: Masjid, tak hanya menjadi tempat beribadah

Heri Ruslan

Sejatinya masjid tak hanya menjadi tempat beribadah bagi umat Islam . Menurut sejarawan J Pedersen dalam bukunya Arabic Book , pada masa keemasan Islam, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Di era kekhalifahan masjid merupakan tempat para sarjana dan ulama Muslim menyusun buku.

"Sebelum diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik. Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan," papar cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar. Masjid dan perpustakaan pada zaman kejayaan Islam tak bisa dipisahkan. Sebab, masjid juga memalinkan peran yang penting lainnya, yakni sebagai perpustakaan.

Kehadiran perpustakaan di dunia Islam juga berasal dari aktivitas keilmuan yang digelar di rumah Allah SWT. Menurut Pedersen, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub(perpustakaan).

Secara bahasa masjid berarti tempat sujud. Menurut Ensiklopedi Islam, masjid adalah suatu bangunan, gedung, atau suatu lingkungan yang berpagar sekelilingnya, didirikan secara khusus sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT, khususnya untuk mengerjakan shalat. Istilah masjid berasal dari kata sajada, yasjudu yang berarti bersujud atau menyembah.

Masjid berukuran kecil juga disebut mushala atau surau. Selain tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas Muslim. Sejak dahulu, umat islam menggelar berbagai macam aktivitas di masjid, seperti perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah, dan belajar agama. Dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Sepeninggal Rasulullah SAW, sejumlah pemimpin Musli berlomba-lomba mendirikan dan membangun masjid. Fungsi utama masjid yang saat ini mulai mengendur adalah sebagai tempat mendidik umat. Pada zaman dulu, di masjid anak-anak Muslim menimba ilmu agama. Bahkan, berawal dari masjid pula sejumlah universitas di era kejayaan Islam berawal.

Salah satunya adalah universitas tertua di dunia, yakni Universitas Al-Qarawiyyin (Jami’ah Al-Qarawiyyin) perguruan tinggi yang berada di kota Fez, Maroko – berawal dari masjid. Universitas pertama di dunia yang didirikan pada 859 M itu bermula dari aktivitas diskusi yang digelar masjid itu. Komunitas Qairawaniyyin masyarakat pendatang yang berasal dari Qairawan, Tunisia di kota Fez menggelar diskusi itu di emper Masjid Al-Qarawiyyin. Laiknya masjid yang lain, Al-Qarawiyyin tak sekedar berfungsi sebagai tempat beribadah belaka.

Umat Islam di kota Fez pada abad ke-9 M juga menjadikannya sebagai tempat untuk membahas perkembangan politik. Lambat-laun materi yang diajarkan dan dibahas dalam ajang diskusi itu berkembang mencakup berbagai bidang, tak cuma mengkaji Alquran dan Fikih saja.

Wacana yang dibahas dalam diskusi di emper Masjid Al-Qarawiyyin itu pun meluas hingga mengkaji tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi hingga musik. Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu membetot perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Demikianlah masjid berfungsi pada zaman keemasan.

: Mengenal Tiga Jenis Hati Manusia

Oleh: Edi Muhtarom

Hati secara fisik berarti organ badan berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut. Gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu yang berfungsi untuk mencerna lemak. Selama sari makanan yang diserapnya sehat, akan sehat pula fisik hati itu. Kemudian secara psikis, hati bisa bermakna sebagai sesuatu yang terkandung di dalam tubuh dan menjadi tempat segala perasaan batin; senang, sedih, suka, benci, sabar, dendam, rasa pengertian, dsb.

Suasana hati ( mood) itu dapat mempengaruhi perilaku atau penampilan diri. Hati yang senang akan menampakkan keceriaan, hati yang sedih akan menampakkan kemurungan, hati yang benci akan menampakkan kesinisan bahkan bengis, dsb. Di sinilah perlu bimbingan bagi psikis hati. Dienul Islam –yang mengajarkan pola hidup sehat untuk santapan jasmani dan pola hidup takwa sebagai santapan rohani– membagi hati ke dalam tiga jenis.

Pertama, qalbun mayyitatau hati yang mati. Refleksi dari hati yang mati adalah sifat sombong dan meremehkan kebenaran. Inilah perilaku yang tercermin pada orang kafir. Ketertutupan dan kekerasan hatinya tidak akan bisa menerima cahaya kebenaran Islam.

Jenis hati yang kedua adalah qalbun maridl. Inilah hati yang sakit. Merasa sedang mencari jalan selamat, tapi sebenarnya celaka. Misalnya, ibadah diwarnai bid’ah atau me-nyelewengkan ayat-ayat Alquran menjadi mantra untuk pemenuhan hawa nafsu belaka.

Sifat munafik termasuk hati yang sakit ini. Sebagaimana firman Allah, yang artinya: ”Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman’. Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok’.” (QS Al-Baqarah [2]: 14).

Ketiga, qalbun salim atau hati yang selamat. Ia selalu condong pada kebenaran dengan hanya mengikuti ajaran Islam berdasarkan Alquran dan hadis. Firman Allah SWT, yang artinya: ”Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata: ‘Kami mendengar dan kami taat’. Dan mereka itulah orangorang yang beruntung.” (QS An-Nur [24]: 51).

Dari uraian singkat di atas, mari kita introspeksi: di manakah posisi hati kita? Bertekadlah ‘pindah ke lain hati’ atau ‘hijrah hati’ — dari qalbun mayyitdan qalbun maridlke qalbun salim– untuk mendapat keridoan Allah SWT.

: Adab I’tikaf

I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah sunah yang dicontohkan Rasulullah SAW

Bulan suci Ramadhan 1431 H tak lama lagi akan memasuki 10 hari terakhir. Untuk mengisi hari-hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW memilih untuk beri’tikaf di masjid. Diriwayatkan dari Aisyah RA, ”Nabi SAW selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau…” (HR Bukhari-Muslim).

I’tikaf merupakan salah satu sunah Nabi SAW di bulan Ramadhan. Agar i’tikaf yang dilakukan berbuah terampuninya dosa-dosa yang telah dilakukan, seorang Muslim hendaknya menjaga dan memperhatikan adab-adab dan sunahnya. Lalu apa saja tata cara yang penting diperhatikan oleh seorang Muslim saat beri’tikaf?

Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitabnya Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah, mengungkapkan beberapa adab yang perlu dijaga dan diperhatikan dalam beri’tikaf. Beberapa adab beri’tikaf itu antara lain:

Pertama, niat yang benar.
Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaklah seseorang meniatkan i’tikaf yang dilakukannya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, semata-mata hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT dan menghidupkan sunah Rasulullah SAW.

Kedua, I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Sebagaimana disebutkan di atas, i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah sunah yang dicontohkan Rasulullah SAW. ”Boleh juga ber’tikaf di selain waktu itu, namun yang paling afdal adalah i’tikaf pada bulan Ramadhan,” papar Syekh Sayyid Nada.

Ketiga, i’tikaf di Masjid Jami’.
Menurut Syekh Sayyid Nada, tidak sah seseorang beri’tikaf di rumahnya. ”Bahkan, ia wajib ber’itikaf di masjid sebagaimana dicontohkan Nabi SAW,” ujar ulama terkemuka itu. Allah SWT berfirman dalam surah Albaqarah ayat 187, ”…Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber’itukaf dalam masjid…”

Berdasarkan ayat itu, kata Syekh Sayyid Nada, i’tikaf hanya boleh dilakukan di masjid. Bahkan, hendaknya di masjid jami’, sehingga ia tak terpaksa keluar untuk melaksanakan shalat Jumat.

Dari Aisyah RA, ”Sunah bagi orang yang beri’tikaf adalah tak menjenguk orang sakit, tak menyaksikan jenazah, tak mendatangi wanita, tak menyetubuhinya, tidak keluar untuk sutu kepentingan kecuali yang memang harus dia lakukan, tak ber’tikaf kecuali puasa, dan tak beri’tikaf kecuali di masjid jami.” (HR Abu Dawud).

Keempat, I’tikaf di dalam tenda atau kubah (semacam tenda) di masjid.
Menurut Syekh Sayyid Nada, i’tikaf di dalam tenda atau kubah akan membantu orang ber’itikaf untuk ber-khalwat dengan Rabbnya, bersendiri, dan tidak menyia-nyiakan waktu berbicara dengan orang lain. Hal itu, kata dia, dilakukan Rasulullah SAW.

Dari Aisyah RA, dia berkata, ”Rasulullah jika ingin ber’itikaf, beliau mengerjakan shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya. Suatu kali beliau ingin beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadahan, lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar didirikan kemah, maka dipancangkanlahnya…” (HR Bukhari dan Muslim).

Kelima, tak keluar masjid tanpa ada kepentingan darurat.
Orang yang beri’tikaf hanya boleh keluar dari masjid untuk buang hajat atau keperluan mendesak lainnya. Hal itu berdasarkan hadis dari Aisyah yang telah disebutkan pada poin ketiga.

Keenam, tak menyetubuhi istri atau mendatanginya.
Berdasarkan hadis dan surah Albaqarah ayat 187, orang yang beri’tikaf tak diperbolehkan menyetubuhi istrinya.

Ketujuh, bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak menyia-nyiakan waktu.
Bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak menyia-nyiakan waktu merupakan tujuan awal i’tikaf. Orang yang beri’tikaf hendaknya memfokuskan diri untuk beribadah dan mencari Lailatul Qadar yang dijanjikan dalam Alquran lebih baik dari seribu bulan.

Memasuki hari kesepuluh terakhir, Rasulullah SAW kian bersungguh-sungguh beribadah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim disebutkan, ”Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Menurut Syekh Sayyid Nada, yang dimaksud dengan mengencangkan kain sarung adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak mendatangi istri-istrinya karena kesungguhan beliau dalam beribadah.

”Wajib atas seorang yang beri’tikaf agar memanfaatkan setiap waktu dan kesempatannya untuk beribadah, berdoa, merendahkan diri kepada Allah, membaca Alquran, emohon ampun, berzikir, mengerjakan shalat, bertafakur (berpikir), dan bertadabur (merenung).

”Dengan semua itu, orang yang beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan berhak mendapatkan janji Allah SWT dan pahala-Nya, yakni keluar dari tempat i’tikaf dalam keadaan diampuni dosa-dosanya,” papar Syekh Sayyid Nada. N heri ruslan/sumber:Ensiklopedi Adab Islam terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i

: Menggapai Derajat Mental Malaikat

Oleh Dr A Ilyas Ismail MA

Ibadah puasa merupakan sarana latihan untuk pengembangan diri. Ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya Fiqh al-Shiyam, memandang puasa Ramadhan sebagai lembaga pendidikan par-excellent (madrasah mutamayyizah) yang dibuka oleh Allah SWT setiap tahun. Siapa yang mendaftar dan mengikuti “perkuliahan” dengan baik sesuai petunjuk Islam, ia akan lulus ujian dengan predikat “sukses besar”. Karena, tak ada keuntungan yang lebih besar ketimbang meraih ampunan Tuhan dan bebas dari siksa neraka.

Di antara hikmah paling penting ibadah puasa, bagi al-Qaradhawi, adalah pencucian atau peningkatan kualitas diri (tazkiyyat al-nafs). Puasa diharapkan dapat meninggikan kualitas jiwa dan mentalitas manusia sehingga ia menjadi manusia yang benar-benar tunduk dan menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Inilah potret manusia bertakwa yang ingin dicapai melalui ibadah puasa.

Dalam pemikiran Islam, jiwa atau mental (al-nafs) memiliki empat tingkatan mulai dari yang paling rendah hingga paling tinggi. Pertama, mental tumbuh-tumbuhan (nafs al-nabat). Wilayah kerja (domain) mental tumbuh-tumbuhan adalah makan dan minum. Manusia dengan mental ini tentu tidak dapat menjalankan ibadah puasa.

Kedua, jiwa binatang (nafs al-hayawan). Domain jiwa binatang adalah gerak, harakah (motion), memangsa, dan seksualitas. Jiwa binatang tidak mengenal rambu-rambu hukum. Yang kuat memangsa dan menerkam yang lemah. Inilah yang dinamakan hukum rimba. Manusia dengan mental ini juga tak dapat melaksanakan ibadah puasa.

Ketiga, jiwa manusia (nafs al-insan). Domain jiwa manusia adalah berpikir dan berprestasi. Jiwa ini jauh lebih tinggi dari dua jiwa terdahulu. Tapi, bukan tanpa kelemahan. Dalam berpikir dan mencapai prestasi, jiwa manusia sering diliputi penyakit sombong (kibr), serakah (al-thama`), serta dengki (al-hasad), dan iri hati (al-hiqd wa al-hasad).

Keempat, jiwa atau mental malaikat (nafs al-malakut). Domain mental ini adalah kebenaran dan kepatuhan yang tinggi kepada Allah SWT tanpa reserve. “Penjaganya ialah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS Al-Tahrim [66]: 6).

Mental malakut, seperti dipaparkan di atas, merupakan mental yang paling tinggi. Ibadah puasa sesungguhnya dimaksudkan agar manusia memiliki semangat dan jiwa malakut ini. Ini tidak bermakna bahwa manusia harus bertransformasi (merubah bentuknya) menjadi malaikat. Tidak. Tapi, transformasi dalam arti peningkatan kualitas diri dengan semangat kebenaran (tahaqquq) dan pengabdian (ta`abbud) yang tinggi kepada Allah SWT. Wallahu a`lam.

: Berbagai Cara Mengajari Anak Puasa

Dalam jajaran 12 bulan setahun, Ramadhan adalah bulan paling penuh berkah, paling banyak menyimpan keutamaan, paling sarat dengan kandungan ibadah dan paling berlimpah keistimewaannya. Maka, bulan ini layak disebut dengan bulan yang penuh misteri dan keajaiban.

Kalau menilik sisi-sisi keutamaannya, sebenarnya klimaks berbagai keajaiban itu berpangkal dari dua sisi terpenting:
- Dari sisi keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri.
- Dari sisi berbagai jenis ibadah yang terkandung di dalamnya.
- Di bulan Ramadhan inilah berkerumun beragam jenis ibadah, mulai dari puasa dan qiyamul lail atau shalat Tarawih, sebagai bagian terpentingnya, hingga ibadah-ibadah sunnah seperti Itikaf, banyak bersedekah, memberi makan sesama orang yang berbuka puasa, dan, masih banyak lagi ibadah-ibadah lain, yang diisyaratkan secara khusus, atau masuk dalam cakupan ibadah-ibadah yang disunnahkan.

Butuh Pelatihan

Untuk merengkuh pelbagai keistimewaan bulan Ramadhan, ada semacam pelatihan yang harus dilakukan setiap muslim dan muslimah. Menahan lapar dan dahaga secara apik dan nyaman, perlu pelatihan semenjak dini. Demikian juga, menjalankan ibadah-ibadah sunnah di bulan suci, seperti shalat Tarawih berjamaah, tak akan mudah dilalui secara indah dan menyenangkan, kecuali melalui pelatihan kejiwaan. Dan itu akan lebih optimal, bila sudah dibiasakan semenjak usia kanak-kanak.

Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.[Shahih Sunan Abu Dawud (466)]

Untuk menjadi ahli shalat, ternyata seorang mukmin harus mendapatkan pendidikan shalat secara amat dini. Di sini, peran serta orang tua amat menentukan jejak keberhasilan tersebut. Maka, demikian juga dengan berpuasa di bulan Ramadhan, atau ibadah-ibadah lain di bulan suci itu.

Orangtua, hendaklah membiasakan anak-anaknya untuk mengerjakan puasa. Hal itu untuk melatih mereka mengerjakan ibadah dengan baik. Umar rodhiyallohu anhu berkata kepada seorang yang mabuk pada bulan Ramadhan,
Celaka engkau, anak-anak kami saja berpuasa! lalu Umar mencambuknya. [Diriwayatkan oleh al-Bukhaari juz II : 692]

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, Qatadah dan az-Zuhri bahwa mereka berpendapat, Anak-anak diperintahkan shalat apabila ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Dan disuruh berpuasa apabila sudah mampu.

Itu terkait puasa. Demikian pula dengan shalat malam. Bulan Ramadhan disebut sebagai syahru shiyaam (bulan puasa) dan juga syahru qiyaam (bulan shalat malam). Karena, di bulan inilah kaum muslimin, tua maupun muda, berbondong-bondong melaksanakan shalat malam secara berjamaah, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah shalat Tarawih.

Seperti puasa, kebiasaan shalat Tarawih berjamaah harus ditanamkan pada anak-anak, semenjak dini sekali. Bukan saja kebiasaan untuk menyelesaikan sekian belas rakaat shalat Tarawih hingga satu bulan penuh, tapi juga kebiasaan menikmati shalat tersebut.

Allah berfirman,
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu,(Al-Baqarah : 45)

Bagaimana Melatih Anak-anak Berpuasa?

Bila semenjak kanak-kanak kaum muslimin sudah dianjurkan berlatih berpuasa, lalu bagaimana orang tua mulai melatih anak-anaknya?

Ada banyak cara klasik yang diterapkan orang-orang tua kita, dan selama itu tidak berlawanan dengan prinsip-prinsip syariat, tidak ada nash yang melarangnya, maka setiap upaya itu adalah baik, karena masuk dalam kategori pembiasaan beribadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Sebagian orang tua kita dulu kadang mengajak anak-anak mereka berpuasa sebatas kemampuan mereka. Kita tidak sebut puasa, karena puasa punya definisi tersendiri, tapi bisa kita sebut menahan makan dan minum. Sebagian kita dilatih orang tua untuk menahan diri dari makan dan minum mungkin hingga tengah hari saja. Lalu di hari-hari kemudian, waktu diperpanjang menjadi mendekati waktu Ashar. Begitu seterusnya sehingga tanpa sadar kita telah mampu berpuasa hingga tenggelam matahari.

Cara seperti itu sah-sah saja. Karena yang diajak membiasakan diri adalah anak-anak yang belum mukallaf, belum aqil baligh, sehingga berpuasa bagi mereka belumlah diwajibkan. Tapi pembiasaan secara perlahan itu sesuai dengan kaidah syariat yang kerap mendidik secara bertahap, seperti tahap pengharaman khamr atau minuman keras di awal Islam dulu.

Akan tetapi, setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ibarat membiasakan orang berhenti merokok. Sebagian bisa melakukannya secara bertahap, tapi ada pula yang justru harus secara spontanitas. Kondisi mental, emosional, dan karakter kejiwaan sangat menentukan cara terbaik mana yang dipilih untuk menanamkan pembiasaan itu secara aman dan terkendali.

Ar-Rubayyi binti Muawwidz rohimahulloh bercerita tentang pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan,
Kemudian kami mengerjakan puasa (bulan Ramadhan), dan kami menyertakan anak-anak kami berpuasa. Kami memberikan kepada mereka mainan dari bulu. Apabila salah seorang dari mereka menangis meminta makanan kami memberikan mainan itu kepadanya hingga waktu berbuka tiba. [Diriwayatkan oleh al-Bukhaari juz II : 692 dan Muslim juz II : 798 nomor 136 dalam kitab ash-Shiyam.]

Ini salah satu cara lain yang bisa dipilih untuk tujuan tersebut. Juga sangat klasik, di mana seorang anak dibuat lupa atau tak menyadari kondisi laparnya. Untuk masa sekarang ini, bisa digunakan games yang aman, yang isinya edukatif, agar anak-anak tersebut menghabiskan waktunya tanpa merasakan lapar. Saat datang waktu shalat, ajak mereka ke masjid. Dan bila lelah, biarkan mereka tidur. Bangun tidur, boleh saja membiarkan mereka kembali bermain sehingga datang waktu Maghrib.

Mungkin sebagian akan menukas, Lho, bukankah dalam berpuasa kita dianjurkan banyak beribadah? Kenapa pula membiarkan anak-anak banyak bermain seperti itu?

Ada dua versi jawaban sederhana. Pertama, itulah yang diterapkan sebagian ulama as-Salaf dahulu, dengan dasar, bahwa tujuan utama di sini adalah melatih dan membiasakan anak-anak berpuasa. Itu tujuan besar, melatih melaksanakan kewajiban, bahkan juga salah satu rukun Islam. Maka, bila untuk tujuan tersebut, anak-anak dibiarkan melakukan hal-hal yang mubah asal tidak berlebihan tentu boleh-boleh saja, bahkan bagus. Membiarkan anak-anak mengerjakan yang mubah agar terbiasa mengerjakan yang wajib. Ini sesuai dengan kaidah syariat Islam yang ada.

Kedua, anak-anak tak dapat dipisahkan dari dunia bermain. Dalam kondisi wajar tidak berpuasa saja, sebaiknya anak-anak dibiarkan bermain. Sedangkan Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam saja membiarkan Aisyah bermain dengan teman-teman perempuannya padahal ia sudah menjadi istri beliau saat itu. Itu menunjukkan bahwa Islam menoleransi anak-anak dengan dunia bermain mereka, asalkan tak berlebihan.

Maka, bermain-main seperti itu tentu berbeda bila dilakukan anak-anak, dibandingkan dengan bila dilakukan orang dewasa. Bagi kita yang sudah aqil baligh, sudah dewasa, tentu bermain-main di sini bisa menjadi lagha, hal yang sia-sia, yang meskipun tidaklah haram tapi tidak layak dilakukan di bulan suci Ramadhan di mana setiap kita dianjurkan memperbanyak ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.

Cara lain yang bisa ditempuh dan ini adalah cara terbaik dalam lintas kaidah-kaidah Islam dengan memberi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak.

Artinya, tunjukkanlah keistimewaan berpuasa melalui sikap dan perilaku keseharian. Bila anak-anak melihat orang tuanya terlihat jauh lebih penyabar saat berpuasa, lebih taat kepada Allah, lebih banyak beribadah, lebih mampu melimpahkan kasih sayangnya pada anak-anak mereka, lebih banyak bersedekah, sering mengajak orang lain berbuka di rumah, dan setumpuk kebajikan-kebajikan lain yang bernilai istimewa di mana anak-anak, maka semua itu bisa menjadi dorongan dan motivasi hebat bagi anak-anak untuk meneladani orang tua mereka. Betapa Islam adalah keteladanan belaka. Itulah yang kita yakini,

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
(al-Baqarah : 143)

: Menahan Diri

Oleh Prof Dr Asep S Muhtadi

Ramadhan datang setiap tahun untuk mengingatkan kita agar memperbanyak perenungan dan pembelajaran. Tujuannya, untuk mempertajam sikap solidaritas dan meningkatkan kesadaran akan eksistensi sebagai manusia yang wajar, agar tidak terjebak pada sikap mempertuhan diri dan memperbudak yang lainnya.

Ramadhan memiliki pesan sosial untuk kita renungkan, terutama ketika masyarakat dan bangsa ini tengah menghadapi berbagai tantangan dan ketidakseimbangan dalam hidupnya. Ketidakseimbangan hidup itu berakibat pada munculnya berbagai pelanggaran sosial, ketidakadilan, permusuhan, eksploitasi hak-hak asasi, kompetisi yang tidak sehat, dan lain sebagainya.

Tantangan modernitas dewasa ini tidak hanya menantang untuk berpikir kritis dan bersikap dewasa, tapi juga dapat menggiring pada pola-pola kehidupan manusia yang tidak manusiawi: manusia yang berakal cerdas tapi berhati kering, manusia yang berbadan sehat tapi bermental sakit, manusia yang berwawasan luas tapi berperasaan sempit, manusia yang memahami alam tapi diperbudak alam, manusia-manusia yang merasa kesepian di tengah keramaian, manusia-manusia yang miskin di tengah tumpukan harta.

Beberapa gejala lainnya yang mencerminkan kehidupan tanpa akhlak pada beberapa waktu terakhir ini adalah munculnya sikap mementingkan diri sendiri dengan mengeksploitasi hak-hak orang lain. Atas nama demokrasi orang berani berbuat anarkis, atas nama keadilan orang tega memperkosa kebebasan orang lain, dan atas nama hukum tidak sedikit orang memandang lumrah sikap dan perilaku menindas dengan menyatakan sesuatu bukan yang sesungguhnya.

Dalam perspektif pesan universal puasa Ramadhan, di antara faktor penyebab merebaknya berbagai krisis di negeri ini, adalah karena ketidakmampuan menahan diri. Menahan diri untuk sanggup merasakan lapar dan dahaga; lapang dalam menghadapi berbagai godaan; tidak korupsi, dan optimistis dalam menempuh masa depan, tanpa harus melarutkan diri dalam kubangan kemungkaran.

Puasa merupakan proses transendensi untuk menetralisasi berbagai sifat buruk manusia. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, dia amat kikir." (QS 70: 19-21).

Lihatlah, para pelaku yang menjadi sumber terjadinya sejumlah krisis di negeri ini. Mereka yang diduga atau bahkan telah terbukti melakukan tindak korupsi, perusak lingkungan, provokator tindak kekerasan, penipu, perampok, dan lain sebagainya, semuanya ada di depan mata kita.

Mungkin mereka juga sama-sama melaksanakan puasa selama bulan Ramadhan. Bahkan, mereka paling awal mengeluarkan zakat, paling besar berinfak untuk pembangunan masjid, dan tampak paling peduli menyapa fakir miskin.

Tapi, mereka telah mengingkari pesan utama puasa, yaitu kesanggupan menahan diri. Kesanggupan menahan diri menjadi pintu masuk ruang kemanusiaan yang hakiki. Sementara kegagalan menahan diri berarti telah membuka lebar pintu hilangnya martabat kemanusiaan.

: Spirit Pembebasan Ramadan

HIDUP ini ibarat pendakian, penuh perjuangan. Terkadang terantuk batu, terbentur pohon, terbelit semak belukar, tertusuk duri, bahkan berkali-kali terpeleset. Namun, betapapun babak belurnya, seorang pendaki senantiasa menyimpan harapan (raja’) akan mencapai puncak yang dituju, lalu kembali pulang dengan selamat. Gerak hidupAdanya hidup berarti adanya gerak. Dalam semboyan filsafat Yunani diungkapkan melalui semboyan ‘panta rhei’, terus bergerak. Begitulah manusia, sebagai makhluk yang dianugerahi potensi cipta, karsa, dan rasa, tentu saja akan terus-menerus bergiat, berkarya, dan bekerja hingga pada titik manusia harus takluk pada sunatullah, yakni kematian. Hidup dan kematian adalah wajah kembar bagi manusia. Adanya hidup berfungsi sebagai medium untuk menumpahkan segala potensi manusia dalam rangka perjuangan dirinya. Di dunia, manusia berjuang mati-matian, di tengah duka lara dan juga sukacita. Hubungan antarmanusia yang terbentuk bisa membawa kepada hal positif atau keberuntungan, tetapi juga bisa menyeret pada hal negatif atau merugi. Ada teori yang menyebut, semakin padat manusia di suatu wilayah, kejahatan semakin marak pula. Tetapi, di dalam kepadatan itu pula, sebenarnya manusia dapat menggapai kebaikan. Semua bergantung pada individu dalam mengelola kediriannya. Alquran mengingatkan, tidak ada yang dapat diunggulkan bagi manusia, kecuali apa yang dia usahakan untuk kebaikan secara individu. Individuasi menjadi panjatan untuk penataan diri, yang kemudian memadat dalam bentuk masyarakat. Begitulah, lalu terbangun kehidupan yang baik, damai, dan sakinah. Seorang mukmin yang tangguh tidak akan merasakan kesukaran yang berarti manakala menghadapi segala bentuk rintangan dan tantangan hidup. Sebabnya, dalam diri mukmin sejati, pastilah terhunjam sifat-sifat kebaikan (mahmudah) yang menjadi modalitas untuk resistensi sekaligus pengembangan diri. Seorang mukmin sudah tentu akan memegang sikap tawakal. Suatu sikap yang mempercayakan segala soal kepada Allah. Apa yang diupayakan, digeluti, atau dikerjakan, betapa pun gigihnya, akan tetap disandarkan pada kesadaran bahwa Allah-lah sang penentu akhir. Secara teologis, Allah diyakinkan sebagai penyebab pertama (illatul ‘ilal). Dari Allah lahir alam semesta beserta isinya, termasuk adanya manusia. Allah sebagai zat yang wajib adanya (wajib al-wujud). Sementara, kenyataan yang terjadi di dunia ini sifatnya masih kemungkinan wujudnya (mumkin al-wujud). Begitu pula, segala wujud yang mungkin adanya berarti mengandung kefanaan. Dari keyakinan inilah, tawakal menemukan sandaran rasionalitasnya. Bagi sufi, misalnya, anggapan bahwa kesembuhan dari penyakit lantaran obat atau dokter dipandang sebagai berdosa. Jelas bagi sufi, semua kesembuhan datang dari Allah, sedang obat atau dokter hanyalah alat (wasilah). Sikap tawakal digambarkan dalam Alquran Surah Ali Imran 159, yang berbunyi, "Apabila kamu berkeinginan terhadap sesuatu, bertakwalah kepada Allah." Seorang mukmin sejati juga pastilah akan selalu memegang sikap rida yang bermakna bahwa dia menerima apa pun yang ada. Dia akan menjadikan apa yang menimpanya sebagai wahana ekspresi kerelaan, ketenangan, dan istikamah dalam menjalani kehidupan ini. Jiwanya tidak mudah menggeliat hanya lantaran apa yang menimpanya tidak mengenakkan. Sebaliknya, hatinya ditenteramkan, didamaikan, dan dikuatkan, sehingga musibah menjadi berkah dan rahmah baginya. Sikap rida akan bergandengan erat dengan syukur. Apa pun yang dirasakan seorang mukmin akan dihadapi dengan sukacita dan justru akan menambah rasa terima kasihnya kepada Allah. Alquran menyebutkan, "Barang siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia mensyukuri dirinya." Memegangi secara teguh sikap tawakal, rida, dan syukur memang bukanlah perkara yang mudah. Setiap orang tahu sikap-sikap tersebut merupakan sikap yang mulia dan perlu menjadi pegangan hidup. Namun, ketika dihadapkan pada kondisi yang nyata, sering kali idealisme menjadi hilang dan manusia menjadi lupa. Sesungguhnya, dalam keadaan nyata itulah ketangguhan manusia benar-benar diuji. Tidak seperti pelajaran teori di sekolah, tawakal, rida, dan syukur adalah sikap praksis yang butuh pelatihan langsung dan pembuktian, dan puasa menjadi medan pengetesan, apakah manusia dalam satu bulan itu mampu menampilkan sikap tersebut. Baru kemudian terbitlah Idul Fitri yang menjadi simbol bagi puncak kesadaran kefitrian kembali. PembebasanSemangat Islam adalah semangat pembebasan yang integratif dengan spirit kemanusiaan. Bulan Ramadan pun merupakan korporasi elastis yang tentu saja membutuhkan interpretasi yang tidak tunggal serta hanya loyal pada kebakuan semata. Dalam iktikaf, mencari lailatulkadar, manusia menemukan fitrahnya kembali, yaitu sebagai makhluk privat-antroposentris dan juga sosial-antroposentris. Di sini, fitrah menghajatkan sebuah dimensi ekologis yang kental dengan dimensi transhumanitas untuk menggapai keadilan yang hakiki. Dalam semangat fitrah terpapar etika untuk mencapai kesalehan secara massif, tidak serta-merta transendental juga tanpa pengebirian terhadap kesucian hak manusia lainnya. Kemiskinan, kebodohan, serta borjuasi kehidupan telah menggurita di berbagai lapisan masyarakat. Kaum muslim hanya menjadi sinterklas yang berkompetisi di depan publik dengan pemberian hadiah pada saat momen religius. Di luar itu, basis kebajikan manusia kembali mengakar kepada teosentrisme, sebuah hal yang lagi-lagi dilogikakan demi kepentingan Tuhan yang sebenarnya. Seorang muslim yang baik semestinya tidak mengukur pahala sebagai standardisasi pola kerja kebajikannya, tapi menggunakan realitas sosial sebagai parameter kesuksesan kebajikan. Spirit semacam ini akan menghalau kesenjangan sosial, sikap serbacuek dengan ekosistem sekitarnya. Jika semangat pembebasan telah berurat berakar pada setiap diri manusia, fitrah manusia sebagai pembawaan sejak lahir akan kembali menemukan harmonisasinya di tengah kosmos. Kehidupan yang merupakan pancaran aura ketuhanan dengan potensi azali manusia akan saling bersahutan demi membangun masyarakat yang adil. Oleh Said Aqiel Siradj Ketua Umum PBNU

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.