: Spirit Pembebasan Ramadan

HIDUP ini ibarat pendakian, penuh perjuangan. Terkadang terantuk batu, terbentur pohon, terbelit semak belukar, tertusuk duri, bahkan berkali-kali terpeleset. Namun, betapapun babak belurnya, seorang pendaki senantiasa menyimpan harapan (raja’) akan mencapai puncak yang dituju, lalu kembali pulang dengan selamat. Gerak hidupAdanya hidup berarti adanya gerak. Dalam semboyan filsafat Yunani diungkapkan melalui semboyan ‘panta rhei’, terus bergerak. Begitulah manusia, sebagai makhluk yang dianugerahi potensi cipta, karsa, dan rasa, tentu saja akan terus-menerus bergiat, berkarya, dan bekerja hingga pada titik manusia harus takluk pada sunatullah, yakni kematian. Hidup dan kematian adalah wajah kembar bagi manusia. Adanya hidup berfungsi sebagai medium untuk menumpahkan segala potensi manusia dalam rangka perjuangan dirinya. Di dunia, manusia berjuang mati-matian, di tengah duka lara dan juga sukacita. Hubungan antarmanusia yang terbentuk bisa membawa kepada hal positif atau keberuntungan, tetapi juga bisa menyeret pada hal negatif atau merugi. Ada teori yang menyebut, semakin padat manusia di suatu wilayah, kejahatan semakin marak pula. Tetapi, di dalam kepadatan itu pula, sebenarnya manusia dapat menggapai kebaikan. Semua bergantung pada individu dalam mengelola kediriannya. Alquran mengingatkan, tidak ada yang dapat diunggulkan bagi manusia, kecuali apa yang dia usahakan untuk kebaikan secara individu. Individuasi menjadi panjatan untuk penataan diri, yang kemudian memadat dalam bentuk masyarakat. Begitulah, lalu terbangun kehidupan yang baik, damai, dan sakinah. Seorang mukmin yang tangguh tidak akan merasakan kesukaran yang berarti manakala menghadapi segala bentuk rintangan dan tantangan hidup. Sebabnya, dalam diri mukmin sejati, pastilah terhunjam sifat-sifat kebaikan (mahmudah) yang menjadi modalitas untuk resistensi sekaligus pengembangan diri. Seorang mukmin sudah tentu akan memegang sikap tawakal. Suatu sikap yang mempercayakan segala soal kepada Allah. Apa yang diupayakan, digeluti, atau dikerjakan, betapa pun gigihnya, akan tetap disandarkan pada kesadaran bahwa Allah-lah sang penentu akhir. Secara teologis, Allah diyakinkan sebagai penyebab pertama (illatul ‘ilal). Dari Allah lahir alam semesta beserta isinya, termasuk adanya manusia. Allah sebagai zat yang wajib adanya (wajib al-wujud). Sementara, kenyataan yang terjadi di dunia ini sifatnya masih kemungkinan wujudnya (mumkin al-wujud). Begitu pula, segala wujud yang mungkin adanya berarti mengandung kefanaan. Dari keyakinan inilah, tawakal menemukan sandaran rasionalitasnya. Bagi sufi, misalnya, anggapan bahwa kesembuhan dari penyakit lantaran obat atau dokter dipandang sebagai berdosa. Jelas bagi sufi, semua kesembuhan datang dari Allah, sedang obat atau dokter hanyalah alat (wasilah). Sikap tawakal digambarkan dalam Alquran Surah Ali Imran 159, yang berbunyi, "Apabila kamu berkeinginan terhadap sesuatu, bertakwalah kepada Allah." Seorang mukmin sejati juga pastilah akan selalu memegang sikap rida yang bermakna bahwa dia menerima apa pun yang ada. Dia akan menjadikan apa yang menimpanya sebagai wahana ekspresi kerelaan, ketenangan, dan istikamah dalam menjalani kehidupan ini. Jiwanya tidak mudah menggeliat hanya lantaran apa yang menimpanya tidak mengenakkan. Sebaliknya, hatinya ditenteramkan, didamaikan, dan dikuatkan, sehingga musibah menjadi berkah dan rahmah baginya. Sikap rida akan bergandengan erat dengan syukur. Apa pun yang dirasakan seorang mukmin akan dihadapi dengan sukacita dan justru akan menambah rasa terima kasihnya kepada Allah. Alquran menyebutkan, "Barang siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia mensyukuri dirinya." Memegangi secara teguh sikap tawakal, rida, dan syukur memang bukanlah perkara yang mudah. Setiap orang tahu sikap-sikap tersebut merupakan sikap yang mulia dan perlu menjadi pegangan hidup. Namun, ketika dihadapkan pada kondisi yang nyata, sering kali idealisme menjadi hilang dan manusia menjadi lupa. Sesungguhnya, dalam keadaan nyata itulah ketangguhan manusia benar-benar diuji. Tidak seperti pelajaran teori di sekolah, tawakal, rida, dan syukur adalah sikap praksis yang butuh pelatihan langsung dan pembuktian, dan puasa menjadi medan pengetesan, apakah manusia dalam satu bulan itu mampu menampilkan sikap tersebut. Baru kemudian terbitlah Idul Fitri yang menjadi simbol bagi puncak kesadaran kefitrian kembali. PembebasanSemangat Islam adalah semangat pembebasan yang integratif dengan spirit kemanusiaan. Bulan Ramadan pun merupakan korporasi elastis yang tentu saja membutuhkan interpretasi yang tidak tunggal serta hanya loyal pada kebakuan semata. Dalam iktikaf, mencari lailatulkadar, manusia menemukan fitrahnya kembali, yaitu sebagai makhluk privat-antroposentris dan juga sosial-antroposentris. Di sini, fitrah menghajatkan sebuah dimensi ekologis yang kental dengan dimensi transhumanitas untuk menggapai keadilan yang hakiki. Dalam semangat fitrah terpapar etika untuk mencapai kesalehan secara massif, tidak serta-merta transendental juga tanpa pengebirian terhadap kesucian hak manusia lainnya. Kemiskinan, kebodohan, serta borjuasi kehidupan telah menggurita di berbagai lapisan masyarakat. Kaum muslim hanya menjadi sinterklas yang berkompetisi di depan publik dengan pemberian hadiah pada saat momen religius. Di luar itu, basis kebajikan manusia kembali mengakar kepada teosentrisme, sebuah hal yang lagi-lagi dilogikakan demi kepentingan Tuhan yang sebenarnya. Seorang muslim yang baik semestinya tidak mengukur pahala sebagai standardisasi pola kerja kebajikannya, tapi menggunakan realitas sosial sebagai parameter kesuksesan kebajikan. Spirit semacam ini akan menghalau kesenjangan sosial, sikap serbacuek dengan ekosistem sekitarnya. Jika semangat pembebasan telah berurat berakar pada setiap diri manusia, fitrah manusia sebagai pembawaan sejak lahir akan kembali menemukan harmonisasinya di tengah kosmos. Kehidupan yang merupakan pancaran aura ketuhanan dengan potensi azali manusia akan saling bersahutan demi membangun masyarakat yang adil. Oleh Said Aqiel Siradj Ketua Umum PBNU

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.