Agama Islam

Belajar Agama Islam

Arsip untuk ‘Quran’ Kategori

Bersedekah pada orang mukmin maupun kafir

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 25 April 2008

Sedangkan ajaran lembut adalah sepanjang sejarah Islam hingga kini. Malah ketika Islam besar, diwajibkan melindungi semua orang termasuk kafir sekalipun, tentu saja jika mereka membutuhkan dan tidak memusuhi dan menentang umat Islam.

Bahkan dalam beramal, dulu (pada jaman Rasulullah saw) ketika umat Islam sedikit dan kecil, diperintahkan kalau beramal itu hanya pada sesama muslim saja, tapi ketika sudah besar, dan kaya, Allah memerintahkan untuk memberi sedekah pada semua orang tidak pandang agama dan keyakinan orang itu.

Diriwayatkan oleh An Nasa’i, Al Hakim, Al Bazzar, At Thabarani dll, yang bersumber dari Ibnu Abas.

Ibnu Abbas berkata: “Dahulu para sahabat tidak suka memberi harta kepada keluarga mereka yang masih musyrik. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah saw, dan beliau pun membenarkan mereka. Maka turunlah ayat …لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ …sampai …وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ .

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Q.2:272)

Tentang membantu, Allah tidak membedakan apakah yang kita bantu itu mukmin atau musyrik, akan mendapatkan balasan yang sama. Sedangkan masalah petunjuk (taufik/hidayah) hanya sesuai kehendak Allah.

Ditulis dalam Fiqh, Quran | Leave a Comment »

Hukum Membaca Al-Qur’an

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 24 April 2008

Assalamualaikm
Ana mau tanya :
1. Bagaimanakah keutamaan membaca al-qur’an bagi umat Islam ?
2. Bagaimana hukuman bagi umat Islam yang tidak mau belajar membaca al-qur’an sehingga dia tidak bisa membaca al-qur’an ?
3. Bagaimanakah tanggung jawab seorang suami/istri apabila mempunyai suami/istri yang muallaf dalam hal mengajari suami/istrinya agar bisa membaca al-qur’an ? (apakah suami/istrinya itu berdosa apabila suami/istrinya yang muallaf itu tidak bisa membaca al-qur’an karena tidak diajari nya atu tidak disuruh nya belajar mengaji) ?
Mohon bantuan teman-teman semua memberikan penjelasan atas pertanyaan saya di atas.
Mungkin ada diantara teman2 yang faham tentang hal ini.
Jazakallah wa khoiron katsir

Alhamdulillah,
Disyariatkan bagi orang Islam untuk selalu memperhatikan Al-Qur’an, memperhatikan membacanya, tajwidnya, dan men-tadabburi-nya serta mengamalkannya pasti dia diberi pahala, meskipun tidak menghafalnya, sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala” [Potongan Hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha no. 244-(898), kitab Al-Musafirin wa Qashruha, bab. 38]

http://www.almanhaj.or.id/content/655/slash/0
Tidak ragu lagi bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, dan hanya membacanya karena Allah bisa mendapatkan pahala, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat, saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf” [1]

Jika halnya seperti ini maka seharusnya setiap muslim itu memperhatikan Al-Qur’an, memperhatikan membacanya, tajwidnya dan selalu sering membacanya agar dia termasuk dalam golongan orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, seyogyanya menetapkan jadwal harian untuk membacanya, sehingga tidak ada hari yang berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.

Bila dia mempunyai waktu khusus seperti ba’da shalat Shubuh dan ba’da shalat Maghrib, dia mengambil mushaf dan terus membacanya –bila tidak hafal- dia membaca apa yang mudah baginya setiap hari. Dengan cara seperti ini berarti dia telah memperhatikan Al-Qur’an dan tidak meninggalkannya, karena sesungguhnya Allah mencela orang-orang yang meninggalkannya di dalam firmanNya.

“Artinya : Dan Rasul berkata, “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diacuhkan” [Al-Furqan : 30]

Artinya mereka berpaling dari Al-Qur’an.

Meninggalkannya adalah berpaling darinya, tidak membacanya sesuai dengan yang semestinya dan lain-lain, ini berhubungan dengan orang awam.

Begitu juga kami wasiatkan kepada orang muslim yang baik terhadap dirinya sendiri dan yang cinta kepada sesama, agar mendidik anak-anaknya untuk menghafal Kitab Allah semenjak usia dini, menjadikan mereka cinta terhadap Kitab Allah dan mengajarkannya sejak kecil sehingga mereka tumbuh terdidik di atas pemahaman Kitab Allah.

APA HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN

Oleh
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta
http://www.almanhaj.or.id/content/559/slash/0

Pertanyaan.
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah hukum membaca Al-Qur’an, wajib atau sunnah, karena kami sering ditanya tentang hukumnya. Di antara kami ada yang mengatakan bahwa hukumnya tidak wajib, bila membacanya tidak mengapa dan jika tidak membacanya tidak apa-apa. Bila pernyataan itu benar tentu banyak orang yang meninggalkan Al-Qur’an, maka apa hukum meninggalkannya dan apa pula hukum membacanya ?

Jawaban.
Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga terlipah kepada RasulNya, keluarga dan shabatnya, wa ba’du.

Yang disyariatkan sebagai hak bagi orang Islam adalah selalu menjaga untuk membaca Al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan sebagai pelaksanaan atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)” [Al-Ankabut : 45]

Dan firmanNya.

“Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)” [Al-Kahfi : 27]

Juga firmanNya tentang nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri. Dan supaya aku membaca Al-Qur’an (kepada manusia)” [An-Naml : 91-92]

Dan karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat” [1]

Seharusnya seorang muslim itu menjauhi dari meninggalkannya dan dari memutuskan hubungan dengannya, walau dengan cara apapun bentuk meninggalkan itu yang telah disebutkan oleh para ulama dalam menafsirkan makna hajrul Qur’an. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsinya (Tafsir Ibnu Katsir 6/117) : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memberi khabar tentang Rasul dan NabiNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata.

“Artinya : Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan” [Al-Furqan : 30]

Itu karena orang-orang musyrik tidak mau diam memperhatikan dan mendengarkan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang kafir berkata,’Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya” [Fushishilat : 26]

Bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka membuat gaduh, hiruk pikuk dan perkataan-perkataan lain sehingga tidak mendengarnya, ini termasuk makna hujran Al-Qur’an. Tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkannya termasuk makna hujran. Tidak men-tadabburi dan tidak berusaha memahaminya termasuk hujran. Tidak mengamalkannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangan-larangan termasuk makna hujran. Berpaling darinya kepada hal lain, baik berupa sya’ir, percakapan, permainan, pembicaraan atau tuntunan yang diambil dari selain Al-Qur’an, semua itu termasuk makna hujran.

Wabillah at-taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq]
_________
Footnote
[1]. Dikeluarkan oleh Muslim no. 804, dalam Shalat Al-Musafirin wa Qashruhu, bab II dari hadits Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu
_________________

Dikutip dari assunnah@yahoogroups.com

Ditulis dalam Agama, Quran | 1 Komentar »

1:10 atau 1:2

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 23 April 2008

Permasalahan:

1 Al Anfaal: 65 »
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. 8:65)

2. Al Anfaal: 66 »
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:66)

Inti ayat diatas,
1. Ayat 65 berkata 20 org sabar dapat mengalahkan 200 org musuh. 100 org dapat mengalahkan 1000 org kafir.

2. Ayat 66 berkata 100 org sabar dapat mengalahkan 200 org musuh. 1000 org dapat mengalahkan 2000 org kafir.

Apa maksud dari ayat diatas, kenapa terjadi perubahan antara ayat 65 dan 66, berdasarkan apa perubahan trsebut ???

Pembahasan:

Kalau menurut saya,
kedua ayat tersebut tidak bertentangan, hanya saja Allah menguji kesabaran umat Islam waktu itu.

Tentunya kita juga tahu bahwa perang Badar berhasil dimenangkan oleh para mukmin. Dengan kesabaran yang sangat besar tentunya.

Di 8:65 nabi Muhammad saw diperintah untuk mengobarkan semangat para mukmin yang jumlahnya masih sedikit.

Kita lihat bukti 20:200, atau 100:1000. Karena umat Islam mengikuti perintah Allah, berhasil memenangkan pertempuran itu.

Di ayat berikutnya, Allah meringankan beban kesabaran orang Mukmin tapi tetap dengan kesabaran yang besar juga, 100:200, atau 1000:2000.

Sebenarnya sangat sederhana.
Sederhana sekali. Menurut saya.
MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA.

Ketika jumlah umat Mukmin masih sedikit, musuh sudah datang. Sedang jumlah musuh besar. Apa yang diperintahkan oleh Yang Maha Mengetahui pada Jendralnya?
Beri semangat juang lebih besar. Kobarkan kesabaran dalam berjuang lebih besar 1:20.

Kondisi Mendesak.

Ketika jumlah umat Mukmin sudah banyak. Karena kebenaran dan pengetahuan orang-orang bertambah, maka pengikut ajaran Allah melalui Muhammad saw semakin banyak.
Apakah Yang Maha Mengetahui tidak tahu kalau 1:2 adalah sudah lebih dari cukup untuk memberi beban bagi semua umat yang berserah diri pada-Nya untuk mengikuti perintah AlAliim. Tentunya dengan kesabaran dalam memperjuangkan perintah Allah.

Dan kita juga harus belajar dari umat tersebut yang meskipun dengan pasukan yang lebih besar tapi mendapat kekalahan karena tidak bersabar dan berserah diri pada aturan dan kehendak Allah.

Maka inti ke-Islam-an kita ada berserah diri pada segala kehendak ArRohman. Ini buktinya.

1:20 harus dengan sabar = menang
1:2 harus dengan sabar = menang.
Tergantung kondisi.

Dan saksikanlah bahwa kami berserah diri pada Allah atas segala urusan.

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Ditulis dalam Quran | Leave a Comment »

Maryam Saudara Perempuan Harun?

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 22 April 2008

Permasalahan:

Dalam Surat 19-MARYAM-28, dinyatakan bahwa MARYAM, Ibu Yesus adalah SAUDARANYA HARUN dan selanjutnya dalam Surat 3-ALI IMRAN 36-37 dikatakan bahwa MARYAM, ibu Yesus tersebut diserahkan oleh ayahnya bernama IMRAN kepada ZAKARIA untuk dipelihara dan dibesarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi dan terlaksana, karena HARUN sesuai dengan sejarah adalah abangnya nabi Musa yang hidup kurang lebih 1500 tahun sebelum Yesus dilahirkan oleh MARYAM dan HARUN tersebut memang punya seorang adik perempuan yang kebetulan pula bernama MARYAM (Keluaran 12: 1-l6), dan ayah dari ketiga bersaudara ini namanya memang AMRAN (dalam lafaz bahasa Arab AL QUR’AN: IMRAN).

Pembahasan:

Q.19:27: Maka Maryam membawa anak itu (Isa as) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.” 28: “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” 29: “maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” 30: “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” 31: “dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;”” dan seterusnya ajaran Nabi Isa, seorang Nabi yang benar.

Orang-orang pada masa Maryam (ibu nabi Isa as) menyebut saudara Harun kepada beliau, karena Maryam terkenal sangat saleh seperti salehnya Nabi Harun as (menggunakan kutipan kalimat langsung, diucapkan oleh orang di sekitar Maryam). Dalam budaya kita juga sering ada istilah anak monyet, untuk menyebut anak yang nakal (ibunya tetap saja manusia), atau mbahnya setan untuk orang sangat jahat, anaknya Hulk untuk orang yang sangat kuat misalnya, tetap saja tidak ada hubungan darah dengan yang disebutkan itu, mbahnya Mozart untuk yang lihai main musik (tetap saja tidak ada hubungan darah dengan dia) dll. Anda tentu pasti tahu maksud kalimat langsung ‘saudara Harun’ tersebut. Apalagi jika pernah mempelajari kebiasaan Bani Israil masa itu, yang sering memakai kalimat perumpamaan seperti ini.
Ada juga kan yang itu, dipanggil “hai saudaranya Zainudin Mz” karena dia kelakuannya sama dengan Zainudin Mz. Ya, sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Zainudin Mz, kecuali dari nabi Adam. “Hai Saudaranya Ahmad Dahlan”.

Itu kalimat langsung dari orang-orang masa itu yang dikutip dalam Quran, Allah bermaksud memberitahukan hal itu pada nabi-Nya. Jadi tidak ada hubungannya dengan informasi dari sumber Kristen.

________________________

Ini ada pertanyaan:

“kenapa Isa berkata ia akan meninggal dan bangkit di kitab Maryam. Tapi ayat lain berkata Isa tidak meninggal melainkan digantikan orang lain dan kemudian diangkat ke surga? “

Q.3:55: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu perselisihkan padanya”. Kepada Aku-lah kembalimu.
Dalam surat 19 (Maryam) ayat 33, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Allah juga menjelaskan dalam Q.4:157, bahwa yang disalib dan dibunuh (oleh ahli kitab) adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka, dan sungguh mereka juga ragu-ragu tentang siapa yang mereka bunuh itu.

Q.4:156:Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), 157: dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Dan pada ayat 158, ditegaskan “Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Dalam surat 4 (An Nisa) tersebut, ayat berikutnya, 159, menjelaskan, “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.”

Tidak ada ayat yang perlu diragukan kawan, tidak ada yang tidak benar. Isa as memang akan mati seperti manusia yang lain, dan akan bangkit lagi pada hari pembalasan (setelah kiamat).

Soal ayat yang menjelaskan tidak mati disalib? Memang benar tidak mati di salib pada waktu itu.
Tapi mati juga akhirnya seperti manusia yang lain.

Jawabannya:
Ya tidak apa-apa… Isa memang bisa mati, tapi tidak mati dengan dan saat disalib itu. Apanya yang dibingungkan kawan?
Begitu menurut Quran.

Mudah sekali kan… Begini. Kasih contoh:
Saat Kerusuhan 1998, Amnan tidak mati, tapi diselamatkan oleh petugas.
Dalam kesempatan lain, Amnan berdoa, “Tuhan kami, Berilah kesejahteraan pada hidupku ini, dan berilah kesejahteraan pula pada saat aku mati”.

Amnan tetap akan mati, tapi tidak pada saat kerusuhan 1998.

Semoga bisa membantu. Wallahu ‘alam bishshawab.

Ditulis dalam Isa as, Quran | Leave a Comment »

Nasikh dan Mansukh

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 22 April 2008

Nasikh dan mansukh dalam Ajaran Allah itu memang ada. Sangat jelas bila mengerti fiqhul Quran.
Karena Allah menyesuaikan aturan-Nya dengan kondisi. Sebagai contoh kontrasnya adalah syariat pernikahan pada jaman nabi Adam dengan jaman nabi Musa, nabi Muhammad. Tentu berbeda.
Pada waktu selama nabi Muhammad menerima wahyu juga terjadi hal ini beberapa kali. Karena menyesuaikan umat pada waktu itu. Kita perlu mengetahui hal ini agar kita bisa menerapkan dengan tepat. Kebanyakan yang terakhir memang yang dipakai, tapi terkadang juga menyesuaikan keadaan. Misalnya perintah banyak sedekah jangan dijadikan dalil jika kita miskin. Demikian juga jika kita bukan orang miskin, tidak pantas menerapkan perintah berusaha dan bersabar pada orang miskin.

Allah telah memberikan ayat-ayat-Nya dalam Quran dengan sangat teliti sehingga tidak ada kalimat yang bertentangan, tapi saling melengkapi dan menjelaskan termasuk beberapa kalimat yang diulang. Bahkan untuk perintah yang prosesnya bertahap, setiap ayatnya tidak bertentang satu sama lain.
Salah satu larangan secara bertahap adalah minum minuman keras.
1), mudaratnya lebih besar dari manfaatnya, tapi tidak ada dikatakan masih boleh:
Q.2:219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”
2), setiap shalat jangan dalam keadaan mabuk, tapi tidak ada kata-kata diluar shalat boleh, sehingga setiap ayat ini bisa berlaku sepanjang jaman, bukan saat itu saja, dimana bangsa Arab yang terkenal pemabuk masih sangat berat untuk meninggalkan minuman keras kala itu.
Q.4:43. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.
3), minum minuman keras haram, perbuatan syaitan yang harus dijauhi.
Q.5: 90. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
Ini hanya contoh saja. Jika ada satu perintah atau larangan yang bertahap seperti ini, seperti juga shalat malam yang disunahkan oleh Allah, hukuman orang yang berzina, atau hal lain, mari kita pelajari bersama dengan tidak terburu-buru berolok-olok. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, yang membuat satu perintah dan larangan secara bertahap, tapi tidak ada pertentangan dalam kalimat-kalimatnya, kecuali saling melengkapi dan menjelaskan.

Atau dengan keterangan pada ayat tersebut, sampai Allah memberi jalan lain, lalu ada ayat yang melengkapi ayat tersebut untuk kasus yang sama. Tapi biasanya ayat pertama masih bisa diterapkan sesuai dengan keputusan hakim, misalnya hukuman bagi perbuatan keji dan zina.

Wallahu ‘alam

Ditulis dalam Quran | Leave a Comment »

Tentang PERANGILAH dalam Quran

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 22 April 2008

QS.2:191, QS.4:89, QS.4:91, QS.9:5, QS.2:190, QS.2:193, QS.4:76, QS.8:39, QS.9:12, QS.9:14, QS.9:29, QS.9:36, QS.9:123, QS.22:39, QS.49:9, QS.66:9.


QS.2:191, jangan mengusir jika tidak diusir, jangan membunuh jika tidak hendak dibunuh.

Q.2:190:Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
191: Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.
192: Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


QS.4:89: jangan menawan dan memerangi jika kamu tidak diperangi dan dipaksa untuk menjadi kafir.

Q.4:89: Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,
90: kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.


QS.4:91: jangan memerangi orang yang membiarkan dan tidak memerangi.

Q.4:91:Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman daripada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), mereka pun terjun ke dalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.
92:Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.


QS.9:5: jangan memerangi orang yang tidak melanggar perjanjian damai, lindungilah orang kafir yang minta perlindungan, pertahankan diri dari tangkapan dan kepungan musuh.
(Lihat kata-katanya dalam bahasa aslinya, kawan, semua dalam bentuk defensif, mempertahankan diri. Kalau mau belajar dari terjemahan saja, baca ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Sangat jelas tuh, orang musyrik saja wajib dilindungi kalau minta perlindungan)

Q.9:5: Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
6: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.


QS.2:190: Jangan perangi orang yang tidak memerangi, jika membela diri dalam memerangi pun, jangan melampai batas.

QS.2:193: jangan memusuhi orang yang tidak memusuhi.

Q.2:193: Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. , Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi) ,, kecuali terhadap orang-orang yang lalim.

QS.4:76: Jika orang kafir menyerang, jangan takut untuk berperang melawan mereka sekaligus untuk membela orang-orang lemah, wanita dan anak-anak.

QS.4:75 Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!“.
76: Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.
77: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.
78:Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?
79:Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

QS.8:39: tetap memakai kata qaatiluu, yang bermakna defensif (membela diri), bukan uqtuluu yang bermakna opensif (perangi), dan jangan perangi orang yang tidak menghalangi dari jalan Allah.

QS.8:36: Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,
37: supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.
38: Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”.
39:Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
40:Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.


QS.9:12: jangan memerangi orang yang tidak melanggar perjanjian damai, jika memerangi pun, hanya pemimpinnya yang diperangi.

Q.9:12: Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.
13:Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

QS.9:14: tetap memakai kata qaatiluu, yang bermakna defensif (membela diri), dan jika Allah memberikan jalan untuk menolong kita dari gangguan orang kafir, maka kerjakan perintah itu.

Q.9:14: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,
15:dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

QS.9:29: tetap memakai kata qaatiluu, yang bermakna defensif (membela diri), dan jangan perangi orang yang tidak hendak memadamkan agama Allah.

Q.9:29: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
30:Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
31: Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
32: Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.
33:Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

QS.9:36: jangan memerangi jika tidak diperangi, dan Allah beserta orang-orang yang bertakwa

Q.9:36: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

QS.9:123: tetap memakai kata qaatiluu, bukan uqtuluu.

Q.9:122: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
123: Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
128:Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
129: Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung”

QS.22:39: Ya…. ini lebih jelas lagi kawan. jangan memerangi jika tidak diperangi.

Q.22:39: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.
40:yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
41:(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

QS.49: 9: Jadilah orang yang mendamaikan, dan lindungilah orang yang teraniaya, serta berlaku adillah.

Q.49:9: Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

QS.66:9: ya…. ini malah menggunakan kata jaahidi (bantahlah, lawanlah pandangan, ingkarilah) makna jahada itu secara umum adalah bersungguh-sungguh dengan fisik, sedang ijtahid bersungguh-sungguh dengan fikrah, dan aghludh (tegas, keras, tidak mudah dipengaruhi)

Q.66:9: Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Wallahu ‘alam.
Semoga bermanfaat.

Ditulis dalam Agama, Quran | Leave a Comment »

Tuhan yang hak.

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 22 April 2008

Dalam bahasa Arab: رَبُّ
Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”(QS Al A’raf 7: 54)

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Ma’idah 5: 100)

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut…” (QS An Nahl, 16: 36)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisaa’, 4: 59)

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzriyat, 51: 56)

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah, 2: 156)

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.”(QS Asy Syura, 42: 21)

Q.38:65. Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.
66. Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Allah, Quran, Uncategorized | Leave a Comment »

Mengapa Quran turun dalam bahasa Arab

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 22 April 2008

Sai’id bin Jubair berkata: Orang-orang Qurais berkata: “Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan dengan bahasa ‘Ajam dan Arab?” Maka Allah menurunkan ayat “ … لَقَالُوا لَوْلا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ … (Q.41:44) berkenaan dengan peristiwa itu dan sebagai jawaban terhadap mereka, bahwa sekalipun Al Quran itu bukan dalam bahasa Arab, tentu mereka juga menolak dan meminta perincian lebih lanjut dengan bahasa ‘Ajam dan bahasa Arab. Lalu turunlah ayat berikutnya (Q.41:45), yang menerangkan bahwa apapun yang diturunkan oleh Allah, akan juga diperselisihkan oleh mereka sebagaimana kitab Taurat (Kitab Nabi Musa as) dahulu.

Q.41:44: Dan jika Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”.
45: Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya mereka terhadap Al Qur’an benar-benar dalam keragu-raguan yang membingungkan.

Ditulis dalam Hadist, Quran | Leave a Comment »

Apa engkau tahu yang semisal Isa?

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 22 April 2008

Al Hasan berkata: “Dua orang pastur Najran datang menghadap Rasulullah saw dan berkata salah seorang di antara keduanya “Siapakah ayah Isa?” Rasulullah saw tidak segera menjawab menunggu perintah Tuhannya. Lalu turunlah ayat … ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَليْكَ … sampai beberapa ayat berikutnya” (ayat 58 sampai 62, surat 3. Ali ‘Imran.

Ibnu Abbas berkata: “Ada segolongan Nasrani Najran datang menghadap Rasulullah saw termasuk di dalamnya pemimpin mereka dan wakilnya, lalu berkatalah mereka: “Mengapa engkau menyebut sahabat kami?”. Beliau menjawab: “Siapakah dia itu?” Mereka menjawab: “Isa, yang engkau sangka hamba Allah”. Lalu bersabdalah beliau: “Benar”. Maka berkatalah mereka: “Apa engkau tahu yang semisal Isa, ataukah engkau pernah diberi tahu tentang dia?” Kemudian mereka keluar dan pergi dari Rasulullah saw. Maka datanglah malaikat Jibril, lalu berkata: “Katakanlah kepada mereka bila mereka datang kepadamu, … إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ … sampai akhir ayat, untuk diturunkan kepada beliau.”

Al Arzaq bin Qais berkata: Uskup Najran dan wakilnya datang menghadap Nabi saw. Lalu Nabi saw menawarkan kepada kedua orang itu memeluk Islam. Maka berkatalah mereka: “Sesungguhnya kami sebelum engkau sudah muslim”. Nabi saw bersabda: “Kalian berdua telah berdusta, karena ada tiga hal yang menghalangi kalian masuk Islam, yaitu: Kalian mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Kalian makan daging babi. Dan kalian bersujud kepada berhala”. Kedua orang tadi bertanya: “Kalau demikian, siapakah ayah Isa?” [b]Pada saat itu Rasulullah saw tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Hingga Allah menurunkan ayat[b] … إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ… sampai … وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ …

Ayat-ayat yang turun saat itu adalah: surat 3. Ali ‘Imran:
58. Demikianlah, Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Quran yang penuh hikmah.
59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
60. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
61. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.
62. Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ditulis dalam Agama, Hadist, Isa as, Quran | Leave a Comment »

Kesaksian Sahabat bahwa Muhammad saw menerima wahyu

Ditulis oleh dahlanforum di/pada 22 April 2008

Anas bin Malik, ia berkata:
Bahwa Allah Taala menurunkan wahyu kepada Rasulullah secara beruntun menjelang wafat sampai beliau wafat, dan wahyu yang paling banyak diturunkan adalah pada hari kewafatan Rasulullah.

Umar berkata: Aku tahu di mana dan di hari apa ayat itu diturunkan serta di mana Rasulullah berada ketika ayat itu diturunkan. Ayat tersebut diturunkan di Arafah saat Rasulullah sedang wukuf di Arafah.

Aisyah berkata: Sesudah turun ayat ini, para sahabat meminta fatwa kepada Rasulullah tentang perempuan yatim yang berada dalam asuhan, lalu Allah menurunkan ayat: Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Alquran (juga memfatwakan) …

Barra’, ia berkata:
Dahulu, Jika orang-orang Ansar menunaikan haji, lalu mereka kembali (ke rumah mereka), mereka memasuki rumah mereka melalui pintu belakang. Kemudian seorang Ansar memasuki rumahnya melalui pintu depan, lalu hal itu dipertanyakan kepadanya, maka turunlah ayat: Bukanlah merupakan kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya.

Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. adalah orang yang paling suka berderma [dalam kebaikan], dan paling berdermanya beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpai beliau. Ia menjumpai beliau pada setiap malam dari [bulan] Ramadhan [sampai habis bulan itu], lalu Jibril bertadarus Al-Qur’an dengan beliau. Sungguh Rasulullah saw. adalah [ketika bertemu Jibril] lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilepas.”

Aisyah r.a. mengatakan bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada engkau?” Rasulullah saw. menjawab, “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku bagaikan gemerincingnya lonceng, dan itulah yang paling berat atasku. Lalu, terputus padaku dan saya telah hafal darinya tentang apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat berubah rupa sebagai seorang laki-laki datang kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya hafal apa yang dikatakannya.” Aisyah r.a. berkata, “Sungguh saya melihat beliau ketika turun wahyu kepada beliau pada hari yang sangat dingin dan wahyu itu terputus dari beliau sedang dahi beliau mengalirkan keringat” (Sahih Bukhari)

Ya’la pernah sekali bercerita pada `Umar tentang keinginannya melihat Nabi Muhammad menerima wahyu. Pada kesempatan lain ‘Umar memanggil dan ia menyaksikan Nabi Muhammad wajahnya kemerahan, bernapas sambil ngos-ngosan. Lalu tampak sembuh (dari gejala itu). (Sahih Muslim)

Al-Harith bin Hisham bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai padamu?” Beliau menjawab, “Kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu paling dahsyat yang sampai pada saya, kemudian lenyap dan saya dapat mengulangi apa yang dikatakan. Kadang-kadang Malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata padaku dan saya dapat memahami apa yang dikatakan.” (Sahih Bukhari)

Zaid bin Arqam ra berkata : Nabi SAW telah disihir oleh seorang laki-laki Yahudi, sehingga beliau SAW sakit selama beberapa hari. Maka datang Jibril as berkata : Seorang laki-laki Yahudi telah menyihir anda & telah mengikat beberapa buhul di sumur yang demikian & demikian, maka utuslah orang untuk mengambilnya! Maka Nabi SAW segera mengutus orang untuk mengambil buhul di dalam sumur tersebut & melepaskan semua ikatannya. Maka kata Zaid : Tiba-tiba nabi SAW berdiri seolah-olah baru beliau SAW baru lepas dari ikatan. Tapi beliau SAW tidak menyampaikan hal tersebut kepada Yahudi yang menyihirnya itu & tidak pernah pula berubah wajahnya ketika bertemu dengannya sampai Yahudi tersebut mati.

Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor. Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ….” “Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, …

Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR. Muslim)

Nabi Saw bertanya kepada malaikat Jibril As, “Wahai Jibril, tempat manakah yang paling disenangi Allah?” Jibril As menjawab, “Masjid-masjid dan yang paling disenangi ialah orang yang pertama masuk dan yang terakhir ke luar meninggalkannya.” Nabi Saw bertanya lagi,” Tempat manakah yang paling tidak disukai oleh Allah Ta’ala?” Jibril menjawab, “Pasar-pasar dan orang-orang yang paling dahulu memasukinya dan paling akhir meninggalkannya.” (HR. Muslim)

Ibnu Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. pernah didatangi malaikat ketika sedang beristirahat di Dzul Hulaifah kemudian dikatakan kepada beliau: Sesungguhnya engkau berada di tanah lapang yang penuh berkah. (Shahih Muslim No.2399)

Hadis riwayat Saad ra., ia berkata:
Pada perang Uhud aku pernah melihat di sisi kanan dan kiri Rasulullah saw. dua orang lelaki yang berpakaian putih sebelum dan sesudahnya aku tidak pernah melihat mereka lagi, yaitu malaikat Jibril dan Mikail. (Shahih Muslim No.4264)

Saya tulis ulang yang ini:
Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan. Sesungguhnya malaikat Jibril as. bertemu dengan beliau setiap tahun pada bulan Ramadan sampai selesai. Rasulullah saw. membaca Alquran di hadapannya. Saat Rasulullah saw. bertemu dengan malaikat Jibril, maka beliau adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan melebihi angin yang berhembus. (Shahih Muslim No.4268)

Usamah bin Zaid ra., ia berkata:
Aku pernah diberitahukan bahwa malaikat Jibril as. suatu kali mendatangi Nabi saw. ketika Ummu Salamah sedang berada di sisi beliau. Ia berkata: Lalu mulailah ia bercakap-cakap kemudian beranjak pergi. Lalu bertanyalah Rasulullah saw. kepada Ummu Salamah: Siapakah orang ini? Ummu Salamah menjawab: Ini adalah Dihyah. Ia melanjutkan: Lalu Ummu Salamah berkata: Demi Allah, aku sama sekali tidak menyangka dia kecuali sebagai dia (Jibril) sampai aku mendengar khutbah Nabi saw. yang mengabarkan berita kami. (Shahih Muslim No.4489)

Ibnu Abbas ra.:
Tentang firman Allah: Janganlah engkau gerakkan lidahmu tergesa-gesa untuk membaca Alquran. Ia berkata: Dulu ketika malaikat Jibril turun menyampaikan wahyu, Nabi saw. sering menggerakkan lidah dan bibir beliau (untuk mengulang-ulang agar tidak lupa). Hal itu membuat beliau merasa berat. Keadaan beliau seperti itu dapat dilihat. Lalu Allah berfirman: Janganlah engkau gerakkan lidahmu terburu-buru untuk membacanya dan ingin cepat “menguasainya”. Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkan di dadamu dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya, ikutilah bacaan itu. Kami menurunkannya, maka dengarkanlah baik-baik. Firman-Nya: Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya “Kami menjelaskannya melalui lidahmu”. Ketika malaikat Jibril mendatangi beliau (untuk memberi wahyu), maka beliau diam mendengarkan. Setelah Jibril pergi, beliau membacanya, sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah pada beliau. (Shahih Muslim No.679)

Ditulis dalam Hadist, Quran | Leave a Comment »