: Masjid, tak hanya menjadi tempat beribadah
Heri Ruslan
Sejatinya masjid tak hanya menjadi tempat beribadah bagi umat Islam . Menurut sejarawan J Pedersen dalam bukunya Arabic Book , pada masa keemasan Islam, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Di era kekhalifahan masjid merupakan tempat para sarjana dan ulama Muslim menyusun buku.
"Sebelum diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik. Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan," papar cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar. Masjid dan perpustakaan pada zaman kejayaan Islam tak bisa dipisahkan. Sebab, masjid juga memalinkan peran yang penting lainnya, yakni sebagai perpustakaan.
Kehadiran perpustakaan di dunia Islam juga berasal dari aktivitas keilmuan yang digelar di rumah Allah SWT. Menurut Pedersen, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub(perpustakaan).
Secara bahasa masjid berarti tempat sujud. Menurut Ensiklopedi Islam, masjid adalah suatu bangunan, gedung, atau suatu lingkungan yang berpagar sekelilingnya, didirikan secara khusus sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT, khususnya untuk mengerjakan shalat. Istilah masjid berasal dari kata sajada, yasjudu yang berarti bersujud atau menyembah.
Masjid berukuran kecil juga disebut mushala atau surau. Selain tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas Muslim. Sejak dahulu, umat islam menggelar berbagai macam aktivitas di masjid, seperti perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah, dan belajar agama. Dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.
Sepeninggal Rasulullah SAW, sejumlah pemimpin Musli berlomba-lomba mendirikan dan membangun masjid. Fungsi utama masjid yang saat ini mulai mengendur adalah sebagai tempat mendidik umat. Pada zaman dulu, di masjid anak-anak Muslim menimba ilmu agama. Bahkan, berawal dari masjid pula sejumlah universitas di era kejayaan Islam berawal.
Salah satunya adalah universitas tertua di dunia, yakni Universitas Al-Qarawiyyin (Jami’ah Al-Qarawiyyin) perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko – berawal dari masjid. Universitas pertama di dunia yang didirikan pada 859 M itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekedar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.
Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.
Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.
Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Demikianlah masjid berfungsi pada zaman keemasan.
Belum ada trackback.