 8 mustahiq zakat dan antum semua sudah tahu kedelapan
&#62; tersebut.
&#62;
&#62; Pertanyaannya:
&#62;
&#62; Bolehkah zakat pendapatan bulanan kita (2.5%) digunakan untuk bangun
&#62; sebuah Jembatan di suatu Kampung?
&#62;
&#62; Kalau dihubungkan dari kedelapan mustahiq tersebut ada pada point yang
&#62; mana? mohon pencerahannya dan attachkan juga hadist atau dalil syar&#8217;inya.
&#62;
&#62; Jazakallah khoiron..
&#62;
&#62; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=31&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p>&gt;   Assalamu&#8217;alaikum,<br />
&gt;<br />
&gt; Kita tahu bahwa ada 8 mustahiq zakat dan antum semua sudah tahu kedelapan<br />
&gt; tersebut.<br />
&gt;<br />
&gt; Pertanyaannya:<br />
&gt;<br />
&gt; Bolehkah zakat pendapatan bulanan kita (2.5%) digunakan untuk bangun<br />
&gt; sebuah Jembatan di suatu Kampung?<br />
&gt;<br />
&gt; Kalau dihubungkan dari kedelapan mustahiq tersebut ada pada point yang<br />
&gt; mana? mohon pencerahannya dan attachkan juga hadist atau dalil syar&#8217;inya.<br />
&gt;<br />
&gt; Jazakallah khoiron..<br />
&gt;<br />
&gt; A. Fitriadhy</p></blockquote>
<p>Alhamdulillah wassholatu wassalamu &#8216;ala rasulillah wa ba&#8217;du:<br />
Sebelum menjawab pertanyaan antum, perlu diperjelas dulu apa itu zakat<br />
pendapatan. Umumnya masyarakat menyamakan zakat pendapatan dengan zakat<br />
profesi, yaitu zakat yang dikeluarkan 2,5% dari gaji atau pendapatan<br />
bulanannya (take home pay), baik dihitung setelah dikurangi biaya hidup<br />
sehari-hari (net profit) ataupun sebelum dikurangi biaya2 (gross profit).<br />
Mereka tidak memperhatikan aturan nishab dan haul dalam syariat Islam.</p>
<p>Contoh:<br />
Fulan gajinya Rp 10 juta/bln. Tiap bulan ia keluarkan zakat sebesar 2,5% x<br />
Rp 10 juta = Rp 250.000,- Fulan tsb tidak peduli apakah pendapatannya (yg Rp<br />
10 juta) itu sudah mencapai nishab/belum dan dia tidak menunggu sampai genap<br />
1 tahun (haul) utk dikeluarkan zakatnya.</p>
<p>Nah, zakat pendapatan/profesi seperti ini tidak ada contohnya dari Nabi<br />
shallallahu alaihi wasallam dan generasi as-Salafus Shalih radhiyallahu<br />
anhum. Padahal beliau bersabda: *&#8221;Man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu<br />
fahuwa raddun&#8221;* (barangsiapa yang melakukan hal yang baru dalam urusan<br />
(agama) kami yang tidak ada dasar darinya maka tertolak) HR al-Bukhari &amp;<br />
Muslim. Juga sabda beliau: *&#8221;Man &#8216;amila &#8216;amalan laisa &#8216;alaihi amruna fahuwa<br />
raddun&#8221;* (barangsiapa yang melakukan satu amalan (ibadah) yang tidak ada<br />
(syariatnya) dari kami maka tertolak) HR Muslim.</p>
<p>Maka dari itu, MUI sampai saat ini tidak pernah mengeluarkan fatwa tentang<br />
bolehnya zakat profesi berdasarkan dalil diatas.</p>
<p>Lantas bagaimana solusinya? Antum bisa dengan cara berinfaq atau shadaqah<br />
yang besarannya tidak diatur dalam syariat Islam. Mau infaq Rp 100rb,<br />
500rb,  atau Rp 1 juta dst&#8230; tidak masalah alias boleh. Waktunya pun tidak<br />
harus menunggu haul. Dan gak perlu repot2 memikirkan mau dimasukkan di<br />
kategori mana dari delapan ashnaf. Disamping itu, para ulama/masyayikh<br />
membolehkan harta dari hasil riba disumbangkan untuk pembangunan jalan,<br />
jembatan dan infrastruktur lainnya yang sifatnya tidak dikonsumsi oleh<br />
manusia karena memakan harta ribawi hukumnya haram. [lihat -misalnya- Fatawa<br />
Lajnah Daimah Ulama Arab Saudi]. Jadi, kalau antum -baarakallahu fiikum-<br />
masih punya rekening di bank ribawi [baca: bank konvensional] bunganya dapat<br />
antum ambil asalkan untuk digunakan pada hal2 tsb diatas.<br />
Wallahul muwaffiq</p>
<p>waalaikumus salam wr wb:<br />
1. Pertama, zakat itu yang wajib menerimanya (mustahiq)nya semuanya adalah manusia, bukan yang lain: fakir, miskin, amil, muallaf, budak, gharim, mujahid fii sabilillah, dan ibnu sabil. Tidak ada mustahiq yang bukan manusia. jadi pertanyaan antum sudah terjawab.</p>
<p>2. Zakat penghasilan itu dikeluarkan setahun sekali bukan sebulan sekali. (Gajian anda yang anda tabungkan lalu anda hitung dalam kurun 12 bulan atau 1 tahun, jika mencapai nishab 85 gram emas 99%, maka tunaikan zakatnya 2.5%-nya). Tentang ini, silakan lihat fatawa syaikh bin Baaz, fatawa bin Utsaimin, dan juga kitab Fiqh Al-Zakah Yusuf Qaradhawy. Sekali lagi, Yusuf Qaradhawy pun mewajibkan haul (putaran 1 tahun) dalam zakat penghasilan.<br />
Demikian. Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Dikutip dari  assunnah@yahoogroups.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=31&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/bolehkah-zakat-pendapatan-untuk-bangun-jembatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KPR Syariah</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/kpr-syariah/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/kpr-syariah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 01:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Sekalian bertanya akhi,
jadi bagaimana hukumnya KPR Syariah, karena setelah ana coba tanya2 akadnya
belum murni jual beli (bank beli ke developer, terus bank jual ke konsumen)
tetapi ada akad bahwa bank memberi kuasa ke konsumen untuk membeli langsung
ke developer?
Terima kasih atas jawabannya, karena memang ana lagi mengalami masalah ini,
mau beli rumah lewat KPR takut riba, mau beli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=30&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p>Sekalian bertanya akhi,</p>
<p>jadi bagaimana hukumnya KPR Syariah, karena setelah ana coba tanya2 akadnya<br />
belum murni jual beli (bank beli ke developer, terus bank jual ke konsumen)<br />
tetapi ada akad bahwa bank memberi kuasa ke konsumen untuk membeli langsung<br />
ke developer?<br />
Terima kasih atas jawabannya, karena memang ana lagi mengalami masalah ini,<br />
mau beli rumah lewat KPR takut riba, mau beli cash belum punya dana,<br />
sementara ini ngontrak dari tahun ke tahun semakin mahal<br />
Semoga kita selalu diberikan kemudahan olehNYA&#8230;..</p></blockquote>
<p>Alhamdulillah wassholatu wassalamu &#8216;ala rasulillah wa ba&#8217;du :</p>
<p>Afwan akhi -baarakallahu fiik- ana baru sempat jawab pertanyaan antum<br />
sekarang. Padahal sudah ana niatkan menjawab dengan segala keterbatasan<br />
waktu yang ada. Alhamdulillah, ana temukan kembali pertanyaan antum. Ana<br />
katakan -wabillahit taufiq-:</p>
<p>Apabila yang terjadi adalah konsumen membeli langsung ke developer dan bank<br />
yang membayarinya secara kontan. Kemudian konsumen/nasabah membayar kepada<br />
bank secara mencicil sebesar harga pokok plus margin keuntungan. Maka<br />
ketahuilah -wahai akhi fillah- yang demikian itu adalah praktek riba yang<br />
diharamkan dalam Al-Qur&#8217;an. Sebab, sebenarnya itu bukanlah margin keuntungan<br />
melainkan bunga (interest) yang dikemas dengan istilah &#8220;margin&#8221;. Wallahul<br />
musta&#8217;an.</p>
<p>Akan tetapi, apabila bank mempersilakan ataupun memberi kuasa kepada<br />
konsumen untuk memilih rumah yang sesuai keinginannya. Setelah ada<br />
verifikasi dan disetujui bank, lantas bank membeli rumah tsb dari developer<br />
dengan membayar secara kontan. Lalu menjualnya kepada nasabah dengan<br />
menyebutkan harga jual sebesar harga pokok plus margin keuntungan yang<br />
disepakati bersama. Maka inilah yang dinamakan *Bai&#8217; al-Murabahah* . Caranya,<br />
nasabah bisa membayar secara angsuran tiap bulan selama sekian tahun atau<br />
membayar lunas pada waktu yang disepakati setelah menyerahkan uang muka sbg<br />
tanda jadi.</p>
<p>Inilah yang ana alami sendiri -wa lillahil hamd- ketika dulu beli rumah<br />
lewat KPR Syariah. Ana juga pernah tanya ke satu bank syariah yang produk<br />
utamanya KPR Syariah. Mereka melakukan sebagaimana yang ana ceritakan<br />
diatas. Jadi, tidak ada yang namanya akad bahwa bank memberi kuasa ke<br />
konsumen untuk membeli langsung ke developer. Yang membeli tetap bank karena<br />
merekalah yang membayar ke developer. Kemudian baru dijual kepada<br />
nasabah/konsumen. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>dikutip dari Assunnah</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=30&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/kpr-syariah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syeikh Abdul Qadir Al Jailani</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/syeikh-abdul-qadir-al-jailani/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/syeikh-abdul-qadir-al-jailani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 07:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang &#8216;alim di Baghdad.  Biaografi
beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail &#8216;Ala Thabaqil Hanabilah  I/301-390, nomor
134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum  diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia. Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa  Syeikh Abdul Qadir Al
Jailani lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=26&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang &#8216;alim di Baghdad.  Biaografi<br />
beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail &#8216;Ala Thabaqil Hanabilah  I/301-390, nomor<br />
134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum  diterjemahkan ke dalam<br />
bahasa Indonesia. Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa  Syeikh Abdul Qadir Al<br />
Jailani lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau  disebut juga dengan<br />
Kailan. Sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al  Jailani atau Al<br />
Kailani atau juga Al Jiliy. Wafat pada hari Sabtu malam,  setelah maghrib,<br />
pada tanggal 9 Rabi&#8217;ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul  Azaj. Beliau<br />
meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat  beliau masih<br />
muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama&#8217; seperti  Ibnu Aqil,<br />
Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra&#8217; dan juga Abu Sa&#8217;ad Al  Muharrimi. Beliau<br />
belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan  juga<br />
perbedaan-perbedaan pendapat para ulama&#8217;. Suatu ketika Abu Sa&#8217;ad  Al<br />
Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama  Babul<br />
Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh  Abdul<br />
Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan  sungguh-sungguh.<br />
Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang  yang ada<br />
tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasehat  beliau.<br />
Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah  beliau.<br />
Sehingga sekolah itu tidak kuat menampungnya. Maka, diadakan  perluasan.<br />
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama&#8217; terkenal. Seperti Al  Hafidz<br />
Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam.  Juga<br />
Syeikh Qudamah penyusun kitab figh terkenal Al Mughni.</p>
<p>Syeikh  Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir,<br />
beliau  menjawab, &#8221; kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa<br />
kehidupannya.  Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian<br />
terhadap kami.  Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk<br />
menyalakan lampu  buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat<br />
fardhu.&#8221; Syeikh Ibnu  Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan<br />
sembilan hari.  Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul<br />
Qadir Al Jailani  sampai beliau meninggal dunia. 1) Beliau adalah seorang<br />
&#8216;alim. Beraqidah Ahlu  Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal<br />
banyak memiliki  karamah-karamah. Tetapi banyak (pula) orang yang<br />
membuat-buat kedustaan atas  nama beliau. Kedustaan itu baik berupa<br />
kisah-kisah, perkataan-perkataan,  ajaran-ajaran, &#8220;thariqah&#8221; yang berbeda<br />
dengan jalan Rasulullah, para  sahabatnya, dan lainnya. Diantara perkataan<br />
Imam Ibnu Rajab ialah, &#8221; Syeikh  Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang<br />
diagungkan pada masanya.  Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik &#8216;ulama dan<br />
para ahli zuhud. Beliau  banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada<br />
seorang yang bernama Al  Muqri&#8217; Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri ( orang<br />
Mesir ) 2)   mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul<br />
Qadir Al  Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara<br />
yang aneh  dan besar ( kebohongannya ). Cukuplah seorang itu berdusta, jika<br />
dia  menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini,<br />
tetapi  hatiku tidak tentram untuk beregang dengannya, sehingga aku<br />
meriwayatkan apa  yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah<br />
mansyhur dan terkenal  dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi<br />
riwayat dari  orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara<br />
yang jauh (  dari agama dan akal ), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan<br />
perkataan  yang batil tidak berbatas.3)  semua itu tidak pantas dinisbatkan<br />
kepada  Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan<br />
bahwa Al  Kamal Ja&#8217;far Al Adfwi4)  telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi<br />
sendiri  tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam  kitab<br />
ini.&#8221;5)   Imam Ibnu Rajab juga berkata, &#8221; Syeikh Abdul Qadir  Al Jailani<br />
rahimahullah memiliki pendapat memiliki pendapat yang bagus dalam  masalah<br />
tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma&#8217;rifat yang sesuai  dengan<br />
sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,  kitab yang<br />
terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib.  Murid-muridnya<br />
mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat  dari<br />
majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya,  ia<br />
berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap  orang-orang<br />
yang menyelisihi sunnah .&#8221; Syeikh Abdul Qadir Al Jailani  menyatakan dalam<br />
kitabnya, Al Ghunyah, &#8221; Dia ( Allah ) di arah atas, berada  diatas &#8216;arsyNya,<br />
meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala  sesuatu.&#8221; Kemudian<br />
beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu  berkata &#8221; Sepantasnya<br />
menetapkan sifat istiwa&#8217; ( Allah berada diatas &#8216;arsyNya  ) tanpa takwil (<br />
menyimpangkan kepada makna lain ). Dan hal itu merupakan  istiwa&#8217; dzat Allah<br />
diatas arsys.&#8221;6) Ali bin Idris pernah bertanya kepada  Syeikh Abdul Qadir Al<br />
Jailani, &#8221; Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali (  kekasih ) yang tidak<br />
berada di atas aqidah ( Imam ) Ahmad bin Hambal?&#8221; Maka  beliau menjawab, &#8220;<br />
Tidak pernah ada dan tidak akan ada.&#8221;7)</p>
<p>Perkataan  Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh<br />
Syeikhul Islam  Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu<br />
menunjukkan kelurusan  aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj<br />
Salaf.</p>
<p>Sam&#8217;ani  berkata, &#8221; Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota<br />
Jailan. Beliau  seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab<br />
ini pada masa  hidup beliau.&#8221;</p>
<p>Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir  Al Jailani dalam<br />
Siyar A&#8217;lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh  sebagai berikut,&#8221;Lebih<br />
dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan  lebih dari seratus<br />
ribu orang telah bertaubat.&#8221;</p>
<p>Imam Adz Dzahabi  menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan<br />
Syeikh Abdul Qadir  yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan<br />
bekiau mengetahui  hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, &#8220;<br />
Intinya Syeikh Abdul  Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat<br />
kritikan-kritikan  terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (<br />
ampunan  atas  kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian<br />
perkataannya merupakan  kedustaan atas nama beliau.&#8221;( Siyar XX/451 ).</p>
<p>Imam Adz Dzahabi juga  berkata, &#8221; Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh<br />
yang riwayat hidup dan  karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh<br />
Abdul Qadir Al Jailani,  dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak<br />
benar bahkan ada yang  mustahil terjadi &#8220;.</p>
<p>Syeikh Rabi&#8217; bin Hadi Al Madkhali berkata dalam  kitabnya, Al Haddul Fashil,<br />
hal.136, &#8221; Aku telah mendapatkan aqidah  beliau  ( Syeikh Abdul Qadir Al<br />
Jailani ) didalam kitabnya yang bernama  Al Ghunyah.8)  Maka aku mengetahui<br />
dia sebagai seorang Salafi. Beliau  menetapkan nama-nama dan sifat-sifat<br />
Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas  manhaj Salaf. Beliau juga membantah<br />
kelompok-kelompok Syi&#8217;ah, Rafidhah,  Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan<br />
kelompok lainnya dengan manhaj  Salaf.&#8221;9)</p>
<p>Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang &#8216;alim Salafi,  Sunni, tetapi<br />
banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama  beliau.<br />
Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu  a&#8217;lam<br />
bishshawwab.</p>
<p>Kesimpulannya beliau adalah seorang &#8216;ulama besar.  Apabila sekarang ini<br />
banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan  mencintainya, maka suatu<br />
kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau  meninggi-ninggikan<br />
derajat beliau di atas Rasulullah n, maka hal ini  merupakan kekeliruan.<br />
Karena Rasulullah n adalah rasul yang paling mulia  diantara para nabi dan<br />
rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah  oleh manusia manapun.</p>
<p>Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan  Syeikh Abdul Qadir Al Jailani<br />
sebagai wasilah ( perantara ) dalam do&#8217;a  mereka. Berkeyakinan bahwa do&#8217;a<br />
seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah,  kecuali dengan perantaranya. Ini<br />
juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang  yang meningal sebagai perantara,<br />
maka tidak ada syari&#8217;atnya dan ini  diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang<br />
berdo&#8217;a kepada beliau. Ini adalah  sebuah kesyirikan besar. Sebab do&#8217;a<br />
merupakan salah satu bentuk ibadah yang  tidak diberikan kepada selain Allah.<br />
Allah melarang mahluknya berdo&#8217;a kepada  selain Allah,</p>
<p>Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan  Allah.</p>
<p>Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di  dalamnya</p>
<p>Disamping ( menyembah ) Allah.</p>
<p>( QS. Al-Jin : 18  )</p>
<p>Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk  memperlakukan para<br />
&#8216;ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam  batas-batas yang telah<br />
ditetapkan syari&#8217;ah.</p>
<p>Akhirnya mudah-mudahan  Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita<br />
sehingga tidak tersesat  dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam  bishshawab.</p>
<p>1)     Siyar A&#8217;lamin Nubala  XX/442</p>
<p>2)     Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf  bin Jarir Al Lakh-mi Asy<br />
Syath-Nufi. Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal  tahun 713 H. Dia dituduh<br />
berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir  Al Jailani.</p>
<p>3)     Seperti kisah Syeikh Abdul Qadir  menghidupkan ayam yang telah mati,<br />
dan  sebagainya.</p>
<p>4)     Nama lengkapnya ialah Ja&#8217;far bin  Tsa&#8217;lab bin Ja&#8217;far bin Ali bin<br />
Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seoarang  &#8216;ulama bermadzhab Syafi&#8217;i.<br />
Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya&#8217;ban tahun  685 H. Wafat tahun 748 H di<br />
Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di  dalam kitan Ad Durarul<br />
Kaminah, biografi nomor  1452.</p>
<p>5)     Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii  Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal.<br />
509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah  As Sindi, Penerbit Darul Manar,<br />
Cet. II, 8 Dzulqa&#8217;dah 1415 H / 8 April 1995  M.</p>
<p>6)     At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq,  hal. 515.</p>
<p>7)     At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat  Tahqiq, hal. 516.</p>
<p>8)     Lihat kitab Al-Ghunyah  I/83-94.</p>
<p>9) At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya  Syeikh Abdul<br />
Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8  Dzulqa&#8217;dah<br />
1415 H / 8 April 1995  M.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Majalah  Assunnah Edisi 07/Tahun  VI/1423H/2002M</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=26&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/syeikh-abdul-qadir-al-jailani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HADITS DAN RIWAYAT PALSU DI SEBAGIAN PENGAJIAN</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/hadits-dan-riwayat-palsu-di-sebagian-pengajian/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/hadits-dan-riwayat-palsu-di-sebagian-pengajian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 06:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari
http://www.almanhaj.or.id/content/2417/slash/0
AL-QUR’AN DAN SUNNAH ADALAH SUMBER PERBAIKAN HATI
Kita, kaum muslimin, harusnya tidak menulis, atau tidak menyampaikan ceramah maupun khutbah, kecuali berisi ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih dan kisah-kisah yang benar. Tidak perlu membawakan hadits-hadits yang dha’if (lemah), maudhu dan kisah-kisah batil. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan.
“…Maka dengan perkataan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=25&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh<br />
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari<br />
<a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2417/slash/0" target="_blank"><span class="yshortcuts">http://www.almanhaj.or.id/content/2417/slash/0</span></a></p>
<p>AL-QUR’AN DAN SUNNAH ADALAH SUMBER PERBAIKAN HATI<br />
Kita, kaum muslimin, harusnya tidak menulis, atau tidak menyampaikan ceramah maupun khutbah, kecuali berisi ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih dan kisah-kisah yang benar. Tidak perlu membawakan hadits-hadits yang dha’if (lemah), maudhu dan kisah-kisah batil. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan.</p>
<p>“…Maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya” [Al-Jatsiyah : 6]</p>
<p>Maksudnya, barangsiapa tidak mengimani Al-Qur’an dan Sunnah, tidak terobati hatinya dengan Al-Qur’an dan Sunnah, niscaya tidak akan pernah memperoleh penawar dengan apapun. Apakah seseorang bisa membenahi hatinya dengan kisah-kisah yang berderajat lemah dan palsu?</p>
<p>Memang, terkadang cerita-cerita palsu bisa mengguratkan pengaruh bagus kepada pendengarnya. Akan tetapi, hanya bersifat temporer (sementara) saja. Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah mendengarkan ceramah dari orang yang beliau kagumi gaya bicaranya. Ia seorang penceramah ulung. Ia membawakan hadits-hadits lemah dan palsu dengan cara yang sangat menarik. Ternyata, beliau tersentuh, sampai menangis saat menyimaknya, meski mengetahui kisah itu palsu. Demikianlah tabiat hati manusia, rentan terpana oleh cerita-cerita yang mengharukan.</p>
<p>Ini mengingatkan kepada yang diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah. Beliau pernah ditanya perihal Al-Harits Al-Muhasibi, seputar jati dirinya, hukum menimba ilmu dan mendatangi majlisnya. Imam Ahmad rahimahullah memilih untuk langsung mendatangi majlis Al-Harits bin Al-Muhasibi untuk mencari tahu.</p>
<p>Beliau tidak duduk di bagian depan Al-Harits, tetapi menyembunyikan diri di balik penutup. Dari situ, beliau mendengar ceramah. Murid-murid menjumpai Imam Ahmad rahimahullah. Tak disangka, kedepatan air matanya bercucuran. Meski demikian, beliau melarang murid-murid mengambil hadits darinya. Begitulah, ceramahnya hanya mempermainkan perasaan, mempengaruhi emosi saja. Bukan lantaran tersulut oleh pengaruh yang syar’i, yaitu melalui Al-Qur’an dan Sunnah.</p>
<p>Menilik fenomena ini, praktek membawakan kisah-kisah yang tidak bisa dipertanggung jawabakan tidak hanya sampai di sini saja. Bahkan sekarang ini, salah seorang muballigh tidak hanya mengisahkan cerita-cerita palsu produk zaman dulu, tetapi juga membuatnya sendiri.</p>
<p>Saya pernah memperoleh cerita yang sempat populer pada waktu lampau dari seseorang. Dimana-mana, sang muballigh membawakan kisah taubat murni dari seorang lelaki bernama Ahmad yang sangat mengharukan, setelah bergelimang kesalahan demi kesalahan. Ternyata, sang pencerita itu mengakui, bahwa dialah kreator cerita yang dimaksud, untuk mengingatkan dan melembutkan hati manusia. Jadi, siapa saja yang belum merasa cukup dengan kandungan Al-Qur’an dan Sunnah, maka bacaan-bacaan lain tidak bisa mewakilinya.</p>
<p>Alhamdulillah, kaidah-kaidah (Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama untuk menarik hati manusia, pent) seperti ini, tidak banyak orang yang mengetahuinya. Kalaupun ada yang mengetahuinya, tidak terlalu menekankannya. Bahkan, di sebagian golongan terdapat unsur kesengajaan untuk menyembunyikan masalah ini. Berbeda dengan Ahli Sunnah, Ahlul Hadits yang memegang manhaj Salaf. Urusan-urusan mereka sangat jelas, saling memberi nasihat dengan hal-hal yang berdasarkan pada kebenaran. Ini merupakan sebuah keutamaan yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ahli Sunnah.</p>
<p>Kesimpulannya, kita tidak boleh menyebutkan, baik dalam mengajar, khutbah, berceramah, maupun tulisan, kecuali nash-nash yang jelas tsabit dan hadits-hadits yang shahih.</p>
<p>HAKIKAT MAU’IZAH (CERAMAH)<br />
Sebagian orang yang berasumsi bahwa mau’izhah (lebih dikenal oleh masyarakat kita dengan mau’izhah hasanah, pent) hanya berbentuk menyajikan kisah-kisah semata, untaian kata yang mampu melembutkan dan mengharukan hati. Namun, sesuai dengan tekstual Al-Qur’an, mau’izhah (hasanah) adalah pembicaraan tentang tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tentang Luqman dalam firman-Nya.</p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi mau’izhah kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar zhalim yang besar” [Luqman : 13]</p>
<p>Ayat di atas menyebutkan bahwa ra’sul mau’izhah (inti mau’izhah) adalah pembicaraan tentang tauhid. Dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan.</p>
<p>“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan mau’izhah kepada kami, air mata bercucuran karenanya dan hati-hati menjadi takut. Seakan-akan itu merupakan mau’izhah orang yang mau pergi meninggalkan (kami). “Wahai Rasulullah, sampaikan wasiat kepada kami”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun seorang budak hitam memimpin kalian. Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) dari kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka, kewajiban kalian adalah memegangi Sunnahku….” [HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad]</p>
<p>Dengan memperhatikan hadits diatas, ternyata mau’izhah (hasanah) itu berupa pesan ketakwaan (tauhid) pembicaraan tentang manhaj dan perintah memegang Sunnah yang terangkum dalam mau’izhah.</p>
<p>Jadi, penceramah sejati, ialah orang yang melembutkan hati manusia dengan dakwah kepada tauhid dan berpegang teguh dengan Sunnah. Membersihkan hati mereka dengan Al-Qur’anul Karim, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan biografi generasi Salafush Shalih dan mengajak hati mereka menuju cara pemahaman Islam yang benar (manhaj shahih). Inilah mau’izhah yang sebenarnya. Bukan dengan cara membawakan kisah-kisah dan hikayat-hikayat yang lemah, maupun kata-kata yang dibuat-buat dan jauh dari cahaya Al-Kitab dan Sunnah.</p>
<p>Masih banyak berkembang fenomena para da’i yang membawakan hadits-hadits dan riwayat-riwayat palsu untuk merebut hati manusia. Mungkin saja ada yang berkata “bukankah diperbolehkan bertumpu pada hadits dha’if dalam urusan fadhailul a’mal dan at-targhib wa-tarhib? Jawabannya, berdasarkan pendapat yang rajih, hukumnya tidak boleh. Bahkan ulama yang memperbolehkannya, telah menetapkan beberapa syarat yang sebenarnya hampir mustahil untuk dipenuhi, dan dijadikan pedoman serta berkumpul dalam sebuah hadits dha’if.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Tabyiniil-Ajab fi ma Warada fi Fadhil Rajab dan muridnya Ash-Shakawi rahimahullah dalam Al-Qaulul Badi Fish-Shalati was-Salami Alasl Habibi Asy-Syafi’ telah menggariskan empat syarat, yaitu : kelemahannya tidak parah, berada dalam konteks amalan yang syar’i, tidak boleh diyakini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengamalkan atau menggunakannya sebagai dalil (istidlal), dan hendaklah diriwayatkan dengan bentuk tamridh (lafazh yang menunjukkan kelemahan riwayat), bukan dengan bentuk ketegasan mengenai kepastian kebenaran riwayat itu. Seperti qila, yuqalu, yurwa, (dikatakan, diriwayatkan, dan lafazh-lafazh lain yang menunjukkan kelemahan derajatnya. pent)</p>
<p>Imam Abu Syamah Al-Maqdisi rahimahullah dalam kitab Al-Ba’its fi Inkaril Bida’ wal Hawadits, bahkan menilai syarat terakhir belum sempurna, sehingga harus ditambah dengan keterangan “wajib diterangkan kelemahannya secara terang-terangan”. Sebab, tidak semua orang mengetahui istilah-istilah di atas. Empat syarat ini cukup sulit terpenuhi seorang pembicara, muballigh atau pengajar.</p>
<p>Para ulama telah memperingatkan umat dari para tukang dongeng (al-qashshash). Mereka ini berada pada masa tertentu, dan akhirnya akan lenyap begitu saja ; karena modal yang mereka miliki telah habis.</p>
<p>PERINGATAN ULAMA TERHADAP MUBALLIGH-MUBALIGH YANG MENGUSUNG CERITA-CERITA PALSU<br />
Keberadaaan muballigh yang membawakan kisah-kisah dan hikayat-hikayat palsu telah diperingatkan oleh ulama dalam kitab-kitab mereka. Orang-orang yang ceramahnya berisi cerita-cerita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan ini tetap selalu ada di tengah masyarakat. Namun masa popularitas mereka tidak bertahan lama. Karena modal yang mereka miliki tidak banyak. Hanya mempunyai 10 atau 100 cerita. Oleh karena itu, kalau kita mau mendata nama-nama muballigh model ini untuk kurun waktu sepuluh tahun sebelumnya, ternyata sudah jauh dari hati masyarakat. Karena pengaruh mereka hanya sementara. (Ini) berbeda dengan ulama-ulama Rabbaniyyun, pengaruh positif dari mereka tetap bertahan, mereka pun masih eksis dan nama mereka selalu dikenang di tengah masyarakat.</p>
<p>Sekilas, saya terkadang menyaksikan seorang muballigh yang sedang berdo’a di televisi. Melalui caranya memanjatkan doa, seakan-akan ia sedang memainkan peran dalam sebuah sandiwara, memejamkan mata, mencucurkan air <span class="yshortcuts">mata</span>, hingga tidak nampak sedang berdakwah.</p>
<p>Sedangkan seorang alim hakiki, ketika ia berbicara, maka kandungannya adalah qalallah dan qala Rasulullah (ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah yang shahih), sebagaimana yang dilantunkan Imam Syafi’i dalam salah satu bait syairnya.</p>
<p>“Ilmu (yang benar) itu ilmu yang berisi periwayatan haddatsana.<br />
Dan (yang) selain itu, hanyalah hasil bisikan dari setan-setan”.</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p>[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah <span class="yshortcuts">Surakarta</span>, Alamat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=25&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/hadits-dan-riwayat-palsu-di-sebagian-pengajian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Imam Bukhari</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-bukhari/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 08:47:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-bukhari/</guid>
		<description><![CDATA[Kelahiran dan Masa Kecil Imam  Bukhari

Imam Bukhari  (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama  lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah  bin Badrdizbah Al-Ju&#8217;fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama  Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=29&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Kelahiran dan Masa Kecil Imam  Bukhari</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Imam Bukhari  (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama  lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah  bin Badrdizbah Al-Ju&#8217;fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama  Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21  Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama  Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan  Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan  keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena  buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut).  Ibunya senantiasa berusaha dan berdo&#8217;a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah,  dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara  total.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Imam Bukhari adalah  ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini  bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu  Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki  derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil  Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir  semua ulama di dunia merujuk kepadanya.</p>
<p>Tempat beliau lahir kini termasuk  wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan  Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah  melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan  ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain,  juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah  kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal  Lemercier Quelquejay dalam bukunya &#8220;Islam in the Sivyet Union&#8221; (New York, 1967),  pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk  Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan  Cina.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Keluarga dan Guru  Imam Bukhari</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
Bukhari dididik  dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban  menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara&#8217; dalam arti berhati-hati  terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih  terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab  Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih.  Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Perhatiannya kepada  ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga  dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti  &#8220;al-Mubarak&#8221; dan &#8220;al-Waki&#8221;. Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli  hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia  mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau  mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau  menerbitkan kitab pertamanya &#8220;Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien&#8221;  (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Bersama gurunya  Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana  dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi  7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits  antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma&#8217;in,  Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al  Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya  dikutip dalam kitab Shahih-nya.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Kejeniusan Imam  Bukhari</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
Bukhari diakui  memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak  sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya  mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya,  Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu  karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena  merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan  mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan  selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran  Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan  yang tidak sempat mereka catat.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Ketika sedang  berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang  ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut  mengajukan 100 buah hadits yang sengaja &#8220;diputar-balikkan&#8221; untuk menguji hafalan  Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali  secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi  kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh  hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan  penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang  sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam  waktu satu kali dengar.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Selain terkenal  sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan  lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga  dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali  hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang  mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan  alat-alat perang lainnya.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Karya-karya Imam  Bukhari</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Karyanya yang  pertama berjudul &#8220;Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien&#8221; (Peristiwa-peristiwa Hukum  di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18  tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke  Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah  beliau menulis kitab &#8220;At-Tarikh&#8221; (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah  berkata, &#8220;Saya menulis buku &#8220;At-Tarikh&#8221; di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu  malam bulan purnama&#8221;.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Karya Imam Bukhari  lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami&#8217; ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At  Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir,  Al Musnad al Kabir, Kitab al &#8216;Ilal, Raf&#8217;ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain,  Kitab Ad Du&#8217;afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya  tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami&#8217; as-Shahih yang lebih  dikenal dengan nama <strong>Shahih Bukhari</strong>.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Dalam sebuah  riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: &#8220;Aku bermimpi melihat Rasulullah  saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang  kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian  ahli ta&#8217;bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis  kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang  mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami&#8217; As-Sahih.&#8221;</p>
<p>Dalam menghimpun  hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan  kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan  hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh  untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara  pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.</p>
<p>Imam Bukhari  senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya,  menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya  merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin  dari perkataannya: &#8220;Aku susun kitab Al Jami&#8217; ini yang dipilih dari 600.000  hadits selama 16 tahun.&#8221;</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Banyak para ahli  hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim  Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab  Shahih Muslim). Imam Muslim  menceritakan : &#8220;Ketika Muhammad bin Ismail (Imam  Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah,  para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang  mereka berikan kepadanya.&#8221; Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh  dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru  Imam Bukhari) berkata : &#8220;Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin  Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya.&#8221;</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Penelitian  Hadits</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Untuk mengumpulkan  dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk  mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan  menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah,  Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad,  Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali.  Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah  beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.</p>
<p>Namun tidak semua  hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi  dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits  tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu  terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari  menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami&#8217; as-Shahih yang  dikenal sebagai Shahih Bukhari.</p>
<p>Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan  diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik  yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para  perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, &#8220;perlu dipertimbangkan, para  ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu&#8221; sementara kepada  para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan &#8220;Haditsnya diingkari&#8221;.  Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata  &#8220;Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu  dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau  lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu  dipertimbangkan&#8221;.</p>
<p>Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga  Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat.  Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek  keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun  berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam,  Hijaz seperti yang dikatakan beliau &#8220;Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan  Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama  enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan  Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.&#8221;</p>
<p>Disela-sela kesibukannya  sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli  fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti  belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak  pernah luput memanah kecuali dua kali.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Metode Imam  Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Sebagai intelektual  muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab  yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga  ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi  pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama  yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga  mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal  hukum.</p>
<p>Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah  (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan  beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat  beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga  berbeda pendapat dengan mereka.</p>
<p>Diantara puluhan kitabnya, yang paling  masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami&#8217; as-Shahih, yang  belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang  penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi  Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari  lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau  (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan  orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang  mendorong beliau untuk menulis kitab &#8220;Al-Jami &#8216;as-Shahih&#8221;.</p>
<p>Dalam menyusun  kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah  seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. &#8220;Saya susun kitab Al-Jami&#8217;  as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah  hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan  kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih&#8221;.  Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara  sistematis.</p>
<p>Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya  di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid  Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan  menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan  di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia  menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits  haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.</p>
<p>Dengan bersungguh-sungguh ia  meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar  memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu  membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang  menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab  hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi  sejumlah hadits lainnya. &#8220;Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini  kecuali hadits-hadits shahih&#8221;, katanya suatu saat.</p>
<p>Di belakang hari, para  ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami&#8217; as-Shahih, Imam Bukhari  selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan  turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan  merupakan materi pokok dari sebuah bab.</p>
<p>Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab  Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada  hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat  secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh  Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar  Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah  atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang  dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara  berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu&#8217;allaq (ada kaitan satu  dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun  jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah.  Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab  Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu  hadits.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Terjadinya  Fitnah</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Muhammad bin Yahya  Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian  yang diberikannya. Ia berkata: &#8220;Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu,  ikuti dan dengarkan pengajiannya.&#8221; Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah  dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang  berpendapat bahwa &#8220;Al-Qur&#8217;an adalah makhluk&#8221;.</p>
<p>Hal inilah yang  menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli :  &#8220;Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur&#8217;an adalah makhluk, maka ia  adalah ahli bid&#8217;ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh  didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.&#8221;  Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.</p>
<p>Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya  itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya:  &#8220;Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur&#8217;an, makhluk ataukah  bukan?&#8221; Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati  pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.</p>
<p>Tetapi orang itu terus  mendesak. Ia pun menjawab: &#8220;Al-Qur&#8217;an adalah kalam Allah, bukan makhluk,  sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid&#8217;ah.&#8221;  Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang  dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli  tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta  dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : &#8220;Iman  adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran  adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama  adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah  aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.&#8221; Di lain  kesempatan, ia berkata: &#8220;Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz  Al-Qur&#8217;an adalah makhluk, ia adalah pendusta.&#8221;</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Wafatnya Imam  Bukhari</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
Suatu ketika  penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya  agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka.  Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh  (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi  beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan  Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri  dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada  Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal  nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak  memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat.  Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Sumber:    <span style="color:#000080;">-  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari">http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari</a></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;">- <span style="color:#000080;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits">http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits</a></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="color:#000080;"> &#8211; <a href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=173">http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=173</a></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="color:#000080;"> &#8211; <a href="http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1">http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1</a></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="color:#000080;"> &#8211; <a href="http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm">http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm</a></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=29&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Imam Muslim</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-muslim/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 08:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim  dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap  Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an  Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah  Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara&#8217;a an Nahr, artinya  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=28&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Imam Muslim  dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap  Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an  Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah  Islam kala itu termasuk dalam sebutan <em>Maa Wara&#8217;a an Nahr</em>, artinya  daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah.  Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan  selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan,  Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota  ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak  ulama besar.</p>
<p>Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang  luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits.  Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima  belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir  dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan  berguru pada seorang ahli hadits, yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian,  beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan  dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.</p>
<p>Selain kepada Ad  Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di  berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya  untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya  pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya  itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk  berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya  dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu  &#8216;Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin  Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa&#8217;id bin Mansur dan Abu Mas &#8216;Abuzar;  di Mesir beliau berguru kepada &#8216;Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama  ahli hadits lainnya.</p>
<p>Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri.  Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama  ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H. Ketika  Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar  pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhari yang memang lebih  senior, lebih menguasai ilmu hadits ketimbang dirinya.</p>
<p>Ketika terjadi  fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, beliau bergabung kepada  Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya  dengan Imam Az Zihli. Yang lebih menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet ke  masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan periwayatan hadits-hadits Nabi  SAW.</p>
<p>Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak  memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal beliau adalah  gurunya. Hal serupa juga beliau lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam  Muslim tak ada pilihan lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya  hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya  tetap mengakui mereka sebagai gurunya.</p>
<p>Imam Muslim yang dikenal sangat  tawadhu&#8217; dan wara&#8217; dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits.  Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus,  Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim,  berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan,  katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara menurut Imam Al Khuli, ulama  besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut berjumlah  4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang  beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000  hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim  membutuhkan waktu 15 tahun.</p>
<p>Mengenai metode penyusunan hadits, Imam  Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu <em>jarh</em>, dan <em>ta&#8217;dil</em>, yakni  suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga  menggunakan <em>sighat at tahammul</em> (metode-metode penerimaan riwayat),  seperti <em>haddasani</em> (menyampaikan kepada saya), <em>haddasana</em> (menyampaikan kepada kami), <em>akhbarana</em> (mengabarkan kepada saya),  <em>akhabarana</em> (mengabarkan kepada kami), dan <em>qaalaa</em> (ia  berkata).</p>
<p>Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu  hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhari. &#8220;Di dunia  ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu  di antaranya adalah Imam Muslim,&#8221; komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafizh.  Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di  masa Abu Quraisy.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Reputasinya  mengikuti gurunya Imam Bukhari</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Dalam khazanah  ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu  monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary  al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat  berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya  ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua  kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi  bagi akurasi akidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.</p>
<p>Melalui  karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’ ash-Shahih,  selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab tersebut memenuhi  khazanah pustaka dunia Islam, dan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren  menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.</p>
<p>Pengembaraan  (<em>rihlah</em>) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan amat  penting bagi perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220 H),  Imam Muslim bertemu dengan guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan  Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah dalam rangka perjalanan  haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H.  Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan  Mesir.</p>
<p>Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhari.  Kepada guru besarnya ini, Imam Muslim menaruh hormat yang luar biasa. &#8220;Biarkan  aku mencium kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter hadits,&#8221; pintanya, ketika di  sebuah pertemuan antara Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Disamping itu, Imam Muslim  memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, sebagaimana al-Bukhari yang  memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang  kemudian populer namanya — sebagaimana disebut oleh Adz-Dzahabi — dengan sebutan  muhsin dari Naisabur.</p>
<p>Maslamah bin Qasim menegaskan, &#8220;Muslim adalah  tsaqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam).&#8221; Senada  pula, ungkapan ahli hadits dan fuqaha’ besar, Imam An-Nawawi, &#8220;Para ulama  sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan  kepeloporannya dalam dunia hadits.&#8221;</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Kitab Shahih  Muslim</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
Imam Muslim  memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama  adalah karyanya, <strong>Shahih Muslim</strong>. Dibanding kitab-kitab hadits shahih  lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam  Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan  tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping  itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.</p>
<p>Walaupun  dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim  sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan  ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat yang  paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut.  Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada  setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau  sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang  berselisih pendapat dengan al-Bukhari.</p>
<p>Kitab Shahih Muslim memang dinilai  kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah al-Bukhari. Namun ada sejumlah  ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya  al-Bukhari.</p>
<p>Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu  Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan  sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian  mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam  Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria  pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama.  Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.</p>
<p>Berdasarkan hitungan  Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits. Metode  penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana dilakukan ahli  hadits, namun beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika didasarkan  isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.</p>
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">
Antara  al-Bukhari dan Muslim</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
Imam Muslim,  sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith  Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian  menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya  al-Bukhari.</p>
<p>Antara al-Bukhari dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki  kesetaraan dalam keshahihan hadits, walaupun hadits al-Bukhari dinilai memiliki  keunggulan setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan gelar  sebagai as-Shahihain.</p>
<p>Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang  lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun  berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan  yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya  perbedaannya sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada  sistematika penulisannya saja, serta perbandingan antara tema dan  isinya.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas  Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya  dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an;  agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup  dengan &#8220;kemungkinan&#8221; bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya  tadlis.</p>
<p>Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat  derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan  hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim,  lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Disamping itu kritik  yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada  al-Bukhari.</p>
<p>Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih  Muslim beralasan — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar —, bahwa Muslim lebih  berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di  negeri sendiri dengan berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau  juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari  lakukan. Dan sejumlah alasan lainnya.</p>
<p>Namun prinsipnya, tidak semua  hadits Bukhari lebih shahih ketimbang hadits Muslim dan sebaliknya. Hanya pada  umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhari itu lebih tinggi derajatnya daripada  keshahihan hadits dalam Shahih Muslim.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Karya-karya Imam  Muslim</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
Imam Muslim  berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti: 1) Al-Asma’ wal-Kuna,  2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul  Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin Syu’aib,  11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 13) Thabaqat, 14) Al-I’lal,  15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri, 18)  Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih  al-Masnad.</p>
<p>Kitab-kitab nomor 6, 20, dan 21 telah dicetak, sementara nomor  1, 11, dan 13 masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental  adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, Al-Musnad  as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an  Rasulillah.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">Wafatnya Imam  Muslim</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Imam Muslim wafat  pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya,  mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan  orang-orang yang sholeh. Amiin.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="color:#000080;">Sumber:    &#8211;  <a href="http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298muslim.htm">http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298muslim.htm</a></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="color:#000080;"> &#8211; </span><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;"><a href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=171">http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=171</a></span></p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=28&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Imam Tirmizi</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-tirmizi/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-tirmizi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 08:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Khazanah keilmuan  Islam klasik mencatat sosok Imam Tirmizi sebagai salah satu periwayat dan ahli  Hadits utama, selain Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan sederet nama  lainnya. Karyanya, Kitab Al Jami&#8217;, atau biasa dikenal dengan kitab Jami&#8217;  Tirmizi, menjadi salah satu rujukan penting berkaitan masalah Hadits dan  ilmunya, serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=27&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Khazanah keilmuan  Islam klasik mencatat sosok Imam Tirmizi sebagai salah satu periwayat dan ahli  Hadits utama, selain Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan sederet nama  lainnya. Karyanya, Kitab Al Jami&#8217;, atau biasa dikenal dengan kitab Jami&#8217;  Tirmizi, menjadi salah satu rujukan penting berkaitan masalah Hadits dan  ilmunya, serta termasuk dalam Kutubus Sittah (enam kitab pokok di bidang Hadits)  dan ensiklopedia Hadits terkenal. Sosok penuh tawadhu&#8217; dan ahli ibadah ini tak  lain adalah Imam Tirmizi.</p>
<p>Dilahirkan pada 279 H di kota Tirmiz, Imam  Tirmizi bernama lengkap Imam Al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin  Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmizi. Sejak kecil, Imam Tirmizi gemar belajar  ilmu dan mencari Hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai  negeri, antara lain Hijaz, Irak, Khurasan, dan lain-lain.</p>
<p>Dalam  lawatannya itu, ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru Hadits  untuk mendengar Hadits dan kemudian dihafal dan dicatatnya dengan baik. Di  antara gurunya adalah; Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud. Selain itu,  ia juga belajar pada Imam Ishak bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin  Abdurrahman, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni&#8217;, dan lainnya.</p>
<p>Perjalanan  panjang pengembaraannya mencari ilmu, bertukar pikiran, dan mengumpulkan Hadits  itu mengantarkan dirinya sebagai ulama Hadits yang sangat disegani kalangan  ulama semasanya. Kendati demikian, takdir menggariskan lain. Daya upaya mulianya  itu pula yang pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa  tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra. Dalam kondisi seperti inilah, Imam  Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada usia 70 tahun.</p>
<p>Di  kemudian hari, kumpulan Hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh  banyak ulama, di antaranya; Makhul ibnul-Fadl, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad  bin Syakir, Abd bin Muhammad An-Nasfiyyun, Al-Haisam bin Kulaib Asy-Syasyi,  Ahmad bin Yusuf An-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud Al-Mahbubi, yang  meriwayatkan kitab Al-Jami&#8217; daripadanya, dan lain-lain. Mereka ini pula  murid-murid Imam Tirmizi.</p>
<p>Banyak kalangan ulama dan ahli Hadits mengakui  kekuatan dan kelebihan dalam diri Imam Tirmizi. Selain itu, kesalehan dan  ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi. Salah satu ulama itu, Ibnu Hibban  Al-Busti, pakar Hadits, mengakui kemampuan Tirmizi dalam menghafal, menghimpun,  menyusun, dan meneliti Hadits, sehingga menjadikan dirinya sumber pengambilan  Hadits para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.</p>
<p>Sementara kalangan  ulama lainnya mengungkapkan, Imam Tirmizi adalah sosok yang dapat dipercaya,  amanah, dan sangat teliti. Kisah yang dikemukakan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam  Tahzib At-Tahzibnya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud, berikut adalah salah  satu bukti kelebihan sang Imam :</p>
<p>Saya mendengar Abu Isa At-Tirmizi  berkata, <em>&#8220;Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Mekkah, dan ketika itu  saya telah menulis dua jilid buku berisi Hadits-hadits berasal dari seorang  guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai  dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya  menemuinya. Dia mengira bahwa &#8216;dua jilid kitab&#8217; itu ada padaku. Ternyata yang  kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip  dengannya. Ketika saya bertemu dengannya, saya memohon kepadanya untuk mendengar  Hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan Hadits yang  telah dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat  bahwa kertas yang kupegang ternyata masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu  apa pun. Melihat kenyataan itu, ia berkata, &#8216;Tidakkah engkau malu kepadaku?&#8217;  Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah  kuhafal semuanya. &#8216;Coba bacakan!&#8217; perintahnya. Aku pun membacakan seluruhnya  secara beruntun. Ia bertanya lagi, &#8216;Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang  kepadaku?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Tidak.&#8217; Kemudian saya meminta lagi agar dia  meriwayatkan Hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan 40 Hadits yang  tergolong Hadits-hadits sulit atau gharib lalu berkata, &#8216;Coba ulangi apa yang  kubacakan tadi!&#8217; Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai, dan ia  berkomentar, &#8216;Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.&#8217;  &#8220;</em></p>
<p>Selain dikenal sebagai ahli dan penghafal Hadits, mengetahui  kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, Imam Tirmizi juga dikenal sebagai ahli  fiqh dengan wawasan dan pandangan luas. Pandangan-pandangan tentang fiqh itu  misalnya, dapat ditemukan dalam kitabnya Al-Jami&#8217;.</p>
<p>Kajian-kajiannya  mengenai persoalan fiqh ini pula mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat  berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya. Sebagai  tamsil, penjelasannya terhadap sebuah Hadits mengenai penangguhan membayar  piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut:  <em>&#8220;Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami. Sufyan  menceritakan kepada kami, dari Abi Az-Zunad, dari Al-Arai dari Abu Hurairah,  dari Nabi SAW, bersabda: Penangguhan membayar utang (yang dilakukan oleh si  berutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu  dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan  utang itu diterimanya.&#8221; </em></p>
<p>Bagaimana penjelasan sang Imam? Berikut ini  komentar beliau, <em>&#8220;Sebagian ahli ilmu berkata: &#8216;Apabila seseorang dipindahkan  piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu,  maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang  dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.&#8217;  Sementara sebagian ahli lainnya mengatakan: &#8216;Apabila harta seseorang (muhtal)  menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal &#8216;alaih, maka baginya dibolehkan  menuntut bayar kepada orang pertama (muhil). Alasannya adalah, tidak ada  kerugian atas harta benda seorang Muslim. Menurut Ibnu Ishak, perkataan &#8216;Tidak  ada kerugian atas harta benda seorang Muslim&#8217; ini adalah &#8216;Apabila seseorang  dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata  orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang  Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu&#8217;.&#8221;</em> demikian penjelasan Imam Tirmizi.</p>
<p>Ini adalah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa cemerlangnya  pemikiran fiqh Imam Tirmizi dalam memahami nash-nash Hadits, serta betapa luas  dan orisinal pandangannya itu. Hingga meninggalnya, Imam Tirmizi telah menulis  puluhan kitab, diantaranya: Kitab Al-Jami&#8217;, terkenal dengan sebutan Sunan  at-Tirmizi, Kitab Al-&#8217;Ilal, Kitab At-Tarikh, Kitab Asy-Syama&#8217;il an-Nabawiyyah,  Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-Asma&#8217; wal-Kuna.</p>
<p>Selain dikenal dengan  sebutan Kitab Jami&#8217; Tirmizi, kitab ini juga dikenal dengan nama Sunan  At-Tirmizi. Di kalangan muhaddisin (ahli Hadits), kitab ini menjadi rujukan  utama, selain kitab-kitab hadits lainnya dari Imam Bukhari maupun Imam Muslim.</p>
<p>Kitab Sunan Tirmizi dianggap sangat penting lantaran kitab ini  betul-betul memperhatikan ta&#8217;lil (penentuan nilai) Hadits dengan menyebutkan  secara eksplisit Hadits yang sahih. Itu sebabnya, kitab ini menduduki peringkat  ke-4 dalam urutan Kutubus Sittah, atau menurut penulis buku Kasyf Az Zunuun,  Hajji Khalfah (w. 1657), kedudukan Sunan Tirmizi berada pada tingkat ke-3 dalam  hierarki Kutubus Sittah.</p>
<p>Tidak seperti kitab Hadits Imam Bukhari, atau  yang ditulis Imam Muslim dan lainnya, kitab Sunan Tirmizi dapat dipahami oleh  siapa saja, yang memahami bahasa Arab tentunya. Dalam menyeleksi Hadits untuk  kitabnya itu, Imam Tirmizi bertolak pada dasar apakah Hadits itu dipakai oleh  fuqaha (ahli fikih) sebagai hujjah (dalil) atau tidak. Sebaliknya, Tirmizi tidak  menyaring Hadits dari aspek Hadits itu dhaif atau tidak. Itu sebabnya, ia selalu  memberikan uraian tentang nilai Hadits, bahkan uraian perbandingan dan  kesimpulannya.</p>
<p>Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: <em>&#8220;Semua Hadits  yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan.&#8221;</em> Oleh karena itu,  sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua Hadits,  yaitu: Pertama, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat  Dhuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab takut dan dalam  perjalanan.&#8221;</em> Juga Hadits, <em>&#8220;Jika ia peminum khamar, minum lagi pada yang  keempat kalinya, maka bunuhlah dia.&#8221;</em> Hadits mengenai hukuman untuk peminum  khamar ini adalah mansukh (terhapus) dan ijma&#8217; ulama pun menunjukkan demikian.  Sedangkan mengenai shalat jamak, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat  untuk meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh hukumnya melakukan  shalat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah  pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli Hadits juga  Ibn Munzir.</p>
<p>Beberapa keistimewaan Kitab Jami&#8217; atau Sunan Tirmizi adalah,  pencantuman riwayat dari sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam Hadits  pokok (Hadits al Bab), baik isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang  bertentangan sama sekali secara langsung maupun tidak langsung.</p>
<p>Selain  itu, keistimewaan yang langsung kaitannya dengan ulum al Hadits (ilmu-ilmu  Hadits) adalah masalah ta&#8217;lil Hadits. Hadits-hadits yang dimuat disebutkan  nilainya dengan jelas, bahkan nilai rawinya yang dianggap penting. Kitab ini  dinilai positif karena dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah  ilmu Hadits, khususnya ta&#8217;lil Hadits tersebut.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="color:#000080;">Sumber: </span><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;"><a href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=172">http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=172</a></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=27&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/sejarah-singkat-imam-tirmizi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1:10 atau 1:2</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/110-atau-12/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/110-atau-12/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 01:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan: 
1	Al Anfaal: 65 »
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu&#8217;min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=21&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#000080;"><strong>Permasalahan: </strong></span></p>
<blockquote><p><span class="postbody">1	Al Anfaal: 65 »<br />
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu&#8217;min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. 8:65)</span></p>
<p>2. 	Al Anfaal: 66 »<br />
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:66)</p>
<p>Inti ayat diatas,<br />
1. Ayat 65 berkata 20 org sabar dapat mengalahkan 200 org musuh. 100 org dapat mengalahkan 1000 org kafir.</p>
<p>2. Ayat 66 berkata 100 org sabar dapat mengalahkan 200 org musuh. 1000 org dapat mengalahkan 2000 org kafir.</p>
<p>Apa maksud dari ayat diatas, kenapa terjadi perubahan antara ayat 65 dan 66, berdasarkan apa perubahan trsebut ???</p></blockquote>
<p><strong><span style="color:#000080;">Pembahasan:</span></strong></p>
<p><span class="postbody"> Kalau menurut saya,<br />
kedua ayat tersebut tidak bertentangan, hanya saja <span style="font-size:18px;line-height:normal;">Allah menguji kesabaran umat Islam waktu itu</span>.</span></p>
<p>Tentunya kita juga tahu bahwa <span style="font-weight:bold;">perang Badar berhasil dimenangkan</span> oleh para mukmin. Dengan kesabaran yang sangat besar tentunya.</p>
<p>Di 8:65 nabi Muhammad saw diperintah untuk mengobarkan semangat para mukmin yang jumlahnya masih sedikit.</p>
<p>Kita lihat bukti 20:200, atau 100:1000. Karena umat Islam mengikuti perintah Allah, berhasil memenangkan pertempuran itu.</p>
<p>Di ayat berikutnya, Allah meringankan beban kesabaran orang Mukmin tapi tetap dengan kesabaran yang besar juga, 100:200, atau 1000:2000.</p>
<p><span style="font-weight:bold;"><span style="color:darkblue;">Sebenarnya sangat sederhana</span>.</span><br />
<span style="font-weight:bold;">Sederhana sekali</span>. Menurut saya.<br />
<span style="font-weight:bold;">MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA.</span></p>
<p>Ketika jumlah umat Mukmin <span style="font-weight:bold;">masih sedikit</span>, musuh sudah datang. Sedang jumlah musuh besar. Apa yang diperintahkan oleh Yang Maha Mengetahui pada Jendralnya?<br />
Beri semangat juang lebih besar. Kobarkan kesabaran dalam berjuang lebih besar 1:20.</p>
<p>Kondisi Mendesak.</p>
<p>Ketika jumlah umat Mukmin <span style="font-weight:bold;">sudah banyak</span>. Karena kebenaran dan pengetahuan orang-orang bertambah, maka pengikut ajaran Allah melalui Muhammad saw semakin banyak.<br />
Apakah Yang Maha Mengetahui tidak tahu kalau 1:2 adalah sudah lebih dari cukup untuk memberi beban bagi semua umat yang berserah diri pada-Nya untuk mengikuti perintah AlAliim. Tentunya dengan kesabaran dalam memperjuangkan perintah Allah.</p>
<p>Dan kita juga harus belajar dari umat tersebut yang meskipun dengan pasukan yang lebih besar tapi mendapat kekalahan karena tidak bersabar dan berserah diri pada aturan dan kehendak Allah.</p>
<p>Maka inti ke-Islam-an kita ada berserah diri pada segala kehendak ArRohman. Ini buktinya.</p>
<p>1:20 harus dengan sabar = menang<br />
1:2 harus dengan sabar = menang.<br />
Tergantung kondisi.</p>
<p>Dan saksikanlah bahwa <span style="text-decoration:underline;">kami berserah diri pada Allah</span> atas segala urusan.</p>
<p>Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan <span style="font-size:18px;line-height:normal;">sampai perang berakhir</span>. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi <span style="font-weight:bold;">Allah hendak menguji sebahagian kamu</span> dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, <span style="text-decoration:underline;">Allah tidak akan menyia-nyiakan amal</span> mereka.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=21&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/23/110-atau-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maryam Saudara Perempuan Harun?</title>
		<link>http://amnan.wordpress.com/2008/04/22/20/</link>
		<comments>http://amnan.wordpress.com/2008/04/22/20/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 09:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dahlanforum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isa as]]></category>
		<category><![CDATA[Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://amnan.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Permasalahan:
Dalam Surat 19-MARYAM-28, dinyatakan bahwa MARYAM, Ibu Yesus adalah SAUDARANYA HARUN dan selanjutnya dalam Surat 3-ALI IMRAN 36-37 dikatakan bahwa MARYAM, ibu Yesus tersebut diserahkan oleh ayahnya bernama IMRAN kepada ZAKARIA untuk dipelihara dan dibesarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi dan terlaksana, karena HARUN sesuai dengan sejarah adalah abangnya nabi Musa yang hidup kurang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=20&subd=amnan&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#000080;"><strong>Permasalahan:</strong></span></p>
<blockquote><p>Dalam Surat 19-MARYAM-28, dinyatakan bahwa MARYAM, Ibu Yesus adalah SAUDARANYA HARUN dan selanjutnya dalam Surat 3-ALI IMRAN 36-37 dikatakan bahwa MARYAM, ibu Yesus tersebut diserahkan oleh ayahnya bernama IMRAN kepada ZAKARIA untuk dipelihara dan dibesarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi dan terlaksana, karena HARUN sesuai dengan sejarah adalah abangnya nabi Musa yang hidup kurang lebih 1500 tahun sebelum Yesus dilahirkan oleh MARYAM dan HARUN tersebut memang punya seorang adik perempuan yang kebetulan pula bernama MARYAM (Keluaran 12: 1-l6), dan ayah dari ketiga bersaudara ini namanya memang AMRAN (dalam lafaz bahasa Arab AL QUR’AN: IMRAN).</p></blockquote>
<p><strong><span style="color:#000080;">Pembahasan:</span></strong></p>
<p><span class="postbody"> Q.19:27: Maka Maryam membawa anak itu (Isa as) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.” 28: “<span style="text-decoration:underline;">Hai saudara perempuan Harun</span>, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” 29: “maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” 30: “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” 31: “dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;”” <span style="font-style:italic;">dan seterusnya ajaran Nabi Isa, seorang Nabi yang benar.</span></span></p>
<p>Orang-orang pada masa Maryam (ibu nabi Isa as) menyebut saudara Harun kepada beliau, <span style="font-weight:bold;">karena Maryam terkenal sangat saleh seperti salehnya Nabi Harun as</span> (menggunakan kutipan kalimat langsung, diucapkan oleh orang di sekitar Maryam). Dalam budaya kita juga sering ada istilah anak monyet, untuk menyebut anak yang nakal (ibunya tetap saja manusia), atau mbahnya setan untuk orang sangat jahat, anaknya Hulk untuk orang yang sangat kuat misalnya, tetap saja tidak ada hubungan darah dengan yang disebutkan itu, mbahnya Mozart untuk yang lihai main musik (tetap saja tidak ada hubungan darah dengan dia) dll. Anda tentu pasti tahu maksud kalimat langsung ‘saudara Harun’ tersebut. Apalagi jika pernah mempelajari kebiasaan Bani Israil masa itu, yang sering memakai kalimat perumpamaan seperti ini.<br />
Ada juga kan yang itu, dipanggil “hai saudaranya Zainudin Mz” karena dia kelakuannya sama dengan Zainudin Mz. Ya, sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Zainudin Mz, kecuali dari nabi Adam. “Hai Saudaranya Ahmad Dahlan”.</p>
<p>Itu kalimat langsung dari orang-orang masa itu yang dikutip dalam Quran, Allah bermaksud memberitahukan hal itu pada nabi-Nya. Jadi tidak ada hubungannya dengan informasi dari sumber Kristen.</p>
<p>________________________</p>
<p><strong><span style="color:#000080;">Ini ada pertanyaan:</span></strong></p>
<blockquote><p>“kenapa Isa berkata ia akan meninggal dan bangkit di kitab Maryam. Tapi ayat lain berkata Isa tidak meninggal melainkan digantikan orang lain dan kemudian diangkat ke surga? “</p></blockquote>
<p>Q.3:55: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada <span style="text-decoration:underline;">akhir ajalmu</span> dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu perselisihkan padanya”. Kepada Aku-lah kembalimu.<br />
Dalam surat 19 (Maryam) ayat 33, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku <span style="text-decoration:underline;">meninggal</span> dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.</p>
<p>Allah juga menjelaskan dalam Q.4:157, bahwa yang disalib dan dibunuh (oleh ahli kitab) adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka, dan sungguh mereka juga ragu-ragu tentang siapa yang mereka bunuh itu.</p>
<p>Q.4:156:Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), 157: dan karena ucapan mereka: &#8220;Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah&#8221;, padahal <span style="text-decoration:underline;">mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya</span>, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan &#8216;Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Dan pada ayat 158, ditegaskan “Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”<br />
<span style="font-style:italic;">Dalam surat 4 (An Nisa) tersebut, ayat berikutnya, 159, menjelaskan, “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.”</span></p>
<p>Tidak ada ayat yang perlu diragukan kawan, tidak ada yang tidak benar. Isa as memang akan mati seperti manusia yang lain, dan akan bangkit lagi pada hari pembalasan (setelah kiamat).</p>
<p>Soal ayat yang menjelaskan tidak mati disalib? Memang benar tidak mati di salib pada waktu itu.<br />
Tapi mati juga akhirnya seperti manusia yang lain.</p>
<p>Jawabannya:<br />
Ya tidak apa-apa… <span style="font-weight:bold;">Isa memang bisa mati, tapi tidak mati dengan dan saat disalib itu</span>. Apanya yang dibingungkan kawan?<br />
Begitu menurut Quran.</p>
<p>Mudah sekali kan… Begini. Kasih contoh:<br />
Saat Kerusuhan 1998, Amnan tidak mati, tapi diselamatkan oleh petugas.<br />
Dalam kesempatan lain, Amnan berdoa, “Tuhan kami, Berilah kesejahteraan pada hidupku ini, dan berilah kesejahteraan pula pada saat aku mati”.</p>
<p>Amnan tetap akan mati, tapi tidak pada saat kerusuhan 1998.</p>
<p>Semoga bisa membantu. Wallahu ‘alam bishshawab.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/amnan.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/amnan.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/amnan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/amnan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/amnan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/amnan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/amnan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/amnan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/amnan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/amnan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/amnan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/amnan.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=amnan.wordpress.com&blog=3536810&post=20&subd=amnan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://amnan.wordpress.com/2008/04/22/20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f35fa684fdaf6840f55d09cf3614dfc2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amnan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>